84 | Hotel

420 94 29
                                        

"Apa kamu lama nunggu?"

Pertanyaan itu sontak membuat si pria yang tengah sibuk dengan ponselnya langsung teralihkan.

Shīna tersenyum, ia menggeser kursi pelan lalu duduk dan mulai membuka buku menu, memesan.

Kai memandangi Shīna dari atas sampai bawah, layar putih itu dimatikan. "Lo udah kelihatan mendingan."

"Hn?" Maniknya terpanggil oleh suara si pria. Beres memesan, Shīna juga mulai bersiap untuk memasuki percakapan. "Ya, ini udah cukup lama. Make-up juga ngebantu banyak."

Kai tak memberikan tanggapan lebih, sorot wajah dan bahasa tubuhnya begitu tenang. Sejak awal hubungan mereka bukanlah suatu hal yang hangat. Atau mungkin lebih tepatnya ... berjarak. Tak ada yang spesial. Bertemu dan menghubungi ketika perlu. Bahkan meski ada di klub yang sama sebelumnya ... tak pernah ada satu pun obrolan pribadi yang pernah mereka buat.

"Jadi apa yang mau lo bicarain?" Kai langsung fokus ke inti permasalahan. Mereka ini jelas tak dekat, jadi tentunya Shīna tak sekadar hadir untuk main dan mengobrol dengannya, kan?

"Aku mau minta tolong."

Sendoknya pada es krim vanila yang ia pesan berhenti untuk sesaat. Kai menjaga ekspresi, pria itu kembali meneruskan aktivitasnya dan memakan sesuap es krim dari gelas. "Lanjutin," konfirmasinya.

"Ya. Jadi aku-" Shīna teralihkan. "Ah makasih, Kak!"

Gadis itu tersenyum sumringah melihat datangnya pelayan yang membawa pesanan. Shīna mengambil sendok miliknya dan mulai ikut memakan es krim yang baru saja datang.

Kai terdiam untuk sesaat. Shīna ini meminta janjian di kafe es krim sepertinya memang bukan untuk bicara saja ya?

Terlihat jelas sekali bahwa gadis ini pun memang menyukai es krim.

Sebenarnya Kai juga tentu tak masalah dengan hal ini. Begitu tiba pun ia sendiri langsung memesan es krim miliknya. Namanya janjian di sebuah kafe tentu saja ia pun harus memesan sebagai sopan santun, kan?

Mereka diam setidaknya selama 10 menit untuk makan. Hingga Kai menjadi orang pertama yang es krimnya habis ... pria itu mulai bosan. Shīna sebenarnya tak datang terlambat. Gadis itu datang 10 menit lebih awal. Masalahnya Kai sendiri sudah datang 30 menit sebelumnya. Jadi ketika es krim Shīna masih ada ... milik Kai sudah habis masuk ke dalam perut.

"Lo boleh lanjutin." Kai kembali mengingatkan.

Di balik gelas-gelas tersebut, Shīna yang terinterupsi memperlihatkan bulat matanya. "Kamu lagi buru-buru ya?"

"Kurang lebih, gue cukup sibuk," sambung si pria.

Shīna memasukkan suapan lainnya, mengangguk-angguk. "Tapi kamu nyempetin diri buat ketemu aku!"

Satu alis Kai naik, meski begitu ia sendiri pun tak menolak pernyataan yang Shīna berikan. "Ya, jadi gue harap percakapan yang lo punya cukup penting."

Sendok itu ditaruh di atas meja. "Kalau gitu sebelumnya aku mau minta maaf, karena arah pembicaraan ini bakalan lebih ke keuntungan aku pribadi."

"Hn?"

"Kai, agenda pekan olahraga SMA TRIVIA itu bentar lagi, kan?"

"Ya."

Shīna menaruh kedua tangannya di atas meja. "Aku cuma mau tanya, apa pekan pertandingan kali ini bakalan dibuat live streaming?"

"Live streaming?"

Kai tak begitu paham arah pembicaraan Shīna. Kenapa juga gadis itu peduli untuk masalah-masalah teknis seperti publikasi? Toh ia bukan bagian dari tim panitia, kan?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 5 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

FIGURANCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang