Kriet....
Suara pintu perpustakaan yang berderit sama sekali tidak mengganggu kedua siswa tahun ketiga yang tertidur lelap di sudut paling belakang. Madam Pince berjalan cepat membuka semua jendela perpustakaan, semalam ia belum sempat mengecek sudut paling belakang perpustakaan.
Sebelum sampai ke sudut paling ujung, langkah wanita itu terhenti. Matanya melotot melihat kedua siluet Gryffindor yang sedang tertidur lelap berbantalkan buku-bukunya.
"WAKE UP!!!"
Satu jeritan itu berhasil membuat Remus dan Mary terbangun seketika, mereka langsung mendapat jeweran maut Madam Pince yang kemudian mengoceh tentang buku yang tidak seharusnya dijadikan bantal. Untunglah buku-buku yang semalam dijadikan bantal oleh Mary tidak rusak sedikitpun atau dia benar-benar akan di blacklist dari perpustakaan Hogwarts selamanya.
"Kami bersumpah tidak melakukan apa-apa, Madam!" Seru Remus berpikir Madam Pince memarahi mereka karena tidur berdua di perpustakaan.
"That's true, Madam! Aku kelelahan dan tertidur tanpa tahu perpustakaan akan ditutup!" Sahut Mary baru menyadari ia tidur berduaan dengan Remus di perpustakaan semalam.
Madam Pince menatap kesal ke arah keduanya, namun mengingat kedua bocah itu masih tahun ketiga membuat hatinya sedikit melunak. "Of course kalian tidak melakukan apa-apa selain membuat buku-bukuku menjadi bantal! Jadi sebagai hukuman, kalian berdua harus merapikan buku-buku disini sebelum perpustakaan buka nanti!"
Keduanya tidak mungkin protes, mereka masih cukup bersyukur tidak disuruh menyapu perpustakaan juga karena tempat itu sangat besar.
Setelah Madam Pince pergi, Mary mendekat ke arah Remus dan Remus pikir ia akan kena marah sekali lagi. Ia yang membuat mereka dihukum, ia tidak membangunkan Mary semalam.
Diluar dugaan, Mary melepas jubah Remus yang masih menempel di punggungnya, "Terimakasih telah memberikan jubahmu padaku semalam." Gadis itu tersenyum hangat, senyum yang sudah lama tidak Remus lihat akibat lelah yang mungkin dirasakan Mary seminggu ini.
"Sorry, aku membuat kita berdua terkena detensi." Lupin kecil itu inisiatif meminta maaf, mungkin saja Mary hanya menyembunyikan kekesalannya.
"Ayolah, kita semua tahu ini salahku yang tidur dengan buku-buku Madam Pince. Aku tidak tahu dia seposesif itu dengan buku-bukunya..?"
"Yeah, tapi juga salahku tidak membangunkan mu semalam. You look very tired-" Remus sedikit menjeda ucapannya, tidak yakin namun akhirnya melanjutkan kata-katanya. "- Aku tidak ingin mengganggumu, tapi aku juga tidak ingin meninggalkanmu sendirian disini, Mary.."
Rasanya seperti ada sesuatu yang tumbuh didalam perut Mary, seperti sebuah akar tanaman. Ini hanya perumpamaan, karena itulah yang Mary rasakan setelah mendengar pengakuan Remus. Jadi semalam, ia berduaan dengan Remus, dan bocah serigala itu melihatnya tidur lelap kelelahan. Mary hanya bisa berdoa ia tidak terlihat jelek di mata Remus saat tidur.
"You will forgive me, right?"
Jawaban dari pertanyaan itu membuat Remus merasakan hal yang sama, ada sesuatu yang tumbuh jauh didalam dirinya dan apapun itu ia tidak ingin menghentikannya untuk tumbuh jika mungkin.
"Stop saying sorry, Remmy. Rasanya sepadan untukku terkena detensi jika itu berarti aku bisa menghabiskan malam bersamamu."
.....................
Dingin, itu adalah perasaan pertama yang dirasakan setelah tidak berada di Hogwarts untuk pertama kalinya selama beberapa bulan. Salju turun, sudah tidak selebat awal Desember tapi masih dingin.
Yang dingin bukan hanya suhu, tapi entah kenapa Natal kali ini tidak sehangat biasanya. Tidak ada Sirius yang berkunjung, membuat Mary yakin 100% ada masalah dalam keluarga Black.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
Fiksi PenggemarTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
