Kita mulai lagi

1.2K 143 39
                                        

"Mas Kaffa, sini dehh!"panggil Caca dari depan pintu kamar. Kaffa yang sebelumnya ada di kamar mandi sedang menyikat gigi dan masih handukan terpaksa berjalan keluar menyusul Caca.

"Ada apa, Ca?"tanya Kaffa bingung. Caca memberinya kode untuk memelankan suara dan menunjuk ke arah dapur dimana Kenzie dan Safi sedang mengobrol.

"Ini nanti jangan disisain makanannya. Oke?"Kenzie memasukkan telur ceplok beserta sosis dan buah-buahan potong ke kotak bekal punya adeknya. Kenzie yang membuatnya sendiri untuk adiknya.

"Hmp! Itu kurang banyak!"tunjuk Safi.

"Segini masih kurang banyak? Mau ditambahin apalagi?"tanya Kenzie.

"Nasi!"

Caca terkekeh pelan begitupun dengan Kaffa. Senang melihat kedua anak mereka yang kembali berinteraksi setelah beberapa hari ini Kenzie menutup berkomunikasi dengan adiknya. 

"Tuh Ca, kekhawatiran kamu waktu itu soal sikap Kenzie ke adeknya gak kejadian kan. Yah, karena mereka saudara. Gak mungkin gak saling sayang meskipun beda umurnya jauh"ucap Kaffa melihat ke arah Kenzie yang mengurus adiknya makan.

"Iya yah Mas Kaffa.. Alhamdulillah"
balas Caca. Perempuan itu tersenyum bahagia melihat kedua anaknya.

"Papa mama udah bangun!!"
seru Safi heboh dan berlari menghampiri Caca dan Kaffa.

"Masih pagi udah ganteng banget ini anak mama. Mana udah wangi juga lagiii.. Ini yang pakein baju sekolah siapa?"tanya Caca meskipun sudah tau jika yang melakukannya Kenzie.

"Mas! Abis sholat kita mandi"balas Safi. Anak itu beralih memeluk pinggang Papanya. Tapi langsung ditahan Kaffa.

"Eh, jangan ditarik ini Papa cuma handukan doang"ucap Kaffa. Caca menahan tawanya dan mengambil alih si bungsu.

"Ayok lanjutin makan nya. Papa mau mandi"Caca membawa Safi kembali ke meja makan.

"Hari ini biar aku yang anterin Safi ke sekolah, ma"ucap Kenzie yang sudah selesai menyiapkan bekal sederhana untuk Safi.

"Adek beneran mau dianterin sama kakak aja ke sekolah?"tanya Caca ke Safi. Anak itu mengangguk antusias sambil memakai tas sekolahnya.

"Bareng sama mas!"ujarnya.

"Yaudah boleh, tapi kamu jangan naik motormu kak. Naik aja motor punya mama yang kecil. Kalau di motormu ntar adek susah duduknya"

"Gapapa Maa, Safi udah pernah aku bawa pake motorku kok. Motor mama kecil banget, kakiku kepanjangan, aneh nanti keliatannya"tolak Kenzie.

"Gak, demi keselamatan tetep harus pake motor kecil"Caca juga tetap tak mengizinkan. Masalahnya, motor Kenzie itu tipe motor yang gede kalau dia boncengin adeknya dibelakang Caca takut Safi jatuh. Kalau motor matic punya Caca kan Safi bisa berdiri di depan. Lebih aman juga.

"Hh yaudah dehh, kapan-kapan aku pengen belajar nyetir mobil. Biar kalau mau bawa Safi jadinya enak"ucapnya. Safi yang sejak tadi jadi topik utama hanya menatap ke arah mama dan masnya bergantian.

"Kapan perginya sihhh"ujar anak itu. Caca terkekeh lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Safi dan memakaikan tas pada si bungsu.

"Nanti di sekolah gak boleh nakal ya dek, kalau lagi diboncengin kaka jangan goyang-goyang. Diem aja, okeh?"kata Caca yang langsung diangguki Safi.

"Kaa, inget jangan ngebut. Kamu bawa adek"tak lupa Caca juga memberitahu Kenzie. Anak itu megangguk dan mencium punggung mamanya dan diikuti oleh Safi. Caca mencium kedua pipi Safi bergantian, kalau Kenzie sudah menolak dicium-cium.

"Sinii lagi belummm"kata Safi menunjuk bibirnya. Caca terkekeh dan mengecupnya singkat. Sementara Kenzie sedang mengeluarkan motornya dari garasi Caca memakaikan helm ke kepala Safi. Anak itu terlihat antusias sekali menaiki motor berbeda halnya dengan Caca yang ketar-ketir sampai memperingatkan Kenzie untuk berhati-hati berkali-kali.

SON|| SEQUEL HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang