"Bayangkan, ditengah malam Alice melompat-lompat diatas kasur seakan ia sudah kehilangan akalnya! Untunglah kalian tidak mendengarnya, aku yakin kalian tidak akan bisa tidur!" Setelah kelas pemeliharaan satwa gaib, Marlene bercerita dengan penuh antusias bagaimana sikap Alice akhir-akhir ini.
"Well, she's in love, Marl. Kita tidak bisa menyalahkannya."
"Yeah, lagipula Alice dan Frank Longbottom terlihat bagus bersama. Mereka berdua sama-sama introvert yang lucu."
Lily dan Marlene bertukar pandang, menahan tawanya. "Kau yakin kau juga tidak sedang jatuh cinta, Mary?"
Pertanyaan kedua teman gadisnya membuat Mary bingung, "Of course not. Love? Like I care about something like that."
"Jangan kau kira kami tidak menyadari kedekatanmu dengan RJH King, aku masih ingat bulan lalu kalian menari bersama di pesta."
"Marlene benar, setelah hari itu King selalu menyapamu tiap ada kesempatan." Timpal Lily tersenyum jahil.
Mary memutar bola matanya malas, bahkan James dan Sirius tidak berpikiran seperti itu, bisa-bisanya kedua teman perempuannya ini malah berpikiran ia dekat dengan Rodent. Ya, Rodent memang masih sering menyapanya bahkan mengajaknya berbincang tiap kali Mary datang melihat James dan Sirius di lapangan Quidditch, tapi itu bukan berarti apapun! Lagipula dia masih belum 14 tahun!
"Percayalah, Rodent hanya berusaha membuatku masuk timnya. Tidak ada yang lebih dari itu, teman-teman."
"Rodent?! Kau bahkan memanggilnya dengan nama itu dan bukan RJ?!"
Mary menutup bibir Marlene dengan tangannya sebelum gadis pirang itu mengatakan hal-hal tidak masuk akal lainnya.
"Marlene, jika kau membahas RJ sekali lagi, aku akan benar-benar mengikat tubuhmu dengan mantra Petrify. Mengerti?" Ancam Mary berhasil membuat Marlene terdiam.
Lily tertawa saat Marlene melotot takut dengan ancaman Mary. Jika serius terhadap hal yang tidak disukainya, Mary benar-benar bisa melakukan apa saja. Tampaknya benar gadis itu sama sekali tidak memiliki kedekatan lebih dari teman dengan calon Kapten Quidditch Gryffindor RJH King.
"Try to beg, Snivellus!"
"Kurasa dia akan menangis, James!"
"Teman-teman, kurasa itu sudah cukup.."
"Oh, come on, Remus! Ini baru sebentar.. "
"Remus benar, James.. Professor bisa saja melihat disini.."
Langkah Mary, Marlene dan Lily terhenti saat melihat James dan teman-temannya didepan ruang kelas. Sesosok berjubah hijau juga ada disana, menggantung terbalik di atas atap koridor.
"Severus!!!" Lily refleks berlari, menjatuhkan semua bukunya ketika menyadari sosok yang sedang menggantung terbalik itu adalah temannya.
"Lily!"
"Aku akan memanggil Professor McGonagall!"
Mary ikut berlari menghampiri Lily sementara Marlene mengambilkan buku-buku Lily terlebih dahulu dan mencari Professor.
"What are you guys doing?! Turunkan dia!" Seru Lily khawatir pada Snape yang terlihat kesakitan.
James tertawa kecil, tidak mengindahkan permintaan Lily. "Ayolah, dia tidak benar-benar kesakitan, Evans."
"Potter, jika kau tidak menurunkannya, aku akan melaporkanmu pada Professor McGonagall!"
James memutar bola matanya malas dan langsung memutus mantra dari tongkatnya. "Kau sangat tidak seru, Evans."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
