"1..... 2..... 3..... 4..... 5..... 6..... 7..... 8....."
Suara seseorang yang sedang menghitung angka satu sampai delapan terdengar menggema di sebuah ruangan gelap. Ruangan itu terlihat seperti perpustakaan dengan banyak lemari membentuk labirin. Menutupi pandangan Mary terhadap siapapun atau apapun yang ada disana selain dirinya.
"Who is that?! Apakah ada orang lain disini?!"
"1.... 2.... 3.... 4.... 5.... 6.... 7.... 8...."
Hitungannya menjadi sedikit lebih cepat, Mary mulai berlari berusaha menggapai sumber suara itu.
"Siapapun itu..! Please answer me..!"
"1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... 8..."
Hitungannya menjadi semakin cepat dan entah kenapa jantung Mary berdetak kencang, rasa takut menyeruak kedalam dirinya bersamaan dengan langkah yang ia ambil mencari sumber suara.
"Please...! Beri aku jawaban!"
"1.. 2.. 3.. 4.. 5.. 6.. 7.. 8..!"
"Stop! Hentikan! Siapapun itu hentikan hitungannya!"
Gertakan di hitungan kedelapan yang semakin cepat membuat Mary semakin takut, siapapun pemilik suara itu, ia seakan memperingatkan Mary untuk segera menemukannya sebelum hitungannya berakhir.
Ia berlari kesana kemari ditengah kegelapan, melihat kesekelilingnya berharap ia menemukan sesuatu, menemukan sumber suara hitungan yang tidak jelas apa maksudnya.
"1 2 3 4 5 6 7 8.."
"Stop!!! Stop!!! Stop!!!"
Mary akhirnya terjatuh dan berusaha sekuat mungkin menutupi telinganya, meringkuk gemetar saat sekali lagi hitungan itu menghantui dirinya ditengah kegelapan.
" 1 2 3 4 5 6 7 8!!!"
"NOOOOO!!!"
"Mary!" Teriak Lily mengguncang tubuh kawannya itu.
Kedua mata Mary terbuka, nafasnya tersendat-sendat seakan ia baru saja berlarian menghindari sesuatu yang sangat mengerikan. Lily membantunya untuk duduk dan mengambilkan segelas air.
"Are you okay?"
"What's happening to me, Lily?" Tanya Mary mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.
"Kau gemetar dalam tidurmu, kau terus mengatakan 'stop' dan aku berusaha membangunkanmu.. Apa kau bermimpi buruk?"
Mary terdiam sejenak setelah meminum segelas air, mimpi itu adalah mimpi paling aneh sekaligus paling menyeramkan yang pernah ia alami. Hanya ada dirinya sendiri, dan itu yang membuatnya paling menyeramkan.
Bagian terburuknya adalah dia sendiri tidak mengerti maksud mimpi itu.. Hitungan 1 sampai 8 masih menjadi misteri yang bahkan terus menghantuinya hingga ia membuka mata.
"Aku memimpikan hal yang aneh.. Dan sedikit menyeramkan."
"Mimpi seperti apa, Mary?"
Mary tersenyum, tidak ingin membuat Lily makin banyak pikiran dengan menceritakan mimpinya yang aneh, "Aku hanya bermimpi sendirian di tempat yang gelap seperti labirin."
Lily menghela nafas panjang, masih khawatir, "You know, terkadang mimpi merupakan pertanda. Tapi jika mimpimu seperti itu, aku harap itu hanya bunga tidur biasa."
"Aku yakin ini hanya bunga tidur biasa, Lily. Maaf telah mengganggu tidurmu."
"Don't apologize to me, ini sudah pagi dan memang sudah waktunya untuk bangun. Bersiaplah, kita punya kelas ramuan dan ramalan siang ini."
...
Thewizardnews kembali memberitakan pergerakan penyihir jahat yang namanya semakin dikenal oleh orang-orang. The dark Wizard Voldemort. Bahkan meskipun setiap orang mengetahui namanya sekarang, tidak ada yang berani menyebutnya karena takut akan akibat yang mungkin diterima nanti.
Ketika setiap siswa saling bertukar pikiran dan rumor lain yang mereka tahu tentang berita hangat itu, Mary bersama Lily dan Snape berjalan bersama ke kelas ramuan. Meskipun masih tidak akrab dengan Snape, Mary selalu belajar setiap siangnya bersama di perpustakaan karena ajakan Lily.
Professor dalam kelas ramuan saat ini sudah sangat tua, jika bisa Mary perkirakan mungkin sekitar 80 tahun-an dan rumornya beliau akan segera pensiun. Sudah kelima kalinya Mary menjalani kelas itu, namun tidak ada yang berarti hingga Mary mempertanyakan keampuhan ramalan sang Professor. Di kelas terakhir, Professornya bilang Mary akan terikat dengan makhluk seperti anjing besar dan itu benar-benar aneh.
"Selamat datang kembali anak-anak, hari ini kalian akan mempelajari caranya membaca masa depan lewat bola kristal. Aku sudah menyiapkan bola kristal dan masing-masing dari kalian akan berpasangan untuk membaca apa yang kalian lihat.."
Mary menatap ke sekeliling, Lily sudah bersama Marlene, James bersama Sirius dan Remus bersama Peter.
"Marianne!" Panggil Alice mengisyaratkan Mary duduk bersamanya.
"Oh, Alice, kau benar-benar penyelamatku.. Thank you."
"Justru aku yang bersyukur karena kau bisa duduk bersamaku, aku sama sekali tidak bisa membaca ramalan.."
Professor wanita itu memulai kelasnya setelah semuanya mendapatkan pasangan. Dia memberitahu cara-cara melihat kedalam bola kristal yang menurut Mary jauh lebih sulit daripada membaca daun teh.
"Lihat dengan benar.. Bayangkan dirimu masuk kedalam kabut yang ada didalam sana.. Rasakan dengan mata batinmu.. Hanya dengan begitu kau akan melihatnya.."
"You know what I see here, Sirius?" Bisik James menyipitkan matanya.
"What is it, James?"
"Aku melihat Snape terbalik diatas pohon!"
James dan Sirius berusaha sekuat mungkin menahan tawanya, tapi tetap saja suara mereka terdengar oleh yang lain.
"Mr. Black, Mr. Potter, kalian harus bisa serius or you'll get tragic ending in this class." Professor memperingatkan mereka membuat mereka mau tidak mau diam.
"I hope they're really get tragic ending in life." Ujar Wilkes disetujui oleh teman-temannya membuat Mary menatap kawanan Slytherin itu tajam.
"Watch your mouth, Wilkes. Or you'll be the one with tragic ending in this life with your friends as well."
Sebelum perdebatan terjadi, Professor menghampiri meja Mary dan Alice. Bertanya kepada mereka apa yang telah mereka lihat.
"Aku melihat sebuah bangunan putih besar, Professor. Sorry but I'm not good at this."
"It's alright, Miss Fortescue, apa yang kau lihat tidak sepenuhnya salah."
Sementara Professor dan Alice berbincang tentang 'bangunan putih' yang dilihat Alice, Mary meredam emosinya pada Wilkes dan menatap jauh kedalam bola kristal.
Perlahan-lahan suara-suara disekitarnya tidak terdengar lagi, lalu sebuah bayangan terlihat di bola kristal. Awalnya tidak jelas, lalu semakin Mary memicingkan matanya bayangan itu menjadi semakin jelas.. Ia melihat sebuah api didalam sebuah botol berpindah ke botol lain.
"And what do you see, Miss Brosvett?" Pertanyaan dari Professor membuat Mary tersadar, rasanya seperti ia ditarik kembali ke realita.
"Uhm.. Aku tidak yakin apa yang kulihat benar, Professor."
"Apapun yang kau lihat bisa berarti sesuatu, Miss Brosvett.. Jadi katakan, apa yang telah kau lihat?"
Mary memelankan suaranya, "Aku melihat sebuah api kecil didalam sebuah botol kaca, lalu api itu keluar dan berpindah ke botol lain."
"Pfftt.. Bukankah karanganmu terlalu jelek, Brosvett?" Ejek Rosier mengira Mary berbohong.
Beberapa siswa lainnya ikutan tertawa, namun apa yang dikatakan Professor setelahnya membuat seluruh kelas terdiam seketika.
"Itu menandakan 'Perpindahan Jiwa'."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
