Mencoba bangkit dari masalah hatinya, hari ini Lia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Apalagi setelah para staf menghubunginya berulang kali, baru kali ini akhirnya Lia menyanggupi dan pergi ke sana untuk membicarakan perihal ibunya dan juga tagihan yang masih harus dibayarkan.
Gadis itu meminta keringanan. Lia menceritakan apa saja yang sudah terjadi padanya dan bagaimana Melisa memutuskan untuk mengakhiri hidup. Akta kematian tak lupa gadis itu bawa sebagai bukti. Pihak rumah sakit berbela sungkawa. Mereka setuju untuk meringankan beban Lia dengan membiarkan ia mencicil, bahkan menghubungi pihak manajemen senior agar tagihannya dianggap lunas. Segala cara mereka gunakan untuk membuat tanggungan si gadis seringan mungkin.
Beres berbicara dengan para orang yang bertugas, Lia lantas naik ke lantai atas. Masih ada beberapa barang Melisa yang tertinggal di rumah sakit. Maklum, wanita itu tinggal cukup lama. Dan ketika pulang, Melisa juga sepertinya tak membawa banyak barang karena ia kabur secara sembunyi-sembunyi.
Kamar milik Melisa dulu kini telah diisi kembali oleh orang lain. Perawat yang menyimpan barang sang bunda memberikannya dengan hati-hati. Lia bersyukur mereka tidak membuangnya. Bagaimanapun, Melisa meninggalkan rumah sakit ini bukan dengan cara baik-baik, Lia juga menutup akses komunikasi ke rumah sakit setelahnya karena terpukul. Mengetahui bekas peninggalan Melisa masih disimpan dengan rapi setelah berhari-hari, Lia tersenyum dan menunduk dalam.
"Terima kasih banyak," gumam Lia. "Saya juga mau minta maaf kalau selama tinggalnya ibu di sini kadang merepotkan."
Si perawat tersenyum. "Itu gapapa. Nyonya Melisa itu bukan tipikal pasien yang bikin repot kok, dia orang yang baik. Saya juga ikut berduka cita atas kematiannya."
Lia mengangguk, meskipun begitu sorot sedih matanya tak pernah hilang.
"Ibu kadang cerita juga soal Anda. Dia bilang Anda salah satu perawat yang paling ramah. Makasih banyak soal itu. Saya jarang bisa nemenin ibu karena sibuk kerja. Dipikir-pikir ibu pasti kesepian. Jadi makasih banyak udah mau ngobrol sama ibu."
Mendengar ucapan yang sangat tulus, wanita itu menunduk dengan senyuman pahit.
Sebagai seorang perawat, kehilangan seorang pasien oleh maut bukanlah suatu hal yang jarang ia lihat. Bagaimanapun ia bekerja di rumah sakit. Sudah ratusan orang ia temui dan layani. Beberapa di antaranya kembali melebarkan senyuman, beberapa di antaranya lagi tak dapat diselamatkan. Meskipun begitu ...
Ia langsung menarik Lia ke dalam dekapan.
Ini mungkin adalah yang pertama kalinya pasien yang ia rawat justru datang sendiri menuju kematian.
"Kamu yang sabar ya."
Si perawat memeluk erat. Mata Lia berkaca-kaca. Sebelum satu tetes terjun, gadis itu langsung menyekanya dengan tangan. Ia mengangguk-angguk, kemudian mundur lagi dua langkah melepas pelukan. Bibirnya tersenyum menyembunyikan rasa sakit.
"Makasih."
Untuk yang kesekian kalinya ia lagi-lagi berterima kasih.
Si perawat mengangguk. "Ibu kamu pasti bangga punya anak kayak kamu." Ia membelai pipi Lia pelan. "Kamu anak yang kuat, cantik, pekerja keras. Saya bisa lihat dengan sangat baik kalau beliau sangat sayang dengan kamu."
Pegangan Lia mengerat pada barang-barang milik Melisa di tangan. Ia tak tahu harus merespons apa. Jika boleh jujur ... ucapan perawat tersebut sebenarnya makin membuat Lia merasa sedih saja.
Melihat Lia yang tak kuat menahan bendungan perasaan, si perawat pun paham. Atensinya kemudian teralihkan pada barang bawaan si gadis yang ternyata cukup banyak.
"Apa kamu pergi ke rumah sakit sendirian? Teman kamu mana?"
Lia mendongak. "Hmn?"
"Barang-barang ini cukup banyak, teman kamu gak ikut?"
KAMU SEDANG MEMBACA
FIGURAN
Romansa🌹 FIGURAN blurb : Shīna Gayatri bukanlah tokoh utama. Dia, hanyalah seorang figuran ... Melihat tokoh utama wanita yang disiksa, melihat tokoh pria yang berjuang mati-matian untuk si cewek, juga melihat si Antagonis yang selalu membuat masalah. Di...
