21: Animagi

400 60 8
                                        

"Buku ini! Yang kau berikan sangat bagus, Mary! Darimana kau mendapatkan buku ramuan ini?! Rasanya baru kemarin aku frustasi karena tidak menemukan buku yang benar-benar lengkap, aku tidak menyangka kau akan memberikan buku ini sebagai hadiah Natal..!" Lily berjingkrak senang memamerkan buku ramuan barunya.

Mary tidak menyangka Lily benar-benar bahagia mendapatkan buku ramuan terlengkap darinya sebagai hadiah Natal.

"Well, seperti yang kau tahu, ayahku punya banyak kenalan pedagang. Dan salah satunya penjual buku."

"Aku sangat iri.. Tapi Severus bilang buku yang kau beri adalah seri terlengkap sekarang ini. Bagaimana caraku membalas kebaikanmu?"

Mary terkekeh, "Berikan aku rambut merahmu sebagai balasan."

"My red hair?" Tanya Lily bingung.

Mary mengangguk pelan, ia selalu mengagumi rambut merah Lily. Warnanya sangat cantik. "I like your hair.."

"Kalau begitu akan kuberikan rambut merahku untuk anak-anakmu nanti!" Balas Lily tertawa juga.

Mary hanya bisa tersenyum setelah itu, kalau dipikirkan pun sangat tidak mungkin anak-anaknya berambut merah karena seingatnya tidak ada dari nenek atau kakeknya yang berambut merah. Itu hanya mungkin jika ia menikah dengan seorang pria berambut merah.

Suara langkah kaki yang berhamburan keluar kelas mengembalikan fokus Mary, kastil terlihat sibuk seperti biasanya. Hanya tersisa kurang dari 1 semester sebelum libur musim panas. Sebentar lagi juga ulang tahun Lily dan Mary sudah tahu harus memberi hadiah apa untuk sahabatnya itu.

"Mary..!" Panggil James melambaikan tangannya dari kejauhan.

Mary menyipitkan matanya, ia bisa melihat Remus, Sirius dan juga Peter disisi James. Keempat bocah itu selalu saja bersama dan mereka tampak sedang menunggunya.

"Oh, lihat, mereka pasti akan mengajakmu melakukan hal-hal aneh lagi." Ujar Lily tidak habis pikir.

"Mereka butuh aku untuk membuat mereka tetap waras, Lily."

"Yeah, you're right.. Dan tampaknya Remus sudah kembali seperti biasa, ia membalas sapaanku kemarin."

Mary mengangguk pelan sambil tersenyum, "Yeah, kami sudah baik-baik saja. Ternyata alerginya bukanlah penyakit menular."

"Nice to hear that! Sebaiknya kau habiskan waktu dengannya, tapi jangan sampai terkena detensi, okay? Sepertinya aku akan membaca buku saja di perpustakaan bersama Severus. Aku akan menunggumu saat makan malam, have fun, Mary!"

Lily mengizinkan Mary untuk menghampiri keempat bocah itu meskipun Lily tidak terlalu menyukai mereka. Mary benar-benar bersyukur sekarang Lily tidak membatasinya untuk berteman dengan siapa saja.

"You too, Lily!"

...

Sirius menjatuhkan beberapa buku yang ia bawa, semua buku itu terlihat usang dan berdebu seakan tidak pernah dibuka oleh siapapun. Dari kemarin baik James maupun Sirius terlihat sibuk dengan sesuatu, Remus terlihat khawatir dan Peter seperti biasa hanya mengekori mereka.

"Buku-buku apa ini, Sirius?"

Mary memperhatikan setiap judul bukunya, 'Origin of Animagi' 'How to become Animagus' dan beberapa buku lain yang membahas tentang Animagus.

Animagus adalah sebutan bagi penyihir yang bisa merubah dirinya menjadi bentuk hewan. Salah satu Animagus yang sudah dikenal banyak orang adalah Professor McGonagall dengan bentuk kucingnya.

"Kami berfikir untuk menjadi Animagus, you know? Seperti Professor McGonagall!" Jelas James antusias.

Mary terkejut, "Animagus? That's dangerous, James!" Perubahan menjadi Animagus tidaklah mudah dan sangat berbahaya, salah sedikit saja komplikasi bisa terjadi pada tubuh seorang penyihir.

Sirius menyilangkan tangannya, "Tapi itu akan memudahkan kita menyelinap keluar bersama Remus tiap malam bulan purnama, Mary. Bukankah itu ide yang cemerlang?"

