TOKK!! TOKK!! TOKK!!
"MAS!! Papa pulang!!"
Kenzie yang berbaring di atas kasur dengan tangan di atas kepala langsung menghela nafas malas mendengar suara teriakan adiknya dari balik pintu. Kenzie enggan beranjak dari posisinya dan menarik selimut sampai kepala.
"Adek masuk, yaa??"ujar Safi lagi.
Bunyi gedebug terdengar tak sampai sedetik usai pertanyaan Safi tadi. Suara langkah kaki anak itu terdengar nyaring di kamar Kenzie yang kedap suara. Kenzie merasakan gerakan diatas kasurnya dan Safi yang langsung naik keatas perutnya mencoba membangunkannya.
"Mas!! Papa panggil loh!"ujar anak itu sekali lagi sambil menarik selimut yang menutupi seluruh wajah kakaknya.
"Ck. Gak mau ke bawah. Sanaaaa"
balas Kenzie dan langsung merubah posisinya jadi miring membuat Safi terguling diatas kasur.
"Kenapa? Mas lagi sedih ya?"tanya Safi pelan karena tak mendapat respon dari kakaknya.
Kenzie tidak menjawab dan hanya menggeleng. Safi yang tentu saja tidak puas dengan balasan seperti itu kembali bangkit dan kali ini berusaha sekuat tenaga menarik selimut yang menutupi wajah Kenzie hingga akhirnya terbuka dan akhirnya melihat wajah kakaknya yang terlihat kacau.
"Kok mas nangis!"ujarnya terkejut. Kenzie yang kesal langsung menggendong Safi membanya keluar kamar dan langsung menutup pintunya setelahnya.
Kenzie kembali berbaring pada posisinya sebelumnya. Bunyi getaran ponselnya terdengar nyaring. Kenzie hanya melihatnya sekilas, Mikha baru saja menelfon. Nomor Esa dan Biru juga tertera sebagai panggilan tak terjawab. Notifikasi whatsApp dan dm instagram masuk silih berganti. Kenzie tak berencana membuka semuanya dan memilih men-silent ponselnya.
Kenzie kembali menarik selimut seperti posisinya tadi. Kalau berfikir Kenzie galau perkara tak sengaja melihat Mikha ketahuan jalan sama cowok lain di mall itu salah. Bukan itu masalahnya, Mikha sudah menjelaskan kalau itu sepupunya dan Kenzie tidak mempermasalahkan hal itu karena Ia juga sedang bersama dengan Keisha. Hal yang membuat Kenzie seperti sekarang jauh lebih buruk.
*******
"Biar aku ambilin minum"Caca terbangun tengah malam karena suara batuk Kaffa. Perempuan itu keluar kamar dan melewati kamar Kenzie yang pintunya terbuka setengah. Saat Caca mengintip kamar anak itu kosong. Caca lalu turun ke bawah dan mencium aroma mie goreng dari arah dapur. Caca tersenyum sambil menggeleng, Kenzie pasti lapar karena semalam anak itu tak mau turun saat mereka makan malam bersama.
"Mama juga mau dong, kak"
"Aih, mama ngagetin aja"Kenzie mengusap dadanya pelan terkejut dengan suara Mamanya yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Hehe maaf, mama ambil air minum buat Papa.. Nanti beneran buat mama dikit ya"
"Iyaa. Maa--aish"Kenzie langsung melap pipinya usai mendapat kiss di pipi. Caca hanya tertawa dan kembali ke kamar membawakan Kaffa air minum.
"Kamu mau kemana lagi?"tegur Kaffa saat Caca sudah di depan pintu.
"Mau ke bawah. Kenzie lagi buat mie, aku pengen. Udah kamu tidur lagi aja"kata Caca. Kaffa akhirnya mengangguk dan menarik selimut.
"Lampunya jangan lupa dimatiin lagi"
Caca mematikan lampu kamar lalu turun ke dapur. Kenzie sudah makan mie goreng dan Caca ikut bergabung dengan anaknya. Caca terus-terusan mengajak Kenzie mengobrol tapi hanya di jawab sekenanya. Kenzie bahkan sama sekali tidak tertarik dengan ucapannya.
"Kenzie mau ke kamar duluan ya, maa"kata Kenzie. Belum sempat Caca menjawab anak itu sudah menaiki tangga. Caca akhirnya menghabiskan mienya sendirian lalu menyusul ke atas. Saat kembali melewati kamar Kenzie, Caca mengintip ke dalam dan melihat Kenzie yang sedang berdiri melamun di depan jendela. Caca menghela nafas dan akhirnya memutuskan masuk. Pasti ada sesuatu yang salah dengan anak itu.
