36: Death Eaters

285 48 0
                                        

Penyihir jahat you-know-who menyerang beberapa orang kementrian yang sedang bertugas di Islington, dia tidak sendirian, saksi melihatnya bersama sekumpulan orang berjubah hitam dengan topeng.

Baru-baru ini diketahui sekumpulan pengikut tersebut dijuluki Pelahap Maut, mereka mengincar petinggi Kementrian Sihir. Membantai dengan kejam dan menculik mereka satu persatu. Apakah ini artinya Kementrian Sihir bisa diambil alih kapan saja? Bagaimana nasib dunia sihir yang akan datang?

"Berhenti membaca omong kosong itu, Mary." Sirius mengambil koran dari tangan Mary, meremasnya menjadi bulatan besar.

"Ini tidak terdengar seperti omong kosong lagi, Sirius.. They're real..!" Sahut Peter resah.

"Mereka cuma sekumpulan orang-orang tidak jelas, Pete, sama seperti Snivellus!" James melempar bulatan koran ditangannya ke kepala Snape.

Bug

Snape memegangi kepalanya sejenak, memandang benci ke arah James yang tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Mary menghela nafas panjang, "Sorry Snape." Ucapnya mewakili sang teman, tentunya diacuhkan oleh Snape.

"Aku khawatir ini akan mempengaruhi kita." Lanjut Mary meletakkan kepalanya diatas meja.

"Never, hal seperti ini akan segera selesai, Mary. We have Dumbledore."

Remus menepuk pelan kepala Mary, "James right, we have Dumbledore. Tidak akan ada yang bisa melukai kita selama kita ada disini."

Gadis itu berdecak resah, kekhawatirannya tidak bisa hilang seberapa kuat ia berusaha tetap positive thinking. "Bagaimana dengan orang-orang diluar sana? Your parents? My father? It's not a joke, Remus."

"I never thought it's a joke.. Tapi aku yakin ayahmu adalah penyihir yang hebat, Mary." Diam-diam Remus menggigit lidahnya sendiri, ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan.

Mary benar, mungkin Hogwarts adalah tempat teraman bagi mereka, tapi bagaimana jika mereka berada diluar Hogwarts? Bagaimana dengan keluarga mereka? Apalagi akhir-akhir ini tujuan penyihir jahat itu diketahui, mereka akan membunuh siapapun yang terlahir dari muggle, dan Hope Lupin, ibu Remus sendiri adalah seorang muggle.

Membayangkan wanita yang paling dicintainya itu diincar oleh sesuatu yang mengerikan dan mungkin membuatnya menghilang dari hidup Remus selamanya membuat hati Remus bagai tercabik-cabik oleh kuku-kukunya sendiri.

"Remmy..?" Panggilan Mary menyadarkan Remus dari lamunan menakutkannya.

"Everything will be alright.." Bisik Remus kembali tersenyum seperti biasanya.

Mary menyadari Remus juga khawatir, ia menyenderkan kepalanya di bahu Remus sambil memeluk lengan sahabatnya itu. Berharap ketakutan mereka mereda saat keduanya berbagi rasa takut itu sendiri.

"Yeah, everything will be alright.."

...

Dua ikan kecil berenang berputar-putar didalam akuarium bulat diatas meja Slughorn, Francis dan Brown, keduanya masih sangat sehat disana. Slughorn bahkan menambahkan hiasan pada akuarium bulat itu, membuat Lily senang karena sang Professor menyukai hadiah dari mereka.

"Mereka bahkan lebih terlihat hidup daripada kita." Celetuk Mary menatap dirinya sendiri di cermin di ruang kerja Slughorn. Ia dan Lily ada disana untuk mengumpulkan sekaligus membantu Slughorn menata tugas.

Kantung mata, bibir kering dan rambut yang berantakan tidak disisir. Menyedihkan. Ini semua karena tugas yang terus menerus diberikan para Professor tanpa henti.

Lily terkekeh, "Kau sangat stress karena persiapan OWL ya?"

"Ini baru persiapan saja tapi sudah membuat kita bagai mayat hidup, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita tahun depan, Lily."

"You'll be fine, jika kau se-stress itu karena terus menerus belajar, kau bisa mencoba pergi ke Hogsmeade berdua dengan RJ."

"Itu ide terburuk yang pernah kau berikan padaku, Lily..."

Menyadari temannya benar-benar lelah membuat Lily kasihan juga dan tidak meneruskan niatnya mengejek Mary, ia menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya erat, "Sometimes.. When you down.. You just need.. A hug!"

Mary terkejut dengan pelukan tiba-tiba Lily, namun sama sekali tidak menolaknya. Ia membalas pelukan Lily sama eratnya, nampaknya apa yang diucapkan Lily benar, pelukan benar-benar membuat bebannya terasa berkurang.

"Oh.. Thank you so much.."

Lily melepas pelukannya ketika dirasa cukup, "Feel better, Mary?"

"So much better.." Balas Mary tersenyum lagi.

Kedua gadis itu tertawa bersama, kembali membereskan beberapa perkamen di rak Slughorn hingga Professor-nya itu datang membawa beberapa cemilan.

"Kalian selalu meringankan bebanku, Lily, Mary. I don't know what else can I do to thanks both of you."

"Trust me, Professor, semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kami sudah cukup menjadi rasa terimakasihmu." Mary memasukkan sebuah biskuit kedalam mulutnya, memakannya dengan lahap.

"Mary benar, Sir. Ilmu yang anda berikan sudah lebih dari cukup untuk kami." Lily ikut menyantap cemilan.

"Kalian benar-benar anak-anak yang baik, aku berharap kalian tidak akan pernah mengalami hal-hal buruk didalam hidup ini.." Kalimat yang keluar dari mulut Slughorn terdengar tulus, namun juga terdengar seperti kalimat penyesalan. Seakan ia sedang menyesali sesuatu yang ia lakukan di masa lalu, yang akan berakibat sangat fatal.

"Kami juga berharap begitu untukmu, Sir. Mengingat banyaknya bahaya akhir-akhir ini, kami harap kau selalu aman disini." Balas Lily nampaknya langsung terpikirkan berita yang ramai akhir-akhir ini.

Slughorn terdengar tidak senang dengan ucapan Lily, tidak tersinggung namun tampak raut ketakutan di wajahnya, "Yeah, Hogwarts memang tempat paling aman didunia. Kita semua akan aman disini, mereka tidak akan pernah bisa masuk kesini."

"Mereka siapa, Sir?" Mary refleks bertanya karena benar-benar tidak tahu siapa yang Slughorn maksud.

Slughorn terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang, menatap beberapa foto siswa yang ia pajang di dinding. Meskipun begitu pertanyaan Mary tidak dijawab, pak tua itu malah pergi lagi entah kemana, meninggalkan ruangannya beserta dua siswi tahun keempat didalamnya.

"Kenapa Professor terlihat aneh?"

"Bukan hanya aku yang berpikir begitu kan, Lily?"

Lily menaikkan bahunya tidak tahu, kembali memakan cemilan dengan tenang, tidak ingin terlalu kepo dengan urusan Professornya. Berbanding terbalik dengan Mary yang kemudian berjalan ke arah dinding dimana terdapat beberapa bingkai foto disana, itu adalah foto Slughorn dengan anggota Slug Club-nya.

Mary tahu foto mana yang tadi diperhatikan dari jauh oleh Slughorn, 3 foto bagian kiri bawah. Ia memperhatikannya, melihat wajah-wajah yang asing, hanya ada 1 wajah yang bisa ia kenali karena ia pernah bertemu di Knockturn Alley saat liburan. Betul, Bellatrix Black.

Mary membaca keterangan nama dibawah foto-foto tersebut, yang meskipun tidak ia kenal baik, tapi ia yakin ada hubungannya dengan sikap Slughorn yang tidak biasa.

"Avery, Bellatrix Black, Lucius Malfoy.."











Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang