Caca menunggu sampai Safi benar-benar tertidur barulah meninggalkan kamar. Saat melewati kamar Kenzie yang pintunya terbuka sedikit, Caca tak sengaja mendengar suara Kenzie yang sedang asik video call an dengan Mikha. Caca hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan anaknya yang terdengar gombal. Entah belajar dari mana Kenzie mulutnya bisa manis begitu nge-gombalin anak orang.
Caca mengintip ke arah ruang kerja Kaffa, suaminya itu terlihat serius sekali. Caca memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil cemilan dan membawakannya ke ruang kerja Kaffa.
"Boleh masuk?"tanya Caca walaupun sebenarnya Ia sudah berada di dalam. Kaffa mengangkat alis sebagai balasan.
"Kamu mau ngomongin apa Ca?"Kaffa bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Kaffa tau, kalau Caca sudah datang ke ruang kerjanya begini perempuan itu pasti punya sesuatu yang ingin dibicarakan.
"Hehe tau aja kamu.. Ntar aja aku ngomongnya, kamu selesain aja dulu kerjaan"balas Caca. Perempuan itu berdiri di belakang Kaffa lalu memijat bahu suaminya.
"Ngomong aja, aku dengerin"ucap Kaffa lagi.
"Kamu udah ngobrol sama Kenzie soal kuliah lagi, belum? Bentar lagi dia udah mau lulus loh, Mas"kata Caca. Sekarang Kenzie sudah kelas tiga SMA. Hanya menunggu beberapa bulan lagi anak itu akan lulus sekolah.
"Udah Ca. Masalahnya, ini anak belum jelas mau ambil jurusan apa. Belum kelihatan minatnya di mana"balas Kaffa. Laki-laki itu akhirnya beralih dari layar laptop untuk menatap wajah istrinya. Caca menarik kursi dan duduk di sebelah Kaffa.
"Terakhir kali aku ngobrol soal kuliah sama Kenzie, tau nggak dia bilang apa?"Kaffa menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Caca dengan ekspresi lelah.
"Dia bilang mau jadi gamers Ca"ucap Kaffa sambil geleng kepala.
"Gamers? Yang bener aja"Caca menggeleng tak habis pikir dengan jawaban Kenzie.
"Makanya aku masih bingung itu anak kita arahnya kemana. Dari dulu kalau ditanyain kuliah jawabannya sama terus. Mau fokus main game. Dia pikir masa depannya cuman main-main aja, kali"ujar Kaffa berdecak. Laki-laki itu melepaskan kacamata dan menghembuskan nafas panjang.
"Mungkin Kenzie masih bingung, kita yang harus arahin Kenzie, Mas"kata Caca pelan. Perempuan itu meraih lengan Kaffa, mengelusnya pelan.
"Loh emang selama ini kita gak ngarahin? Emang dasar Kenzienya aja yang terlalu seriusin hobinya. Kalau dari aku sih jelas ya Ca. Aku pengen Kenzie ambil apa"balas Kaffa tegas. Lelaki itu menarik tangannya dari Caca.
"Kenzie gak bakal mau Mas"tolak Caca. Kaffa maunya Kenzie ambil jurusan Hubungan Internasional. Kenzie mana mungkin mau ambil itu.
"Makanya kamu bujuk, dia jauh lebih luluh kalau kamu yang ngomong"ujar Kaffa memotong ucapan Caca.
"Aku gak mau maksain sesuatu buat Kenzie. Aku mau bebasin Kenzie buat lakuin apa yang dia suka Mas"ucap Caca.
"Dia pernah bilang gamau kuliah loh Caa. Dia mau fokus nge-game aja katanya. Mau kamu dia keterusan begitu? Buat apa kita kerja mati-matian nyari uang buat masa depan dia kalau anaknya gak ada keinginan buat belajar"kata Kaffa serius. Lelaki itu menghembuskan nafas lagi.
"Kamu jangan ngomong gitu dong, Kenzie bukan gak ada keinginan belajar. Kamu sendiri kan liat perkembangannya dia dari kelas satu sampai sekarang gimana. Kenzie cuman belum nemuin passionnya aja"kata Caca sabar saat menyadari Kaffa yang mulai sensitif jika sudah membahas hasil belajar Kenzie.
"Trus maunya kamu, gimana?"ujar Kaffa pada akhirnya.
"Kalau memang Kenzie maunya disitu ya kita dukung--"
