Menangis di jalan pulang

2.9K 349 130
                                        

Kaffa dan Sean sampai di bandara. Keduanya duduk di kursi tunggu sembari menunggu waktu penerbangan. Kaffa terus mengecek ponselnya membalas chat-chat yang masuk silih berganti. Entah dari grup kelas mahasiswanya, grup dosen, atau chat personal dari mahasiswanya yang meminta tanda tangan ataupun bimbingan.

"Mas.. Ayo buruan. Udah mau berangkat"

"Ahh iya. Bentar..."

Kaffa sudah berdiri dan berjalan mengikuti Sean. Begitu Ia hendak mengaktifkan mode pesawat panggilan telfon dari nomor Keisha. Kaffa mengernyit perasaannya jadi tiba-tiba tidak enak begini. Ia lalu langsung mengangkat panggilan telfon dan meminta Sean untuk jalan duluan.

"Haloo Keii, ada apa?"

📞Om Kaffa.. Hikss.. Tante Caca...

"Kenapa sama Caca?!"ujarnya yang seketika panik.

📞Aku sama Rio ada dirumah sakit sekarang. Tante Caca masuk rumah sakit Om.. Tadii.. Tadii pas Aku tinggal kebawah bentar buat ambil bubur pas Aku balik ke atas tante Caca gak sadarr.. Hiksks..

"Trus sekarang gimana keadaannya Keii?"

📞Masih di periksa dokter.. Hiks.. Tante manggil nama Kenzie terus.. Nyebut nyebut Kenzo juga Aku kan takut Om..

Kaffa mengigit bibirnya, lelaki itu mengecek jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi pesawat yang akan membawa Mereka pergi akan segera berangkat. Kaffa tidak mungkin kembali.

"Keii, Om minta tolong Kamu jagain tante yaa. Om sama Papamu lagi di jalan mau jemput Kenzie. Nanti kalau Mamanya sadar bilang Kita udah di jalan mau pulang yaa"

📞iiyyaa.. Omm.. Hati-hati. Cepet bawa pulang Kenzie. Kasian tante Caca.. Hikss.. Rio tolong ambilin tissue dong.

"Keii Om matiin telfonnya. Om harus pergi sekarang"

📞Uhm.. Iyaa.

Usai panggilan telfon berakhir Kaffa langsung berjalan menyusul Sean. Lelaki itu meremat kuat tangannya kemudian menghela nafas. Coba saja seandainya Kenzie tidak menghilang Caca tidak mungkin drop dan sampai masuk rumah sakit. Kenzie betulan keterlaluan. Kaffa yang niat awalnya pergi kesana dan hendak berbicara baik-baik sekalian membujuk anaknua itu untuk pulang jadi sudah kehabisan kesabaran juga.

Sean yang duduk di sebelah Kaffa sejak tadi di buat tak enak sendiri. Ia ingin mengajak mengobrol kakaknya tapi nyalinya sudah keburu ciut duluan melihat Kaffa yang sejak tadi hanya diam. Belum lagi lelaki itu terus terusan menghela nafas kasar dan giginya bergemelatuk. Waduh. Dia tiba-tiba jadi khawatir dengan nasip ponakannya kalau seperti ini.

Sean sudah mengenal Kaffa luar dalam dan kakaknya itu bukan tipe orang yang gampang tersulut emosinya. Tapi sekalinya dia marah maka dia betulan akan lepas kendali. Ucapannya bisa sangat menyakiti, Sean pernah menjadi testimoni beberapa kali. Tapi karena dia orangnya gampang lupa ucapan Kaffa yang seperti itu tidak mau Ia ambil hati. Sean hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja. Dia memang terlalu santai pada hal apapun.

"Keren Kenzie kaburnya ke pesantren, berakhlak banget anakmu Mas. Beda banget sama Keisha. Dia malah kabur pergi bareng sama temen-temennya ke Bali trus party party.. Menghadeh"

Krikk krikkk~

Ucapan Sean barusan tak mendapatkan balasan. Kaffa hanya diam saja, lelaki itu memijat kepalanya yang terasa semakin pening. Sean akhirnya memakai airpodnya. Yasudahlah. Dia mau tidur saja. Dari pada bicara hanya akan di anggap Kaffa sebagai polusi.

-------

Setelah perjalanan selama satu jam empat puluh lima menit. Pesawat yang di tumpangi Kaffa dan Sean akhirnya lepas landas di bandara internasional Banyuwangi. Keduanya langsung mencharter mobil untuk pergi ke tempat lokasi pesantren Kenzie.

SON|| SEQUEL HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang