Farewell

1.2K 138 20
                                        

Kenzie langsung menutup laptop usai membaca hasil pengumuman yang lagi-lagi menyatakan dirinya tak lolos seleksi. Kenzie menghela nafas panjang sambil menggigit bibir bawahnya. Air mata yang ditahannya sejak tadi perlahan turun dipipinya. Tangannya spontan memukul kepalanya merasa telah gagal lagi dan lagi. Padahal Kenzie betulan berharap banyak pada hasil ujiannya kali ini. Sekarang sudah berakhir bahkan untuk tes mandiri pun Kenzie seolah sudah tak ada harapan.

"Gimana mas Kaffa?"tanya Caca menepuk pelan pundak Kaffa. Lelaki itu menoleh kemudian menggeleng.  Caca yang hendak masuk ke kamar Kenzie langsung dilarang Kaffa.

"Jangan sekarang Caa, kasih dia waktu sendiri dulu"ucap Kaffa yang menggeret Caca masuk ke kamar mereka.

"Kasian Kenzie, Mas.. Anak kita udah berusaha. Masa sih Kenzie gagal masuk seleksi lagi?"

"Mau gimana lagi kenyataannya begitu Caa"

"Apa gak ada cara lain biar Kenzie bisa masuk di Univ yang dia pengen? Tolong bantu Kenzie mas Kaffa.. Aku gak tega ngeliat Kenzie makin terpuruk setelah ini"

"Masih banyak jurusan lain yang terbuka lebar kalau Kenzie mau. Tapi masalahnya Kenzie ngotot pengen jurusan itu, Caa. Teknologi Informasi memang peminatnya banyak dan otomatis saingannya berat. Kenzie masih punya kesempatan masuk Univ yang dia mau tapi jelas bukan di jurusan yg dia pengen"

"Kenzie maunya disitu.."cicit Caca hampir seperti bisikkan.

"Nah, itu dia masalahnya. Kenzie terlalu fokus sama jurusan itu padahal peluangnya kecil. Kalaupun nanti dia mau ambil tes lagi kemungkinan buat jurusan TI udah banyak yg gak di buka karena kuotanya penuh. Jalan satu-satunya Kenzie ambil jurusan lain atau nunda setahun buat mantapin skill"

"Apa kamu... gak bisa buat masukin Kenzie lewat koneksi kamu?"ucap Caca sambil menatap Kaffa lekat-lekat. Kaffa tak langsung membalas. Lelaki itu terdiam lama, jelas terdapat pergulatan batin di balik wajah tenangnya.

"Kamu bisa kan, mas?"ulang Caca lagi. Kaffa menghela nafas panjang.

"Aku kenal beberapa rekan dekan yang bisa kumintain tolong dan mereka pasti bisa bantu. Tapi, itu bukan jalan yang benar Ca, kamu jelas tau itu"ucap Kaffa yang langsung membuat Caca terdiam menunduk. Kaffa bisa melihat bahu istrinya bergerak naik turun. Menangis.

"Sesuatu kalau dimulai dari hal yang gak baik juga gak akan memberikan hasil yang baik. Dan aku gak mau kasih jalan yang gak berkah buat anak sendiri"kata Kaffa lagi memberikan pengertian. Caca mengangguk paham.

"Maaf aku nyaranin sesuatu yang gak baik kayak tadi. Aku cuma gak tega ngeliat Kenzie sedih terus.."

"Begitupun aku Caa, aku juga gak tega ngeliat Kenzie gagal lagi tapi untuk saat ini hanya Kenzie yang bisa menolong dirinya sendiri"Kaffa menarik Caca ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung perempuan itu.

******

"Mas kok gak makan, maa?"tanya Safi melihat kursi di depannya kosong. Biasanya Kenzie yang duduk disana.

"Mas belum laper, dia makan nya nanti. Ayo, adek baca doa dulu sebelum makan"kata Caca lembut. Safi tiba-tiba menggeleng lalu mendorong piringnya membuat Caca dan Kaffa saling pandang bingung.

"Adek mau makan sama mas aja"
ujarnya menolak.

"Loh gabisa gitu dong dek, kamu makan sekarang bareng sama mama papa. Kakamu nanti, ayo dong makan. Kasihan itu nasinya udah disendokin mama"ujar Kaffa mencoba membujuk si bungsu tapi Safi tetap menggeleng bahkan menutup mulutnya rapat-rapat saat Caca menyuapinya.

"Ndak mauuu! Maunya sama mass!"
protesnya lalu turun dari kursi dan berdiri di depan kulkas dengan tangan bersidekap di dada. 

"Yaudah ambil piring kamu makan sana depan kamarnya kaka"balas Kaffa tak ingin meladeni ngambeknya si bungsu lama-lama.

SON|| SEQUEL HUSBANDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang