Remus turun dari taksi dan langsung berlari secepat yang ia bisa ke mansion megah yang terlihat didepan mata, mengutuki dirinya sendiri yang tidak bisa ada disana sehari sebelumnya. Hari paling menyedihkan di hidup Mary sekaligus hari pemakaman pria yang selalu dikagumi Remus bertepatan dengan bulan Purnama.
Kalian tahu apa artinya itu, untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Remus dia merasakan benci yang teramat sangat pada dirinya sendiri yang tidak bisa berada disamping Mary kemarin.
Sementara itu di sudut lain mansion, seorang gadis bersandar lemah di pojok kamarnya. Darah mengotori tangannya yang berusaha menghentikan cairan itu keluar dari luka di lengannya. Bodoh, ceroboh, tidak berguna, kata-kata semacam itu terus terputar di pikirannya. Padahal ia sudah berjanji akan baik-baik saja, tapi nyatanya tidak. Dia sama sekali tidak baik-baik saja setelah kehilangan Benedict.
Entah sudah hari yang keberapa ini, mungkin hari kedua? Atau hari ketiga setelah hari itu? Sinar matahari pun tidak bisa terlihat karena ia menutup semua pintu dan jendela kamarnya.
Matanya kering, perutnya lapar, tenggorokannya serak dan tubuhnya sangat lemah. Dan Sirius masih setia menunggu didepan pintu kamarnya seperti orang bodoh, seakan dia akan melakukan hal-hal yang berbahaya.
"Kau pasti tidak jadi bangga setelah melihatku seperti ini kan, Dad?" Mary berbicara sambil menatap keatas, ia tahu kedua orang tuanya sedang memperhatikannya dari atas sana.
"Aku iri sekali melihat kalian akhirnya bisa bersama, setidaknya bawa aku juga bersama kalian."
Gadis itu menghela nafas kasar, menyadari ia sudah mulai gila. Ia tahu banyak orang menunggunya diluar pintu kayu besar itu, ia bisa mendengar suara Sirius yang mendengkur tidur kelelahan juga suara Fleamont-Euphemia yang berbincang dengan Morwick.
James, Lily, Marlene dan Daisy? Ia sendiri yang mengusir mereka, meminta Euphemia dan Morwick menyuruh mereka kembali ke Hogwarts. Mereka punya hidup mereka sendiri dan Mary tahu itu, ia tidak mau merepotkan siapapun. Sebenarnya Sirius juga, tapi si gondrong menyebalkan itu terlalu keras kepala, ia tidak pernah bergerak kecuali saat Mary terdengar bergerak dari dalam kamarnya.
Rasa perih di lengannya semakin menjalar, darahnya sudah berhenti- bahkan membeku- tapi rasa perih di hatinya membuatnya mengabaikan semua itu. Mary mengantuk, tapi ia tidak mau tertidur lagi, 2 malam ini ia melihat Benedict dan Lilith memarahinya didalam mimpi. Menyebalkan. Mereka yang meninggalkannya tapi mereka juga yang marah saat ia kacau seperti ini.
Mata Mary tertuju pada album foto hadiah ulang tahun dari Remus diatas laci kamarnya, benda itu berdebu, hampir satu semester tidak disentuh. Nafasnya dibuang kasar, kakinya mulai berdiri lagi, mengambil album itu untuk sekedar dilihat.
Halaman pertama berisi foto Benedict dan Lilith saat muda, mereka terlihat sangat romantis. "She really do look likes me, ataukah aku yang mirip dengannya?"
Halaman-halaman selanjutnya adalah foto keluarga mereka yang sedikit, Mary masih sangat kecil disana, usianya mungkin 1-7 tahun. Hanya foto-foto ini yang akan mengingatkan dia bahwa dia punya keluarga. Mata Mary kembali memanas, air mulai keluar dari keduanya, hampir membasahi album foto ditangan.
"Mum.. Dad.. Aku kesepian.." Ia kembali terdiam menangis meskipun ia yakin tidak ada lagi tenaga tersisa dalam tubuhnya.
Dulu saat kematian Lilith, ia masih punya Benedict di sisinya, yang selalu menjaga dan memastikan ia baik-baik saja meskipun sang ayah selalu sibuk. Sekarang Benedict sudah menyusul Lilith, ia benar-benar merasa sendirian, tidak akan ada lagi yang menjaga dan terus berada di sisinya.
"I'm so lonely..."
Setelah tangisannya kembali reda, jemari Mary membuka halaman selanjutnya dimana tidak ada lagi foto keluarga. Benedict tidak pernah lagi mengajaknya berfoto setelah kematian Lilith. Namun apa yang Mary lihat selanjutnya membuat gadis itu terdiam, sesuatu yang hangat bisa ia rasakan di dadanya yang sesak 3 hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
