Para tetangga menghias peti berwarna coklat tua di ruang tengah, termasuk Lyall. Tidak ada yang memperhatikan remaja laki-laki yang masih duduk tersungkur di pojok ruangan kamarnya. Membenamkan kepalanya dikedua kaki dengan air mata yang masih belum mengering.
Mungkin, memang tidak ada yang memperhatikan karena sibuk mempersiapkan pemakaman. Atau, mereka tahu bahwa kehilangan sosok ibu, adalah bagaimana dunia seorang anak hancur seketika. Dan akan lebih baik membiarkannya sendiri hingga lukanya menutup.
Tidak ada yang tahu, bahwa saat ini, Remus seakan jatuh ke jurang yang paling dalam. Kehangatan dalam keluarga, yang selama ini didapatkan dari sang ibu, hilang seketika di momen Hope menghembuskan nafas terakhir.
Lyall menatap pintu kamar putra semata wayangnya sendu, tangisnya sendiri sudah kering. Sebenarnya, baik dokter, maupun istrinya sendiri sudah memintanya mempersiapkan diri dari beberapa waktu lalu. Lyall telah menemani Hope selama yang ia bisa, dia yang paling tahu seberapa lemah dan tidak sukanya istrinya itu untuk tidak bisa bebas bergerak ke mana-mana. Matanya kembali memanas melihat Hope tertidur pulas di peti coklat dengan ukiran bunga yang indah.
Setidaknya sekarang, Hope sudah bisa berlarian seperti saat ia sehat, dan hanya dengan itu Lyall ikhlas melepas kepergian istrinya. Biarpun begitu, ia tahu, putranya telah kehilangan cahaya dan kehangatan sang ibu, dan hal itu adalah hal yang tidak mungkin ia gantikan dengan apapun.
Suara langkah kaki beberapa orang memasuki pintu yang terbuka lebar, siluet seorang gadis berambut coklat panjang yang ditunggu Lyall akhirnya tiba.
"Kami langsung kesini begitu menerima surat dari Remus, Mr. Lupin, kami turut berduka." Ucap James pelan memeluk tubuh Lyall penuh hormat, matanya memerah.
"Kami sangat menyesal tidak datang lebih awal, Uncle Lyall." Sirius sudah menitikkan air mata, bagaimanapun juga, ia punya cukup banyak kenangan dengan ibu temannya itu. Ditambah rasa bersalah terhadap Remus yang belum juga sirna.
"Terimakasih sudah datang, aku sangat menghargai usaha kalian untuk datang kesini."
Fleamont, Euphemia, James dan Sirius langsung menghampiri Lyall, tapi Mary langsung menuju kamar Remus. Hanya dia yang langsung sadar bahwa Remus mengurung dirinya dikamar. Sedikit beban di hati Lyall terangkat, matanya kembali menghangat. Kata-kata terakhir istrinya ternyata benar.
"..meskipun aku tidak lagi ada disini, Remus tidak akan sendirian.."
Tok tok tok
Mary mengetuk pintu kamar Remus pelan, ia bahkan tidak menghampiri Lyall terlebih dahulu. Mungkin karena Mary tahu, sudah banyak orang yang memberikan kata-kata bela sungkawa pada uncle Lyall. Lyall juga terlihat sangat tegar, ketika Remus tidak dirumah, Lyall-lah yang ada di sampingnya. Jadi mungkin, dia sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Tapi Remus? Dia tidak mungkin bisa menerima semuanya secepat itu.
Tok tok tok
"Remmy.. It's me. Can I come in?"
Tidak ada jawaban apapun, tapi pintu kamar Remus terbuka dengan sendirinya, sepertinya, tanpa sadar sihirnya bekerja begitu mendengar orang di depan pintu adalah Marianne.
Mary berjalan masuk, lalu tidak lupa menutup pintu.
"Remus."
Remaja laki-laki itu duduk tersungkur dilantai pojok ruangan, kali ini kepalanya tidak terbenam, punggungnya bersandar lemah ke tembok dan matanya menatap Mary nanar.
Rasanya seperti jatuh dari tempat yang tinggi dan hancur berkeping-keping ketika melihat Remus seperti itu. Mary langsung menghampirinya, duduk di sampingnya dengan lutut dilantai dingin dan dengan cepat memeluknya erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Mr. Wolf
FanfictionTimeline sebelum Dear Frederick, menceritakan kehidupan Marianne Rose Brosvett di Hogwarts dan kisahnya dengan Remus Lupin. ... "Jika reinkarnasi benar-benar ada, kau ingin terlahir sebagai apa Remmy?" "Aku ingin menjadi apapun selain manusia ser...
