Timeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin.
...
"Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?"
"Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
Hawa dingin pagi itu terasa berbeda, tidak hanya karena pemandangan luar jendela kaca tertutup embun, namun juga karena kejadian malam itu masih terngiang di kepala.
Madam Pomfrey mengoleskan luka-luka Snape dengan beberapa ramuan berbeda, setelah itu beberapa luka besar juga harus ditutup dengan perban. Dan tentu saja, Severus tidak sadarkan diri, harus begitu setelah Poppy memberinya ramuan bius.
"Luka-lukanya tidak dalam, don't worry, dia tidak akan terinfeksi lycanthropy."
Helaan nafas lega keluar dari Lily dan Mary, itu adalah kepastian yang paling mereka tunggu sejak tadi malam. Keheningan di Hospital Wings kembali terganggu dengan suara langkah James yang berjalan cepat memasuki tempat itu.
"Mary."
Tidak perlu kata, hanya dengan tatapan mata James, Mary tahu apa artinya. Remus sudah sadar, ia sudah bangun. Kembali sebagai Remus.
Mary bimbang, haruskah ia menghampiri Remus sekarang? Haruskah ia memberinya waktu?
"Pergilah." Suara lirih Lily membuat sang kawan menatapnya ragu, namun gadis berambut merah itu menganggukkan kepalanya pelan sebagai isyarat agar Mary mengikuti kata hatinya saja dan pergi menghampiri Remus.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti."
"I know, jangan khawatirkan itu. Pergilah, dia membutuhkanmu."
"Baiklah."
Mary berjalan keluar bersama James, melangkah secepat yang mereka bisa menuju Gryffindor's dorm. Segera setelah Remus selesai bertransformasi semalam, James menggendongnya yang tidak sadarkan diri kembali ke dalam kastil.
Dan Sirius? Dia juga terluka, parah, tapi mungkin rasa bersalahnya jauh lebih parah hingga ia mengurung dirinya sendiri di kamar. James sama sekali tidak ingin berbicara dengannya dan Remus.. Mary tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Remus setelah ia tahu apa yang terjadi.
Hati Mary terasa berat, setelah semua yang selama ini ia lakukan untuk membuat Remus bahagia, untuk membuatnya menyadari betapa berharganya ia, semua itu hancur dalam semalam.
"Jika kau rasa kau tidak bisa menanganinya, maka berikan saja dia waktu untuk sendirian." Ucap James pelan, membukakan pintu kamar Remus untuk Mary.
Perlahan kakinya melangkah memasuki ruangan kecil itu, kamar Remus dan Peter. Namun hanya Remus yang mereka lihat sekarang, Peter sadar situasi dan mengerti bahwa ia harus berada di kamar lain hingga kapan tidak ada yang tahu.
"Remus.." Panggil James pelan, memperhatikan sang kawan yang duduk lemas di pojok ruangan, menutupi wajahnya sendiri yang malu dengan sosok dirinya.
Remus terduduk, nafasnya memburu dan air mata tidak kunjung berhenti mengalir dari pelupuk matanya. Tangannya yang dikotori darah kering yang bukan miliknya membuatnya takut dan jijik pada dirinya sendiri. Kenyataan bahwa segala hal ini terjadi karena sahabatnya sendiri membuat semuanya semakin tidak dapat diterima.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.