Di ruang musik Kenzie duduk di atas meja sambil menggoyangkan kakinya. Sementara itu, ada Esa yang tengah mondar-mandir di depannya dengan wajah masam. Dari tadi, anak sulung Rena itu nggak berhenti ngomel.
"Mana tuh orang? Gak gentle banget! Gue udah bilang suruh ketemu di sini, eh malah gak nongol"gerutunya sambil melirik ke arah pintu.
Kenzie menghela napas panjang. Kenapa sih semalem gue mesti keceplosan...
"Saa, udah lah. Jangan ribut, di omongin baik-baik aja"bujuk Kenzie, mencoba meredam emosi sahabatnya itu. Esa langsung menoleh dengan tatapan tajam.
"Ngomongin baik-baik? Dia boleh deketin cewek manapun, tapi kenapa harus mantan gue juga?! Apalagi dia tau kalau gue masih naksir Nana!"balas Esa kesal.
Kenzie garuk kepalanya yang tak gatal.
"Yah, tapi kan udah mantan, Saa. Sah-sah aja sih sebenernya..."suaranya pelan banget, tapi tetap kedengeran sama Esa.
"Oh gitu. Jadi kalau misalnya lo sama Mikha putus, trus gue langsung deketin Mikha, lo gak papa, gitu?"kata Esal sambil tersenyum miring. Kenzie langsung terdiam. Wajahnya mendadak berubah, dan Esa jelas menangkap itu dengan jelas.
"Yah, kok gue sama Mikha sih yang jadi seumpamanya—"
"Nah kan! Lo aja gak mau ngebayanginnya. Gimana gue? Udah, lo diem aja deh, Zie"potong Esa cepat.
Kenzie mengembuskan napas pasrah. Baru juga mau jawab, eh tiba-tiba pintu ruang musik dibuka. Tian masuk dengan santai, diikuti oleh Biru di belakangnya. Tapi belum ada yang sempat ngomong, Esa langsung maju dan menarik kerah seragam Tian dengan kasar.
Biru dan Kenzie otomatis langsung kaget. Terlebih-lebih Biru yang gak tau apa-apa.
"Eh, Sa, lo apa-apaan? Kok gitu ama temen?"
"Udah, lo sama Kenzie diem! Ini urusan gue sama Tian!"
Tian melirik Esa dengan ekspresi santai, tidak terlihat terintimidasi sedikit pun. Anak itu malah tersenyum trus ngomong dengan santai.
"Oh, lo udah tau ternyata"Makin kesel lah Esa dengernya. Ia makin mempererat tarikannya di baju seragam Tian sambil melototin temennya itu tajem.
"Maksud lo apaan deketin Nana, hah?!" bentak Esa.
"Yah, karena gue naksir Nana. Kalian udah putus, kan? Terus masalahnya di mana?"balas Tian santai.
Kenzie langsung menepuk dahinya. Ya Allah, Tian… itu sih mancing banget namanya…
Dan benar saja, sebelum Tian sempat ngomong lagi, tinju Esa sudah melayang ke wajahnya.
Bugh!
Tian tersungkur ke lantai. Biru buru-buru maju buat buat ngebantu Tian berdiri, sementara Kenzie berusaha menarik tubuh Esa biar nggak nyerang lagi.
"Esa, udah!" seru Kenzie panik.
"Sumpah, lo tega banget sih, Sa?!" tegur Biru setelah melihat pipi Tian yang merah dan ada luka di bibirnya.
Tian melap darah di sudut bibirnya, lalu menatap Esa dengan tatapan dingin.
"Lo duluan ya yang mulai, jangan salahin gue" katanya sebelum maju dan langsung membalas dengan satu pukulan keras ke pipi Esa.
Bugh! Bugh! Bugh!
"TIAN!!" Kenzie dan Biru langsung berteriak bersamaan saat Tian menerjang Esa, mendorongnya ke belakang sambil ngasih bogeman mentah bertubi-tubi.
Esa tentu aja nggak tinggal diam. Anak itu balas mukulin Tian dengan amarah yang meluap-luap.
Kenzie dan Biru panik. Mereka berdua kualahan melerai dua bocah yang sama-sama lagi kesetanan itu.
