"Udah semua dimasukkin? Gak ada lagi yang ketinggalan?"
"Udah semua, Pa"Kenzie langsung masuk ke dalam mobil. Sementara Kaffa kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil Caca dan Safi yang masih siap-siap di kamar. Hari ini mereka akan mengantar Kenzie ke Bandung.
"Lohh.. Kok belum selesai siap-siapnya?"Kaffa membuka pintu kamar dan melihat penampilan Caca masih sama seperti tadi. Memakai baju rumahan dengan rambut di cepol asal.
"Liat tuh kelakuan anakmu"keluh Caca menunjuk Safi yang berdiri di pojok kamar tengah membelakangi mereka, belum memakai baju sama sekali. Tangannya bersidekap dada, jelas sedang merajuk.
"Kenapa belum pake baju dek?"Safi tak membalas, mulutnya manyun lucu dan langsung buang muka begitu Kaffa mendekat.
"Kalau kamu gapake baju, papa sama mama tinggal ya"ucap Kaffa mencoba menggertak.
"Pergi aja sana!"balasnya acuh. Bibir Safi mencebik melirik ke arah mereka berdua. Kaffa dan Caca sontak saling lirik kaget. Baru kali ini Safi membalas dengan nada begitu.
"Adek kenapa sih?"tanya Kaffa pelan dan mendekati si bungsu mencoba membujuk.
"Dia tuh gamau berangkat mas Kaffa"sahut Caca.
"Kenapa gamau? Kita kan mau nganterin kaka sekolah"Safi malah menggeleng dan lamgsung menangis mendengar ucapan Kaffa barusan.
"Ndak mau mas pergiiii... Huaaa.. Mas disini ajaaa. Gaboleh kemana-manaa"tangis Safi keras sambil memukul tangan Kaffa yang mendekatinya.
"Mas kan harus sekolah dekk"
"Disini kan bisa Papaaa.. Hhuuuhu"
tangis Safi makin nyaring tak mau diambil Caca ataupun Kaffa.
"Kenapa lama banget sih, kita berangkat jam berapa kalau kayak gini?"Kenzie tiba-tiba sudah berada di depan pintu. Safi yang melihat kakanya langsung menghampiri dan memeluk kaki kakaknya. Kenzie yang akhirnya paham memberi kode pada kedua orang tuanya untuk membujuk Safi lebih dulu. Caca dan Kaffa menunggu di luar. Tak sampai lima menit Kenzie keluar bersama dengan Safi yang sudah berpakaian.
"Pakein minyak wangi maaa"ujar anak itu. Kaffa dan Caca langsung lega, Safi memang harus diatasin sama Kenzie dulu. Anak itu lebih nurut sama kakaknya sekarang.
________
"Adek ayo ke depan sini duduk sama mama"ajak Caca iseng lantaran melihat si bungsu yang sekarang terlihat lengket sekali dengan si sulung. Mereka bermain ipad bersama.
"Gamaaau"seperti yang sudah di tebak, Safi menjawab tanpa pikir panjang.
"Lah masa sama mama gamau"Caca tertawa sambil melirik Kaffa yang tengah menyetir.
"Adek mau disini sama mas, kalau duduk di depan nanti mas ilang"Safi menggeleng kuat-kuat sambil memeluk lengan Kenzie.
"Kakak mana bisa ilang sih dekk, kan semuanya ada di dalam mobil"Kaffa geleng-geleng kepala tapi ikut terkekeh mendengar balasan si bungsu. Sementara Kenzie tak ikut menyambung, sudah terbiasa dengan drama adiknya.
"Tapi kalau pindah ke depan, mas jadi jauh. Kalau jauh nanti mas pergi"Safi kembali membalas. Tiga orang dewasa di mobil refleks diam dan saling pandang. Pemikiran sederhana dari adiknya membuat hati Kenzie mencelos.
"Tuhh udah giliran kamu"ucapnya lalu memberikan ipad ke tangan Safi. Kaffa dan Caca tersenyum diam-diam. Senang melihat keakraban keduanya.
Di tengah perjalanan menuju Bandung, Caca tak sengaja melirik keluar jendela, matanya melihat sepasang kekasih yang berhenti di depan toko bunga. Si laki-laki turun, memilih seikat bunga mawar dengan gerakan canggung, lalu memberikannya pada pacarnya yang langsung tertawa malu-malu. Caca refleks menyenggol lengan Kaffa yang tengah menyetir.
