"Ibu... udah nggak ada."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..."Kaffa memapah Caca untuk duduk di kursi terdekat, kaki perempuan itu gemetar dan terisak. Kenzie melepas earphone-nya memperhatikan Mama Caca yang sudah menangis.
"Aku mau pulang, mas. Bawa aku pulang hhh.."kata Caca menangis di dada Kaffa. Tangannya mencengkram kaus Kaffa. Air mata terus mengalir di pipinya.
"Iya sayang, kita pulang sekarang yaa"Kaffa langsung mengangguk dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengurus tiket pulang.
"Kenzie jagain mama disini, Papa urus tiket pulang dulu"Kenzie mengangguk dan menggantikan posisi Papanya duduk di sebelah Mamanya.
"Mbah uti udah gak ada Zie.. Ibunya mama udah gak ada.. Hhh.. Hati mama hancur, sayangg.."isak Caca. Kenzie menarik Mamanya ke pelukannya. Mengusap punggung mamanya yang bergerak naik turun karena menangis. Air mata juga jatuh dipelupuk matanya. Apalagi melihat mamanya serapuh ini. Kenzie tidak bicara apa-apa selain hanya terus memeluk dan mengelus punggung mamanya.
"Penerbangan paling cepat buat ke Indonesia masih satu jam lagi, Ca"ucap Kaffa yang kembali. Caca mengangguk dan langsung meminta Kenzie untuk langsung mengabari Om Dery. Safi yang sejak tadi tertidur di stroller tiba-tiba terbangun, ekspresi bingung terlihat di wajah anak itu apalagi melihat mama yang tengah menangis.
"Mama nangis kenapa, Papa??"tanyanya bingung. Caca mengulurkan tangan dan mengambil Safi dari dalam stroller, mendekapnya erat-erat. Kenzie sejak tadi menunduk diam-diam menghapus air matanya.
Setelah menunggu satu jam di bandara mereka kembali menaiki pesawat untuk langsung pulang ke Indonesia. Caca masih terus menangis sepanjang perjalanan, dan ditenangkan Kaffa. Di kursi sebelah, Kenzie memeluk Safi dan memberikan pengertian untuk adiknya.
"Mas.. Mama sedihhh"ujarnya. Bibirnya tertarik ke bawah dengan matanya berkaca-kaca melirik ke arah mamanya.
"Iyaa mama lagi sedih. Safi sama kaka dulu ya. Kasian mama dek.."
"Mama sedih kenapa?"
"Mbah uti meninggal"
"Meninggal itu apa?"
"Kayak kakak Kenzo"jawab Kenzie yang bingung harus menjelaskannya bagaimana untuk Safi. Tapi diluar dugaan anak itu mengangguk seolah paham dengan maksud Kenzie dan mengadahkan tangannya.
"Kita doa ya"ucapnya yang langsung teringat dengan apa yang mereka lakukan di makam waktu itu. Mulutnya bergerak seolah berdoa dalam diam. Tak ada kata yang benar-benar terdengar oleh Kenzie kecuali kata "Aamiin" yang terucap jelas dari mulut Safi.
________
Perjalanan yang mereka tempuh di dalam pesawat selama hampir 14 jam, pulang-pergi. Kaffa sekeluarga akhirnya tiba di bandara Soekarno-Hatta dan langsung mengambil penerbangan selanjutnya untuk lanjut ke Solo, rumah duka.
Mobil sewaan yang mengantar mereka akhirnya tiba di depan rumah orang tua Caca. Perempuan itu yang turun pertama dan melihat rumahnya yang sudah ramai oleh para kerabat yang telah menunggu. Kaffa, Kenzie dan Safi menyusul di belakang. Begitu memasuki rumah, Caca disambut istri Mas Dery, Mbak Shena yang langsung memeluknya dan membawanya masuk.
"Caca.."Mas Dery yang duduk disebelah ibunya yang di baringkan di ruang tengah. Kaki Caca seketika lemas dan perempuan itu langsung jatuh berlutut memeluk ibunya. Kenzie mengalihkan pandangan tak sanggup menyaksikan Mamanya seperti itu.
"Ibuu.. Gita pulang buu. Gita disinii.. Maafin Gita buu.."isaknya. Caca memeluk Mas Dery yang juga sama terisaknya dengannya. Shena dan Kaffa mengigit bibir dengan air mata yang mengalir di kedua pipi mereka.
