Selamat Membaca📖
"Iya, gue gak marah, tapi gu—“
"Duh! Kenapa ini handphone pakai mati segala?! Pasti Vani makin marah. Aduh gimana ini?" Tasya takut Vani semakin marah padanya. Ia sungguh cemas.
Buru-buru, Tasya mengisi baterai handphone-nya. Berharap perkaranya dengan Vani tak semakin melebar.
"Van... andai kamu tahu, jadi anak yang berbakti itu berat, banyak resikonya. Ini salah satunya, dimusuhi temen sendiri. Kamu gak tahu kan, aku bela-belain belajar keras, agar bisa ikut ginian,” Tasya menghela napasnya dengan kasar.
------------------------------------------------------
"Tuh kan? bener apa gue bilang, si Tasya sombong banget. Malah dimatiin lagi. Gue kan belom selesai ngomong,” gerutu Vani di seberang sana.
"Ya udah deh, bodo amat Gue gak peduli! Mending stalking abang cogan aja, ” Vani tersenyum dan memulai aksinya.
"Anjirr... si Exel cool banget! Gila ini anak, ganteng banget. Tapi, dia udah taken belum ya?" Vani berpikir dan mulai menampilkan senyum-senyum tak jelas di wajahnya. Bahkan terkadang, ia tertawa lebar. Benar-benar mirip orang gila yang harus secepatnya ditangani pihak rumah sakit jiwa.
Akhirnya, mata Vani mulai mengantuk. Entah dimulai sejak kapan, ia bisa tertidur tanpa harus belajar terlebih dahulu.
Di tengah tidur nyenyaknya, Handphone Vani berbunyi. Ia memang lupa memindahkan handphone-nya itu.
Tasya Adriell is calling...
Karena masih setengah sadar, Vani langsung mengangkatnya. Ia tidak sempat melihat nama penelepon yang tertera di layar ponselnya.
Di sisi lain, Tasya senang saat teleponnya ternyata diangkat.
"Halo...,” sapa Vani dengan suara khas orang setengah sadar.
"Ehh! Iya Van, aku mau minta maaf. Tadi, Handphone-ku mati. Baterainya habis,"
"Oh... jadi, lo nelpon malam-malam gini cuma mau bilang ginian?” Vani menaikkan satu oktaf suaranya.
"Bukan... aku mau dengar kelanjutan ucapanmu yang menggantung tadi,"
"Yang mana?"
"Yang kamu gak marah. Tapi, kamu... kamu apa?"
"Oh itu, gue gak marah kok, Santai aja. Gak usah minta maaf gitu,” Vani membuat Tasya menghela napas lega. Namun, ia melanjutkan kembali perkataannya.
"Tapi, gue kecewa sama lo, Sya!" balasnya penuh penekanan.
"Gue kecewa, kecewa banget sama lo. Gue, udah bela-belain tetap jagain persahabatan ini. Tapi, kenapa jadi lo yang ngerusak?! Lo udah bosen temenan sama kita-kita? Lo udah senang ya dapat teman baru di sana?" Vani menumpahkan seluruh amarahnya.
"Van, please dengerin aku dulu, aku sama sekali gak niat gitu,” ucap Tasya dengan nada sendu, ada banyak rasa bersalah yang bergantung di dalam hatinya.
"Gak gitu gimana? Lo ngejauh dari gue gara-gara gue gak kaya lagi kan seperti dulu?” Entah setan apa yang merasuki Vani. Sampai-sampai, ia menyakiti hati Tasya. Vani seperti tak mampu mengendalikan dirinya lagi untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirinnya.
"Enggak Van, enggak.. aku di sini ikutan lomba. Aku juga baru pulang tadi sore, kalian yang pertama kali aku telepon,” Tasya mencoba memberikan pengertian.
"Lomba apa? Lomba ninggalin temen? Hah?!" Vani mengejek dengan senyum sinisnya yang tak mungkin dilihat oleh Tasya. Namun, terdengar jelas nada ejekan dari pengucapannya.
"Enggak, Van. Aku ikut OSK beberapa bulan lalu, dan aku terus berlanjut ke OSP sampai OSN,” Tasya berucap lemah.
"OSN? Olimpiade Sains Nasional?" tanya Vani yang mulai melembutkan suaranya.
"Iya, Van.” Tasya menarik napas lega, saat Vani tak lagi terdengar marah padanya. Setidaknya, itulah yang ia tangkap dari nada suara lawan bicaranya.
"Heh?! Sejak kapan lo jadi pintar, Sya? Sampai ikutan begituan? Lo kira, gue gak tau kemampuan lo? Ingat! Gue selalu ngasih lo contekan setiap pelajaran IPA. Kalau lo mau buat alasan, dipikir dulu kali, yang masuk akal!" bentak Vani di akhir kalimat. Padahal, tadi ia sempat melembut pada Tasya. Tapi memang gadis itu benar-benar sulit ditebak. Tasya bisa merasakan jika Vani benar-benar dalam kondisi marah hingga di ubun-ubunnya.
"Beneran, Van. Aku gak bohong, aku serius. Aku bisa kasihin buktinya ke kamu, aku foto nih medali dan sertifikatnya biar kamu percaya,” Sebenarnya Tasya sudah hampir terisak sejak Vani terus memojoknya. Namun ia masih mampu menahan tangisnya, ia hanya ingin menjelaskan permasalahan yang terjadi di antara mereka.
"Heh... sekarang? Medali sama sertifikat siapa lagi yang lo curi? Sempat ya lo nge-edit-edit begituan? Cuma demi dapet maaf dari gue," Vani tersenyum mengejek, ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Tasya. Vani menjeda kalimatnya sebentar, lalu lanjut lagi berkata,
"Oke, oke. Gue maafin lo, Sya. Gue hargai semua manipulasi data yang udah lo buat. Mana ada orang bisa jadi pinter banget hanya dalam kurun waktu beberapa bulan. Bego ya bego aja! Lo gak ada bedanya sama Jerry, Aldo dan Tomi!!" bentaknya dengan keras.
"Segitu bencinya ya Va, kamu liat aku? Sampai kamu tega nyakitin hati aku kaya gini?" Tasya mulai terisak, ia tak lagi mampu menahan air matanya. Ia berhenti sebentar, karena tak sambil terisak.
"Kamu boleh, Van. Kamu boleh aja berspekulasi apapun, itu hak kamu. Tapi, gak sepantasnya kamu hina aku sedalam ini. Aku selama ini beneran belajar, les private, sampai ikut ekskul olimpiade. Oh! Aku hampir lupa, aku emang bodoh di bidang sains. Tapi, kamu perlu ingat, kalau aku suka geografi dari dulu. Dan karna geografi itulah, aku bisa masuk OSN. Meski bukan masuk golongan IPA.”
Tut... tut... tut...
Tasya mematikan teleponnya, dan melempar asal handphone-nya ke atas kasur.
Tasya menangis sejadi-jadinya, karena dikatai oleh sahabatnya sendiri. Siapa yang tidak sedih?
Di seberang sana, Vani memaki dirinya sendiri yang masih belum sadar. Ia juga bingung, mengapa ia bisa berkata sekasar seperti itu. Mungkin efek PMS Jerry menular ke Vani.
"Mampus! gue bilang apa tadi? tuh kan si Tasya jadi nangis. Tuh anak kan emang gampang nangis. Duh, gimana dong?" Vani menyesali setiap perkataan kasar yang didengar Tasya dari bibirnya.
"Apa salah jika aku belajar keras demi membahagiakan Papa sama Mama?" Tasya bergumam tak jelas sambil menghapus jejak air matanya yang sempat lolos.
"Kamu jahat, Van. Sebegitu teganya kamu ngatain aku....” Tasya terisak semakin keras.
"Kalau kamu jadi aku, emang apa yang bakal kamu lakuin? Apa kamu tega buat orang tua kamu kecewa? Enggak kan?!" Tasya meracau tidak jelas karena rasa sakit hati yang dirasakannya.
Tiba-tiba, Tasya mengambil Handphone-nya dan membuang kartu simnya. Ia kembali memunggut dan mematahkan kartu sim itu hingga terbelah menjadi dua. Tasya berjanji tidak akan menghubungi sahabat SMP-nya itu lagi. Tidak, Vani bukan sahabatnya lagi. Lebih tepatnya, kini dengan sebutan mantan sahabat.
Biarlah kali ini ego Tasya yang menang. Sungguh, ia sudah sangat lelah. Namun, kerja kerasnya bahkan tak dihargai sedikit pun. Ia sangat kecewa dan sakit hati pada Stevania.
Di lain tempat, Vani ingin meminta maaf pada Tasya. Buru-buru, ia mencoba menelepon gadis itu. Namun, hasilnya nihil. Tasya tak dapat lagi dihubungi olehnya, nomor temannya itu sudah tidak aktif.
Tasya belum tidur, ia terisak-isak di bawah selimutnya. Hingga Papa dan Mamanya mendatangi kamarnya. Tasya langsung memeluk kedua orang tuanya, ia menangis semakin keras. Namun setelah itu, ia bisa menghentikan tangisnya.
Memang benar kata orang, pelukan orang tua adalah obat mujarab kesedihan. Inilah buktinya.
Meski tidak mengatakan apapun, Kedua orang tua Tasya dapat menghantarkan ketenangan.
S
etidaknya saat ini, Tasya benar-benar memerlukan waktu untuk dirinya sendiri. Ia perlu waktu, agar bisa memulihkan hatinya yang tersakiti.
TBC
Rabu, 07 Februari 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Salah Jodoh [Completed✔]
Teen Fiction[Revisi 70 part] Diprivate acak demi keamanan, karena ada akun mirror. Follow kemudian re-login. Ini bukan sekadar cerita cinta anak remaja tapi, cerita fiksi berkombinasi dengan ilmu pengetahuan seputar Olimpiade dan pengetahuan lainnya. Bukan ceri...
![Bukan Salah Jodoh [Completed✔]](https://img.wattpad.com/cover/119387693-64-k411681.jpg)