"Tidak ada yang tertinggal, dear?" Euphemia bertanya dengan sangat lembut.
"No, Euphie, aku sudah mengambil semua yang kubutuhkan." Mary menatap kedalam rumahnya sekali lagi, bayangan Mary kecil yang berlarian di dalam sana dan Benedict yang tersenyum hampir membuat dirinya menangis lagi.
Sebelum setitik air berhasil jatuh dari matanya, gadis itu menghapusnya dengan tangan, tidak ingin menangis lagi. Bermalam-malam ia sudah menangis dipelukan kedua temannya dan Euphemia, ia tidak boleh menangis lagi!
Seseorang memeluknya dari belakang, pelukan yang selalu bisa menenangkannya setiap dia selangkah lagi menuju gila.
"Kita selalu bisa kembali kesini kapanpun yang kita mau." Bisik Sirius ikut membayangkan setiap memori kala ia berada disana sebab kabur dari rumahnya sendiri, rumah Mary selalu menjadi rumah ternyaman baginya, mansion Brosvett dan manor Potter adalah tempat dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
"But next time we come back, tidak ada yang akan menyambut kita."
"Ada, percayalah padaku, dia akan selalu ada di meja makan menunggu kita kembali. Sama seperti yang selalu kita ingat."
Mary tersenyum getir, yang dimaksud Sirius adalah kenangan. Fakta yang tidak pernah bisa disangkal, kenangan sosok Benedict yang menunggu mereka di meja makan setiap mereka kembali kerumah itu akan selalu ada.
Seseorang menepuk pundak Mary dan saat mata mereka bertemu, ia bisa melihat kehangatan sama seperti rumah, "Whenever you're ready, Mary." Ucap Remus habis membantu Fleamont memasukkan barang-barang ke mobil.
Mary sudah banyak merepotkan mereka selama ini, hampir setiap malam ia menangis di pelukan Remus, harus ditenangkan oleh Sirius dan ditemani oleh Fleamont juga Euphemia. Ia tidak boleh merepotkan mereka lebih banyak lagi.
Ia memeluk Sirius erat, "Terimakasih karena telah membuatku tetap waras, Siri."
"Oh look at you, like a baby who always need a hug. Tidak perlu berterimakasih, sudah tugasku menjagamu, kau ingat?"
"Terimakasih karena telah menenangkan hati Dad, tapi kau tahu kau tidak perlu benar-benar serius pada janji itu."
Sirius tersenyum tulus, lalu Mary memeluk Remus, lama sekali. Andai gadis itu tahu, bahwa tanpa diminta oleh Benedict sekalipun, Sirius akan menjaga dan selalu ada disisinya kapanpun dibutuhkan. Dia melakukannya bukan karena janji, tapi karena ia mau.
Diam-diam Sirius memikirkan hal paling konyol yang mungkin pernah ia pikirkan, namun ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu karena Remus akan membunuhnya kalau sampai tahu. Untunglah Remus itu werewolf, bukan mind-reader.
"Terimakasih untuk bahumu yang selalu menjadi sandaranku, terimakasih karena telah bersedia menjadi tempatku menangis selama ini, Remus.." Mary tidak tahu kenapa ia tidak mau melepaskan pelukannya dari Remus, tapi Remus benar-benar terasa seperti rumah, ia selalu hangat di malam yang dingin sekalipun.
"Tidak, kau tidak perlu berterimakasih, Mary. Akulah yang harusnya berterimakasih.." Remus tersenyum hangat, membalas pelukan Mary sama eratnya dan menghirup wangi mawar dari rambut berwarna coklat si gadis, "Terimakasih karena telah menjadikanku tempat bersandar, terimakasih karena memilih aku disaat banyak orang lain diluar sana yang bisa memberikan pelukan yang lebih baik padamu.."
Setelahnya, pintu Mansion Brosvett ditutup dan dikunci, begitu pula dengan gerbang depannya. Mary tahu dia akan kembali, entah bersama Sirius, James, Remus atau ketiganya. Dan saat itu tiba, ia berjanji akan kembali dengan sebuah senyuman lebar tanpa rasa sedih dan penyesalan.
...
James, Lily, Marlene, Alice dan Daisy menunggu dengan harap-harap cemas di gerbang sekolah. Malam ini Mary kembali setelah seminggu berduka, mereka ingin setidaknya memberi sebuah sambutan dan pelukan hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