"Mary, I swear aku sudah memperingati mereka, tapi mereka tidak mau mendengar." Sahut Remus juga tidak setuju.

Mary menggeleng tidak habis pikir, bisa-bisanya bocah-bocah yang bahkan belum genap berusia 13 tahun itu terpikirkan menjadi Animagus. Tapi Sirius benar, jika mereka bisa berubah menjadi bentuk hewan tertentu, mereka bisa menemani Remus tiap Remus bertransformasi menjadi Werewolf.

Apa yang seharusnya ia lakukan? Melarang mereka? Tapi mereka akan tetap keras kepala. Mengizinkan mereka? Lalu bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?

Sirius menepuk pundak Mary, seakan mengerti apa yang dipikirkan gadis kecil itu. "Kau tahu aku ini pintar, kan? Kami pasti akan berhasil, Mary. Jangan khawatir, okay?"

"But you know, itu terlalu beresiko, Sirius!"

"Oh come on, Mary. Percayalah pada kami, kami bisa melakukannya!".

"Jika sesuatu terjadi padamu, Mrs. Euphemia akan sangat sedih, James!"

"Tidak akan ada yang terjadi padaku atau pada kami, okay?!"

"But-"

"Mary, apa kau rela mati untuk Remus?" Tanya Sirius spontan membuat Remus terkejut.

"Of course I will!" Jawab Mary semakin membuat Remus terkejut, bocah berambut coklat itu berusaha menahan degupan jantungnya yang kencang.

"Kami juga begitu, kami ingin membantu Remus. Tidak hanya itu, menjadi Animagus akan membuat kami lebih bebas, Mary. Membuatku lebih bebas pergi kemanapun yang aku mau.." Sirius memelankan kalimat terakhirnya, namun masih bisa terdengar oleh yang lain.

Mary frustasi, ia terdiam sejenak. Ucapan James dan Sirius ada benarnya, meskipun mereka terkadang melakukan hal-hal bodoh, mereka termasuk pintar untuk anak seusianya. Mereka masih sesekali membaca buku dan mendapatkan nilai yang bagus di kelas.

Mungkin saja mereka benar-benar bisa menjadi Animagus.. Dan itu akan sangat membantu Remus.. Itu juga akan membantu Sirius menyelinap keluar dari rumah setiap kali terjadi hal yang tidak diinginkan..

"Ughhh.. Baiklah! Kalian boleh mencobanya!" Seru Mary berharap ia tidak pernah menyesal.

Sirius tersenyum sumringah, ia refleks memeluk Mary erat, "Thank you, Mary! Kau menjadi teman favoritku sekarang!"

Setelahnya, James dan Sirius melakukan High-Five kemudian berjalan entah kemana membawa buku-buku tadi. Sementara Remus bertukar pandang dengan Peter, hanya bisa pasrah dan mengikuti apapun yang ingin di lakukan kedua temannya.

"Kau tidak ikut mereka, Peter?" Tanya Mary datar membuat bocah pirang itu gugup seketika.

"Uhh.. I-itu.."

Peter menatap Remus, berharap Remus akan mengatakan sesuatu. Tapi bukannya memberi bantuan, Remus menatap Peter dengan tatapan 'Pergilah terlebih dahulu.'

"A-aku akan menyusul mereka!" Lanjut Peter berlari mengejar James dan Sirius yang sudah jauh.

Mary tertawa melihat tingkah Peter, rasanya seakan ia membully bocah kecil berisi itu, tapi ia sama sekali tidak merasa bersalah.

"Kau tidak akan berdiri disitu sampai besok, kan?" Ucap Remus menepuk-nepuk tempat di sampingnya yang kosong.

Mary memutar bola matanya malas dan duduk disamping Remus, "Aku tahu kau pasti akan bertanya kenapa aku tidak melarang mereka kan?"

"Not quite right, Mary.."

Remus tersenyum dan untuk pertama kalinya senyum Remus terlihat sangat aneh di mata Mary. Tatapan mata Remus seakan hanya tertuju padanya dan senyum di wajah dengan bekas luka itu tidak sedetikpun hilang.

"Lalu? Jangan bilang kau memintaku untuk menggagalkan rencana mereka? You know I can't do that, itu malah lebih beresiko." Protes Mary mengerucutkan bibirnya.

Remus terkekeh dan mengacak-acak rambut gadis kecil di sampingnya, "Kau terlalu berpikiran buruk, aku hanya ingin duduk bersamamu menikmati waktu berjalan dengan sendirinya."

Hi Mr. Wolf Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang