Kenzie bersandar ke meja sambil memutar bolpennya dengan jari. Matanya melirik ke arah Mikha yang masih sibuk membaca buku catatan. Hari ini hari terakhir ujian sekolah.
"Esa sama Tian masih belum baikan?" tanya Mikha. Sudah hampir tiga minggu sejak perkelahian mereka.
"Belum. Tau sendiri kan Esa gimana?"
"Iya sih. Awet banget kalau marah."jawab Mikha sambil ikut menghela napas.
Keduanya memilih tetap di kelas saat jam istirahat. Sebentar lagi mereka harus lanjut ujian, jadi Kenzie dan Mikha memanfaatkan waktu buat belajar. Setidaknya, itu yang Mikha lakukan. Kenzie? Anak itu sudah menutup bukunya sejak beberapa menit lalu dan menjadikan sandaran untuk lengannya sebagai bantal.
"Hhh, kepalaku pusing banget, Mikha. Gak di rumah, gak di sekolah, belajar mulu" keluh Kenzie.
"Sabar, bentar lagi kan kelar. Selesai ujian juga bakal ada libur panjang. Gak boleh banyak ngeluh Zie" kata Mikha tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
Kenzie yang tadinya lemas mendadak meluruskan duduknya.
"Eh! Liburan bareng aku yuk!!" ajak anak itu antusias. Mikha meliriknya dengan alis mengernyit.
"Hah? Gausah ngawur! Mending baca tuh catetan. Bentar lagi udah bel masuk"jawab Mikha yang diakhiri dengan guliran mata malas.
"Sayang, aku serius. Keluargaku rencana mau liburan abis ujian. Kamu ikut, ya? Ayolahhh~kita gapernah liburan barengg" ujar Kenzie lalu dengan sengaja mengguncang bahu Mikha.
"Aku gak bisa Zie. Aku sama Papa ada urusan juga"tolak Mikha merasa tak enak. Sebenarnya kalau boleh jujur, Mikha sih mau-mau saja ikut bareng Kenzie.
"Ada urusan apa?"tanya Kenzie penasaran.
"Nanti aja aku ceritain kalau udah fix. Pokoknya aku gak bisa ikut"balas Mikha dengan gelengan.
"Yaudah deh gapapa, kita LDR-an dulu, yaa"ucapnya walaupun sebenarnya Kenzie sedikit kecewa.
"Latihan dari sekarang buat nanti beneran LDR-an"balas Mikha menepuk pelan kepala Kenzie.
"Kamu serius bakal kuliah di luar negeri? Gak mau kuliah disini aja?" tanyanya ragu-ragu.
"Keinginan aku udah gabisa diganggu gugat, Zie. Aku udah dari lama pengen kuliah di luar negeri. Ngertiin, yaa??"
"Tapi disana kan gak ada aku, Mikha. Akunya disini.."ujar Kenzie lesu. Mikha menutup bukunya dan menatap pacarnya serius.
"Ayolah Zie, aku kan udah bilang kita tetep pacaran..."
"Iya tapi aku gak tahan LDR. Aku suka kangenan..." Kenzie memalingkan wajahnya.
"Yaudah kalau gitu pilih. Putus apa LDR-an?"Ujar Mikha dengan ekspresi serius. Kenzie seketika langsung menoleh ke arahnya.
"Sumpah kamu jahat banget, ah!"Kenzie mengambil bukunya dan hendak keluar tapi belum sampai di pintu kelas, bel masuk sudah berbunyi. Kenzie berbicara dengan Nana dan meminta cewek itu buat duduk di sebelah Mikha gantiin tempatnya.
"Tadi ngomongin apaan sama Nana?"tanya Esa yang menusuk punggung Kenzie dari belakang dengan pulpen.
"Cuman nyuruh dia pindah biar duduk sama Mikha--awas ya kalau sampe seragam gue ada tintanya!"
"Gak ada. Lebay lu!"
Kenzie mengangkat bahu tak lagi membalas ucapan Esa. Kertas soal sudah dibagikan di depannya dan anak itu mulai mengerjakan soal. Salah satu perubahan yang dirasakan Kenzie sekarang adalah dia jadi lebih mudah mengerjakan soal tanpa harus cap cip cup lagi seperti dulu. Masih tersisa beberapa menit lagi tapi Kenzie sudah menyelesaikan mengisi semua jawabannya. Ia lalu melirik ke arah Mikha yang masih terlihat serius. Kenzie tanpa sadar menghela napas. Kalau tau begini, kenapa Kenzie dulu tidak naksir Mikha lebih awal saja? Kenapa dia harus buang-buang waktu suka sama Nana yang cintanya malah bertepuk sebelah tangan.
