"Kamu udah makan?" tanya Kaffa sambil melirik Kenzie yang masih menunduk lesu. Kenzie menggeleng tanpa berkata apa-apa.
"Kalau gitu, Papa keluar dulu beli makan" kata Kaffa sambil berdiri dari kursinya.
"Kamu masuk ke dalam aja, tunggu di sana sambil temenin Mama"
"Nggak, Pa. Mama masih marah... Kenzie nggak mau bikin suasana makin nggak enak" ujarnya lirih sambil menggeleng. Kaffa menatap anaknya sejenak, lalu menghela napas.
"Ya udah, tunggu di sini. Jangan kemana-mana, Papa nggak lama"
Kenzie mengangguk pelan, pandangannya tertuju ke lantai. Setelah Papanya pergi, suasana koridor rumah sakit menjadi hening. Kenzie menyandarkan kepala ke dinding, mencoba mengatur napasnya. Beberapa menit berlalu. Pintu ruang rawat terbuka dan mamanya keluar dengan membawa botol susu yang kosong. Caca berjalan melewati Kenzie tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah keberadaan anak sulungnya itu tidak ada disana.
"Ma"panggil Kenzie dengan suara pelan.
"Apa?" jawab Caca cuek.
"Kenzie cuma mau tanya... Safi udah baikan, kan?"tanya Kenzie hati-hati.
"Dokter bilang Safi masih harus dirawat sampai beberapa hari ke depan"
Kenzie ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Anak itu hanya mengangguk pelan.
"Kenzie... Kenzie minta maaf ma" ucapnya hampir seperti bisikan. Caca hanya menghela nafas dan memilih tak menjawab ucapannya. Kenzie jelas tau mamanya tidak mungkin akan langsung memaafkannya.
Caca berjalan pergi menuju dispenser untuk mengisi botol susu dengan air hangat dan kembali ke kamar rawat. Kenzie menyandarkan punggungnya ke kursi, menutup wajahnya dengan kedua talapak tangan. Samar-samar Kenzie dapat mendengar suara tangisan adiknya dari dalam. Ia ingin masuk, tapi tak berani. Tak lama terdengar suara familiar yang menegurnya.
"Kenapa cuma duduk di luar, Zie?"tanya Om Sean yang barusan datang bersama dengan Tante Sasa.
"Nggak apa-apa, Om. Kenzie abis dari sekolah, masih kotor. Jadi biar tunggu di sini aja"
Sean menatap ponakannya dengan penuh selidik dan menyadari ada yang tidak beres, tapi Sean juga tak ingin memaksakan pertanyaan. Sedikitnya, Sean sudah bisa menebak apa yang terjadi setelah tadi mendengar kabar yang diberitahu Kaffa tentang diagnosis dokter tentang kesehatan Safi.
"Kamu udah makan belum, Zie?"
tanya Sasa.
"Belum, Tante. Papa lagi keluar beli makan. Om sama tante masuk aja. Di dalem ada mama"Kenzie menjawab sambil menggeleng.
"Yaudah om sama tante masuk dulu"
Kenzie mengangguk tanpa banyak bicara. Kenzie kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, merasa lega karena berhasil menghindari pertanyaan lebih jauh. Sean dan Sasa pun masuk ke ruang rawat Safi.
Tak lama, Kaffa kembali dengan membawa bungkusan makanan. Melihat Sean dan Sasa sudah ada di dalam, Kaffa segera menghampiri Kenzie.
"Ayo makan dulu, Zie. Papa udah beli makanan"
"Gamau, Pa. Mama masih marah, nanti Kenzie dimarahin kalau masuk. Kenzie disini aja"balas Kenzie sambil menggeleng. Kaffa menghela napas panjang.
"Mama tadi bilang belum lapar, jadi nggak bakal makan bareng. Kamu masuk aja, makan di dalem. Papa temenin" ucap Kaffa membujuk.
Kenzie akhirnya menurut dan masuk ke ruang rawat bersama Kaffa. Namun, suasana di dalam tetap terasa dingin. Caca hanya menoleh sebentar ke arah Kenzie tanpa mengatakan apa-apa dan kembali mengobrol dengan Sean dan Sasa. Kenzie melihat Safi dengan selang oksigen dan tangan di infus langsung mengalihkan pandangan, tak tega melihat adiknya seperti itu.
