32: Peace Under The Stars

324 46 1
                                        

"Apa yang kau lakukan disini, Remmy?" Tanya Mary terkejut melihat Remus juga ikut menyelinap keluar malam itu. Seingatnya James dan Sirius tidak mengajak Remus dan Peter tadi.

"Kalian sangat tidak adil," Remus menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya yang duduk menekuk, "Kalian menyelinap keluar tanpa mengajakku dan Peter."

"Besok malam kau harus bertransformasi, you need to sleep, Rem."

"Begitu juga denganmu dan mereka, Mary."

Mary duduk disamping Remus, menatap langit malam di menara Astronomi yang sepi. Tidak ada jadwal pelajaran malam itu, tentu saja ruangan itu sepi.

"Kami selalu bisa tidur di kamar terkunci, kau benar-benar tidak perlu mengkhawatirkan kami."

"Kenapa kau ikut mereka keluar malam ini?" Tanya Remus penasaran, itu adalah alasan utamanya diam-diam mengikuti ketiga temannya keluar. Ia bahkan meninggalkan Peter yang sudah terlelap bagai beruang hibernasi.

Mary terdiam sambil menatap langit, "Aku hanya ingin melihat bintang, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat bintang-bintang yang indah."

"Kau punya banyak sekali hal yang kau sukai ya?"

"Mh-hm.. Aku suka langit saat berwarna biru muda, aku juga suka langit malam penuh bintang.." Tiba-tiba Mary teringat ucapan Lily tentang kepercayaan Muggle terhadap bintang jatuh, "You know, Lily bilang bagi Muggle, bintang jatuh bisa membuat permohonan kita dikabulkan."

Kepala Remus terangkat, ia segera memperhatikan setiap bintang di langit. Berharap ada salah satu dari mereka yang jatuh, sayangnya tidak ada bintang jatuh yang terlihat olehnya. Hal ini sukses membuat gadis disampingnya tertawa.

"Apa yang akan kau minta saat bintang jatuh, Remmy?"

"Can I ask anything I want?"

"Maybe yes, Muggle percaya apapun itu akan dikabulkan.."

"Tidak mungkin untuk membuatku kembali normal, bukan?"

Mary terdiam, entah kenapa merasa bersalah karena ia telah memberikan sebuah harapan kecil yang mustahil untuk Remus tentang kondisinya.

"I'm just kidding-" Remus kembali tersenyum, tidak ingin membebani pikiran Mary, "But if a star fall, aku akan meminta kebahagiaan untuk kita semua.."

"Kenapa tidak untuk dirimu sendiri? Orang lain pasti juga hanya akan meminta kebahagiaan untuk dirinya sendiri."

"Karena kebahagiaanku tidak berasal dari diriku sendiri, Mary.."

"Lalu dari siapa?" Tanya Mary, diabaikan oleh Remus. Bocah itu malah mengajak Mary melihat bintang dengan teleskop yang ada disana.

"Here, lihatlah dari sini."

Mary sedikit menunduk, memposisikan pandangannya kedalam teleskop.

"Woah.."

Langit malam yang cerah membuat bintang-bintang terlihat jelas, senyum bahagia merekah di wajahnya. Pipi gadis itu lama kelamaan memerah karena senyum yang tidak kunjung hilang, bagaikan bunga mawar yang mekar ditengah musim semi. Diam-diam Remus bertanya-tanya, apakah memang tadi ada bintang yang jatuh? Karena permintaannya benar-benar dikabulkan.

"Bintang apa yang paling kau sukai, Rem?" Tanya Mary menyadarkan Remus dari lamunan.

Bocah laki-laki itu menggeleng pelan, "I don't really know about stars."

Mary memintanya melihat bintang yang disukai gadis itu lewat teleskop. Sebuah bintang yang sangat terang terlihat seperti titik kecil cahaya yang indah diatas sana. Jauh lebih terang dibanding bintang-bintang lainnya dalam area yang sama.

"Rasi bintang Canis Major, itu pernah kita pelajari sebelumnya dikelas ini."

