Sore hari itu, Maulana mengajak istrinya jalan-jalan sekitar rumah, menikmati suasana yang cerah dan hangat. Mereka memutuskan untuk menuju lapangan daerah tempat tinggalnya, di mana sedang berlangsung turnamen sepak bola yang meriah.
Saat mereka tiba, suara sorak-sorai penonton dan dentuman bola yang dipukul memenuhi udara. Maulana dan istrinya menikmati suasana yang hidup, menonton pertandingan sepak bola dengan gembira.
Mereka berdua berdiri di pinggir lapangan, menikmati pertandingan dan bersorak bersama penonton lainnya.
Fira teringat saat dirinya berada di kampung bersama kedua orang tuanya dan Sean, Ayahnya sangat suka membawanya ke lapangan untuk nonton sepak bola tingkat Desa.
Fira menoleh pada seorang penjual aneka jajanan digoreng di pojok tepi Lapangan, ia tersenyum sendiri, dulu dirinya sangat ingin membeli namun harus sabar karena dirinya tidak selalu memiliki uang untuk membeli.
Maulana berjongkok di tepi lapangan, sedangkan Fira berdiri di belakang Maulana, gadis itu takut terkena bola.
Perlahan Fira ikut jongkok di belakang sang Suami, jemari mungilnya bermain di atas punggung pria itu, terkadang membuat tulisan dan terkadang membuat gambaran meski tidak terlihat.
"Mas, aku mau beli hongkong." Fira berbisik si belakang sang Suami.
Dahi Maulana berkerut mendengar nama yang ingin dibeli sang Istri, Hongkong adalah nama sebuah negara, meski mungkin dirinya bisa mengusahakan untuk membelinya namun siapa yang mau menjual sebuah negara?
Maulana menoleh pada sang Istri."Sayang, untuk apa kamu membeli sebuah Negara?"
"Siapa yang mau beli Negara?" Fira mengerut kesal, ia ingin beli kue yang terbuat dari campuran terigu, kecambah kecil dan irisan wortel tipis kemudian digoreng berbentuk bulat.
"Bukankah tadi kamu mengatakan ingin membeli Hongkong?" Maulana memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Iya, tapi bukan nama Negara juga yang ku maksud. Aku mau kue gorengan sebelah sana." Fira menunjuk pedangan wanita yang sedang menggoreng bakwan.
Maulana mengikuti arah tunjuk gadis itu."Itu ... Maksud mu kamu ingin membeli bakwan sayur?"
Fira menoleh pada sang Suami."Bakwan?"
Maulana mengangguk."Iya, itu ibu-ibu itu menjual bakwan, tahu isi, pisang goreng. Kamu mau itu?"
"Itu di tempat ku namanya kue hongkong dan tahu berontak, Mas." Fira menjelaskan pada Maulana.
"Ta-tahu berontak?" Maulana tertawa terpingkal-pingkal mendengar nama kue yang disebutkan sang Istri.
"Ih, Mas malah tertawa. Kasih aku uang, aku mau beli." Fira memukul pelan punggung pria itu.
"Iya, Sayang. Mas hanya merasa lucu saja, ternyata bukan hanya manusia saja yang suka memberontak, tahu pun ada yang memberontak." Maulana mengambil dompetnya lalu menyerahkan pada sang Istri.
"Bawa saja dompet Mas, kamu bisa pakai sesuka mu."
Fira meraih dompet Maulana, lalu bangkit dari posisi jongkoknya dan berjalan menuju penjual kue aneka jajanan digoreng itu.
"Adiknya ya, dek?" tanya seorang bapak-bapak di samping Maulana.
Maulana menoleh pada bapak-bapak itu."Bukan, itu Istri saya." Maulana menjawab dengan senyuman.
Bapak-bapak itu mengangguk."Adek sepertinya sangat memanjakan Istrinya."
Maulana tersenyum."Saya hanya ingin membuat Istri saya merasa nyaman dan bahagia bersama saya."
Bapak-bapak itu mengangguk."Benar, saya memiliki anak perempuan. Namun dia tidak seberuntung Istri adek, anak saya sekarang kerja di luar negeri. Suaminya punya banyak hutang, anak saya dikirim ke luar negeri oleh Suaminya."
Maulana mengangguk, dalam hati merasa heran dengan sikap Suami seperti itu, seorang Istri harusnya tidak boleh pergi sendiri keluar kota apalagi keluar negeri, tapi ini malah dikirim untuk melunasi hutang Suaminya.
Bapak-bapak itu menundukkan pandangan."Dia memiliki kewajiban penuh pada Suaminya, dia hanya ingin menjadi Istri yang baik, namun salah memilih Suami."
"Bapak yang sabar, berdoa pada Allah. Saya yakin, anak Bapak akan mendapatkan keberkahan, karena dia ingin berbakti pada Suaminya." Maulana berkata dengan sabar, meski dalam hati sangat menyayangkan sikap seorang Suami yang tidak bertanggungjawab seperti itu terhadap Istrinya.
Tidak lama kemudian, Fira datang dengan membawa sekantung kresek berisi berbagai macam jenis jajanan digoreng, ia mendudukkan diri di samping sedikit kebelakang sang Suami.
Fira mengambil dua bakwan dan dua cabe hijau kecil, setelah menyodorkan sisanya pada sang Suami."Mas."
Maulana mengalihkan perhatian pada sang Istri, ia meraih kresek tersebut lalu menawarkan pada bapak-bapak tadi."Ini, Pak. Silahkan dimakan."
Bapak -bapak itu mengangguk kemudian mengambil satu pisang goreng, Maulana mengambil tahu isi, ia menoleh pada sang Istri.
Maulana tersenyum melihat Fira makan dengan lahap seperti memakan makanan palinga enak di dunia, kemudian kembali mengalihkan pada pertandingan sepak bola.
Waktu menunjukkan pukul 17:00, Maulana bangkit dari tempat duduknya, ia menepuk-nepuk pelan celananya.
Fira iku berdiri, pertandingan belum selesai namun waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, artinya sebentar lagi Magrib.
"Sayang, kamu masih ingin menonton pertandingan?" Maulana bertanya pada Fira.
"Tidak, sejak tadi aku tidak menonton. Aku duduk di belakang Mas karena takut kena bola." Fira menjawab sambil membersihkan pakaiannya.
Maulana mengangguk."Baiklah, ayo kita pulang. Sebentar lagi Magrib, kita harus ke masjid."
Fira mengangguk, mereka pun berjalan meninggalkan lapangan.
Sore hari itu, Maulana dan Fira berjalan kaki pulang dari lapangan setelah menonton pertandingan sepak bola. Mereka menikmati suasana sore yang hangat dan cerah, dengan matahari yang mulai terbenam di cakrawala. Udara sore dipenuhi dengan aroma bunga dan tanaman yang segar, serta suara burung yang bernyanyi lembut. Mereka berdua berjalan beriringan, sambil sesekali berbicara dan tertawa tentang pertandingan yang baru saja mereka tonton. Jalan yang mereka lalui dipenuhi dengan bayang-bayang pepohonan yang memanjang, menciptakan kontras yang indah dengan cahaya sore yang masih menyinari. Maulana dan Fira menikmati kesunyian sore hari, sambil menikmati kebersamaan mereka. Suasana sore yang damai dan tenang membuat mereka merasa nyaman dan bahagia.
"Mas, besok nonton lagi ya?" Fira menoleh pada sang Suami.
"Kenapa? Bukankah kamu tidak suka menonton sepak bola?" Maulana menjawab sambil berjalan.
"Aku mau beli hongkong lagi, aku suka. Tapi aku mau beli lebih banyak, tadi aku beli hanya 5000. Kembaliannya aku taruh kembali di dompet Mas." Fira tersenyum sendiri, ia menggerakkan tangan meraih tangan Maulana lalu menggenggamnya lembut.
Maulana tersenyum kecil."Kenapa tidak kamu ambil saja? Mas tidak pernah menyimpan uang kecil."
"Aku tahu, tadi aku tidak pakai baju yang ada sakunya." Fira menggoyang-goyangkan tangan Maulana, maju dan mundur.
Maulana mengangguk, sesekali ia menyapa para pejalan kaki lainnya yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Mas suka nonton sepak bola ya?" Fira kembali bertanya.
"Tidak terlalu, Sayang. Tadi sebenarnya Mas hanya ingin mengajak mu menikmati udara sore saja." Maulana menjawab sambil menoleh sejenak pada sang Istri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
