Hampir seminggu Caca menghabiskan waktu tinggal di rumah orang tuanya, hari ini perempuan itu akhirnya pulang ke rumah. Tapi sesampainya di rumah malah sepi sekali. Kaffa dan Kenzie punya agenda mereka masing-masing. Kaffa hari ini menghadiri rapat di kampus sementara Kenzie izin keluar menemani Keisha. Alhasil, Caca hanya berdua di rumah bersama dengan Safi.
"Astaga, Safi!"ujar Caca panik dan berjalan menghampiri Safi yang sedang menggunting rambutnya sendiri.
"Kenapa main gunting sih, dekk. Kamu cuma mama tinggal bentar ambil minum loh"Perempuan itu langsung mengambil gunting dari tangan Safi dan menyimpannya diatas lemari.
"Mau lagi mama"anak itu merengek meminta kembali gunting yang tadi diambil Mamanya.
"Gak. Liat tuh rambutmu, jelek banget, adekk! Nanti kalau Papa pulang, mama aduin kamu ya. Biarin di botakin aja sekalian"ancam Caca, Safi yang mendengarnya semakin kuat menangis. Caca menghela nafas kemudian mengambil sapu untuk membersihkan rambut Safi yang bertebaran di lantai. Padahal tadi Caca ke dapur tak sampai lima menit Safi sudah buat proyek baru sendiri.
"Mama maaaf"cicit Safi yang sadar tangisannya tak dihiraukan sejak tadi akhirnya berdiri dan menghampiri Mamanya yang tengah bersih-bersih.
"Iya mama maafin, tapi adek gaboleh main gunting lagi. Bahaya tau, dek! Itu tadi kalau gak hati-hati guntinghya bisa kena matamu, lho!"
"Iyaaa, maaf ma ma"ulang Safi lagi yang buat Caca luluh. Perempuan itu mensejajarkan tingginya dan menghapus air mata Safi. Tapi Caca tak bisa berhenti menghela nafas melihat rambut Safi yang tidak jelas bentuknya bagaimana.
"Aduhh, ini harus di botakin kamu dek, beneran deh. Mama serius"
"Ndak mauuuu.. Gak lagi lagi, mama"tangisan Safi malah makin nyaring sambil memeluk Caca.
"Yah gimana itu bentukan rambutmu gajelas. Emang mau besok ketemu temen-temennya begitu?"tanya Caca. Safi menggeleng keras.
"Ya harus di botakin dekk"
"Ndak suka botak"
"Salah sendiri kenapa main gunting coba. Mainanmu loh berserakan dimana-mana, dek. Kamu malah mainin gunting. Rambutnya sendiri lagi yang jadi korbannya"Safi semakin menangis tersedu-sedu bersih keras tidak mau di botak. Tepat saat itu, bel rumah mereka berbunyi nyaring mau tidak mau Caca melepaskan pelukan Safi pada lehernya dan berjalan ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang.
"ASSALAMUALIKUM~~!!"
Caca yang sudah kenal dan hafal dengan suara nyaring itu bergegas membukakan gerbang. Perempuan itu tersenyum lebar saat melihat Sasa yang datang bersama anak-anaknya.
"Mama Kenji.. Kita dateng nihh"
ujar Kylo sambil melambaikan tangan.
"Bukan mama Kenji tau tapi mama Safi!"timpal Koa tidak setuju.
"Lah yang lahir duluan kan Kenji gimana sih kamu!"
"Eh, shut. Ingat apa yang mama bilang tadi di rumah?"Sasa cepat-cepat menegur kedua anak kembarnya sebelum lanjut adu mulut. Caca yang mendengar keduanya hanya tertawa dan membukakan gerbang untuk mereka.
"Yukk masuk yukk~adekk, liat nih siapa yang dateng dekk"teriak Caca memanggil Safi. Kylo dan Koa menyerebot menyalim tangannya. Safi yang mendengar suara heboh di luar langsung berlari dan memeluk Kylo dan Koa bergantian. Tak lupa mencium tangan Sasa. Tapi Safi mengabaikan Kai yang berdiri di sebelah Sasa.
"Ehh itu rambutnya kenapa mbak Caca?"tanya Sasa yang langsung salah fokus melihat rambut Safi.
"Barusan itu Saa, dia mainin gunting pas aku lagi ke dapur ambil air minum"
