Pengalaman

2.4K 294 71
                                        

"Maaa... Aku ke rumahnya tante Rena yaaa"ucap Kenzie begitu menuruni tangga.

"Iyaaa. Kamu pulang jam berapa?"
tanya Caca. Perempuan itu berada di ruang tengah menjaga Safi.

"Aku nginepppp"

"Ehh kok nginep sih?"

"Iya Esa kan udah pulang. Aku juga udah lama gak nginep disana. Waitt bajunya kayak kenal~idihh Safii mooo pake baju yang di beliin sama Mikha-ku!"Kenzie malah salfok dengan baju yang di kenakan Safi. Pemberian dari Mikha tempo hari. Ia lalu mengangkat baju yang di pakai Safi membuat perut buncit bayi itu terlihat.

"Apasih heboh banget. Adekmu sampe kaget loh!"Caca menyingkirkan tangan Kenzie dari Safi.

"Ehehehe.. Maaf yaa~yaudah Kakak mau pergi dulu. Kamu disini, jagain rumah. Okeh Safi moo~?"ujarnya sambil mengusap pipi merah Safi.

"Eh tunggu betar Kamu jagain adek dulu. Mama mau ke toilet"kata Caca yang baru keinget kalau sejak tadi dia nahan buat pergi ketoilet.

"Yaudah iyaa tapi jangan lama"

"Iyaaa. Ya ampun. Tapi inget loh yaa, adek di jagain bukan malah di bikin nangis!"kata Caca memperingati.

"Iyaaa maa yaelah"balas Kenzie dan Caca akhirnya berjalan terburu-buru pergi ke toilet. Dan tersisa Kenzie dan Safi di ruang tengah.

"Apa liat-liat hah!? Mau ikut? Gak boleh!"ujarnya galak begitu mendapati Safi sejak tadi menatap ke arahnya.

"Mas baru sadar kalau telingamu lebar banget ya Safii. Kayak telinganya Yoda! Tau gak Yoda apa? Alienn! Ahahaha🤣"Kenzie sudah asik tertawa sambil memegang telinga Safi. Dia memanggil dirinya dengan sebutan Mas jika hanya berdua dengan Safi begini. Kalau di depan kedua orang tuanya sih Kenzie malu.

"Kamu mirip sama siapa Safi moo~? Perasaan Papa sama Mama gak ada tuh yang telinganya lebarr kayak Kamu. Hayoloh~anak pungut yaa? Eh eh apa jangan-jangann.. Kamu nih ketuker ya pas di rumah sakit!?"Kenzie berpura-pura membuat ekspresi kaget. Anak itu jelas sedang mengarang cerita sekarang. Sementara Safi yang tadi menatap kearahnya perlahan bibir bayi itu seketika tertarik ke bawah dan di ikuti dengan suara tangisan yang nyaring di ruang tengah.

"Nah kan mulai lagi dramanya"Kenzie menggulirkan matanya malas. Menurut Kenzie, Safi tuh tukang drama!

"Gak di apa-apain juga. Mas kan cuman becanda doang Safi. Dasar. Kamu nih belum ngerasain pahit manisnya kehidupan loh"ujarnya sok bijak.

"Udah diem yaaa.. Kamu mirip Kaffa sama Gita semuanya deh. Mas doang yang mirip sama Om Sean.."Kenzie menepuk-nepuk pelan kaki Safi menenangkan. Dia sebenarnya jadi panik sendiri begitu tangis adiknya semakin jelas terdengar di ruang tengah. Kenzie takut jika nanti Mama kembali dia bisa-bisa kena semprot Mama.

"Aus ya? Mau minum susu? Iya?"tanyanya yang tentu saja tak mendapatkan jawaban dari Safi. Kenzie melihat sekeliling dan menemukan botol susu adiknya yang berada di atas meja Ia lalu mengambilnya dan memberikannya ke mulut Safi. Tangis bayi itu otomatis berhenti.

"Dasar doyan nenen. Mirip--tau ah!"Kenzie jadi kesal sendiri mengingatnya. Dia hampir keceplosan bilang mirip sama Papa. Kenzie masih keinget kejadian kemarin. Untung saja yang dia dengar hanya sebatas itu kalau sampai yang lain-lainnya sih Kenzie bakalan langsung minta buat di pulangin ke pesantren saja. Papa dan Mama terlalu berbahaya buat tumbuh kembangnya Kenzie. 

"Kenapa orang dewasa masih suka nenen? Kalau Bayi kan wajar yaa suka trus itu kebutuhannya juga. Nah kalau orang dewasa? Aneh! Susu pisang mah enak. Lah ini? Gak ada rasanya! Hambar! Ya meskipun dulu juga pernah jadi favorit.. Tapi kalau Papa--ahh! Tuh kan!"

SON|| SEQUEL HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang