"Itu tidak bisa dipotong dengan pisau, Marls."
"Oh, lalu bagaimana cara kita mengeluarkan sarinya?"
"Smash it. Like this." Mary menggeprek biji sophoporus dengan pisaunya, entah kenapa bau ruang kelas ramuan hari ini sangat menyengat. Lebih dari biasanya dan lebih dari Amortentia.
Sebenarnya dia sudah sadar dia sedang tidak enak badan sejak bangun tidur tadi, tapi dia tidak ingin membuat siapapun khawatir. Apalagi James, Sirius dan Marlene sedang sibuk latihan Quidditch dan Lily sedang senang-senangnya karena hari ini mereka akan membuat Draught Of Living Death.
"Kudengar RJ menjadi seorang pemain Quidditch untuk tim Tutshill Tornados.. Apa dia memberitahumu?" Pertanyaan Marlene membuat tangan Mary berhenti bergerak untuk sejenak.
Sebenarnya, RJ memang mengirim surat untuknya. Tapi dia tidak ingin membuka ataupun membalasnya, ia tidak ingin memberikan sedikit pun harapan pada pria itu. Ah, kepalanya mulai berdenyut.
"Really? Good for him kalau begitu."
"Tidak seharusnya kau memutus hubungan begitu saja, Mary. I think it's fine to be friends with him."
"Tetap berteman dengannya hanya akan membuatku terus merasa bersalah, Marls.. You know, sesulit apapun aku mencoba menyukainya saat itu, I can't."
Marlene ikutan terdiam, ia melihat arah mata Mary yang melihat sudut lain ruangan. Remus dan Sirius sedang bercanda sambil memasukkan bahan-bahan ramuan ke dalam kuali.
Binar di mata Marlene meredup melihat remaja berambut hitam itu, entah sejak kapan, Marlene terus menerus memperhatikan gerak-geriknya. Mungkin sejak dia mengajaknya ke Hogsmeade bersama untuk mengawasi Remus dan Stebbins? Ya, mungkin setelah saat itu tanpa sadar ia terus memperhatikannya. Bahkan ketika bocah berambut hitam itu hanya terfokus pada gadis di sampingnya setiap saat. Bibirnya mengeluarkan helaan nafas panjang, bodoh sekali dia merasa iri pada sahabatnya sendiri.
"Bagaimana caramu menyadari kau menyukainya, Mary?"
Tanpa memikirkan maksud pertanyaan Marlene, mulut Mary menjawab dengan sendirinya, "Ketika aku menyadari aku rela melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia, bahkan jika aku harus mati sekalipun."
"Bagaimana jika kebahagiaannya ada pada orang lain dan bukan dirimu?"
Rasanya seperti sebuah pisau di tusukkan ke dalam dada, sangat perih. Tatapannya berubah sendu. Bagaimana jika kebahagiaan Remus bukan dirinya? Oh, Mary tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Namun ia sudah memiliki jawabannya.
"Aku akan tetap mendukungnya, bersamaku atau tidak, karena kebahagiaannya adalah yang terpenting bagiku, Marls.."
"Bahkan meskipun kau telah mengorbankan segalanya untuknya?"
"Yeah, ketulusan tidak menuntut balas budi."
"Remus beruntung sekali." Celetuk Marlene yang ini berhasil membuat Mary tersadar, ternyata tadi, secara tidak sengaja dia mengatakannya sendiri pada Marlene isi hatinya.
Wajah Mary memerah seketika, lalu ia mulai mengaduk ramuan dalam kuali, bersamaan dengan itu juga kepalanya mulai terasa berputar. Masih bisa di tahan.
"You know, Sirius pernah mengatakan hal yang sama sepertimu.."
"What?"
"Kau ingat hari itu? Hari terburuk dalam hidupmu.." Sialnya, perkataan Marlene mulai tidak terdengar jelas di telinganya. Hari terburuk dalam hidupnya..? Hari kematian ayahnya?
Sakit benar-benar membuat otak Mary bekerja lambat.
"I- I don't know what you mean, Marls.. Bisa lebih spesifik lagi..?" Perkataan Marlene bagai berdengung tidak jelas di telinganya. Kepalanya terasa sakit seakan dirinya diputar tornado. Biarpun begitu Mary tetap menguatkan kakinya untuk berdiri tegak, ia tidak ingin Marlene merasa tidak di dengar. Dia tidak boleh terlihat lemah, setidaknya dia harus kuat hingga kelas selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
Fiksi PenggemarTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