"Aku mengingatnya, tapi aku tidak terlalu mengerti. Kenapa kau menyukainya, Mary?"

Mary kembali melihat dengan teleskop, binar kagum terlihat jelas di matanya. Senyumannya masih belum pudar. "Aku menyukai bintang paling terang disana, bintang terindah yang pernah aku lihat.."

"Apakah bintang itu memiliki nama?" Tanya Remus sambil menyingkap sedikit rambut Mary, tidak ingin rambut gadis itu menutupi pandangannya ke bintang yang paling ia sukai.

"Yeah, bintang itu punya nama yang akan selalu kita ingat."

"What is that?"

"Sirius. That's star name is Sirius."

...

Rem kereta tua itu diinjak oleh sang masinis, tepat di Stasiun London. Ini adalah perhentian para siswa yang mulai hari ini akan menikmati liburan musim panas kenaikan kelas.

Wajah-wajah lesu para pemain Quidditch Gryffindor terlihat keluar dengan langkah lunglai, RJ, Sirius, James dan banyak lagi memasang ekspresi yang sama. Mereka kalah dari Ravenclaw di pertandingan final 2 minggu lalu, meskipun mereka mengalahkan Slytherin sih.

"I'll see you soon, all of you." James jadi yang pertama mengucapkan kalimat itu karena Fleamont telah menjemputnya, bocah berkacamata itu juga masih memiliki suasana hati yang buruk akibat kekalahannya.

Tidak lama kemudian, Peter juga dijemput, menyisakan Mary, Remus dan Sirius yang terlihat seperti anak-anak malang kurang perhatian orang tua. Lily, Marlene dan Daisy? Mereka tidak terlihat semenjak Mary memasuki kereta di stasiun Hogsmeade, mungkin saja mereka sudah pulang.

"Kau menunggu adikmu?" Tanya Mary membuka obrolan, memecahkan keheningan aneh diantara mereka.

"Aku menunggu jemputan, jika dia tidak dijemput itu bukan urusanku, tapi jika aku tidak dijemput aku akan sangat bahagia."

"You know you can't visit my home, right? Orang tuaku belum tahu apa-apa tentang kita." Tolak Remus bahkan sebelum Sirius mengutarakan niatnya. Ia tahu Sirius berniat pulang kerumahnya atau rumah Mary. Namun dia tidak bisa membiarkan Sirius dirumahnya saat ia belum bertransformasi bulan ini, Hope dan Lyall tidak tahu bahwa temannya ini sudah tahu.

Sirius bergidik geli, "Godric's sakes, Remus.. Kau mengatakannya seolah-olah kita punya hubungan terlarang. Itu menggelikan!"

"Jika aku yang mengatakannya apakah itu juga akan terdengar menggelikan?"

"Oh, I don't know. Cobalah, Mary."

Kening Remus berkerut, memperhatikan perilaku tidak wajar kedua kawannya.

"You can't visit my home.. Ayahku belum tahu apa-apa tentang kita, Sirius.." Mary mengulang ucapan Remus tadi membuat Sirius tertawa terbahak-bahak.

"Oh, Mary.. Kau bisa tenang karena aku sendiri yang akan memberitahu ayahmu.." Anak sulung keluarga Black itu mengedipkan sebelah matanya membuat Remus ingin muntah. Meskipun begitu kedua kawannya itu masih melanjutkan drama mereka.

"Bagaimana jika ayahku tidak setuju?"

Kali ini Sirius meraih tangan Mary dan mencium punggung tangannya, "Look at me, Mary. Tidak ada siapapun yang bisa menolak ketampanan ini, bahkan ayahmu sekalipun."

"Merlin's beard, sekarang kau yang terdengar menggelikan, Sirius!"

Mary dan Sirius tertawa terbahak-bahak setelah membuat drama mereka sendiri, sementara itu Remus memijit kepalanya pening. Bahkan Mary menjadi tidak waras jika sudah dekat dengan teman-temannya.






....
Siapapun yang pernah bilang Remus itu yang paling waras, you're right, Remus juga lebih waras dari Mary.


Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang