"Ini udah di kulkas semua ya"ucap Caca sambil menyusun kotak-kotak makanan buat Kenzie.
"Papa udah siapin, nanti kamu tinggal angetin aja. Jangan keseringan makan mi instan nanti di sini"
"Iyaa, Maa. Yang itu bawa balik aja. Aku udah gak perlu banget"jawab Kenzie sambil menunjuk kotak sepatu.
"Disimpen aja disini. Siapa tau nanti kepake"
Di ruang tengah, Kaffa masih berusaha menenangkan Safi yang tangisnya tak juga reda. Drama yang sama seperti hari pertama saat mereka mengantar Kenzie ke Bandung. Tepat semingguan Caca dan Safi menemani Kenzie. Dan hari ini mereka benar-benar sudah harus pulang ke Jakarta.
"Gamau pulanggg…Mau di sini aja sama mas"ujar Safi lalu berlari menghampiri Kenzie dan langsung memeluk pinggang kakaknya tak mau lepas.
"Kan kamu juga harus sekolah, dek. Masa mau nemenin mas di sini?"bujuk Kenzie pelan. Safi menggeleng keras tak mau dibujuk.
"Mau sekolah di sini aja sama mas"sahut Safi cepat, seolah tak kehabisan akal. Keinginannya hanya satu, pokoknya harus tinggal dengan Kakaknya disini. Berapa kalipun Kenzie mencoba membujuk tak ada yang mempan. Safi sama sekali takau melepaskan tangannya dari leher Kenzie. Sampai-sampai Kenzie tak bisa ke toilet.
"Adek…"Kenzie menghela napas, setengah putus asa. Tangis Safi semakin nyaring. Tangannya makin kuat mencengkeram baju Kenzie, tak memberi celah sedikit pun.
Kaffa dan Caca saling pandang. Mau tak mau, mereka harus tegas. Dengan bujukan yang bercampur paksaan, Safi akhirnya bisa dipisahkan dari Kenzie meski sempat terjadi tarik-tarikan tadi. Anak itu menempel bak lem dibadan kakaknya. Kaffa berhasil menggendong Safi sampai ke parkiran.
"Papa sama mama pergi ya sayang ya. Kalau ada apa-apa langsung telfon"ujar Kaffa pamitan. Caca sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu menenangkan Safi yang memaksa untuk turun.
"Iyaa, Paa. Hati-hati di jalan. Nanti kalau udah sampe rumah kabarin aku juga"
Kenzie mencium punggung tangan Papanya. Mobil akhirnya bergerak meninggalkan halaman apartment.
Kenzie melambaikan tangan ke arah mobil orang tuanya yang kian menjauh. Sebenarnya Ia juga tidak tega melihat tangis adiknya seperti itu tapi harus bagaimana. Safi tidak mungkin tinggal bersama dengan Kenzie disini.
_________
Di dalam mobil, suasana akhirnya tenang. Safi tertidur pulas di dada Caca usai hampir sejam menangis sepanjang jalan, napasnya masih tersendat sisa tangis yang panjang. Caca menatap keluar jendela cukup lama sebelum akhirnya bersuara.
"Aku kepikiran…Gimana kalau kita nyari rumah di sini juga, mas. Kayaknya lebih bagus deh. Bisa deket sama Kenzie"kata Caca pelan. Kaffa melirik sekilas ke arah Caca, lalu kembali fokus ke jalan.
"Ya ampun, Caa. Baru juga semingguan Kenzie di sini. Masa kita ikutan pindah. Jakarta sama Bandung gak sejauh itu. Kita masih bisa sering nengokin Kenzie kok"balas Kaffa lalu menghela napas.
"Sebenarnya, aku masih belum siap jauh lagi sama Kenzie, mas"Caca menunduk sambil mengusap punggung Safi perlahan.
"Aku ngerti kamu masih berat, Caa. Aku juga ngerasain hal yang sama kok"kata Kaffa pelan lalu melirik sebentar ke arah Caca.
"Tapi tinggal sendiri di Bandung itu pilihan Kenzie. Dia yang minta buat tinggal sendiri dan bahkan gak mau tinggal sama Mas Henry"
"Aku ngomong gini bukan berarti kita juga sepenuhnya lepas tangan. Kita tetap nengokin, kalau perlu seminggu sekali juga bisa. Tapi sekarang… biarin dia jalanin keputusan yang dia ambil sendiri"lanjut Kaffa memberikan pengertian.
