24- Salah Paham

476 57 184
                                        

Selamat Membaca📖

Berbeda dengan Tasya, Vani mulai merutuki kebodohannya. Entah setan apa yang menghampiri, sampai tega berkata sekasar itu.

"Duh... gimana nih? kalau gue kasih tahu Aldo, nanti gue yang dimarah," Vani berpikir terus, sampai akhirnya ia menemukan ide.

"Gue tanya Jerry aja dah, kan dia bapak motivator tuh, pasti punya solusi," Vani sudah sumringah.

"Tapi... ini udah malam, besok pagi aja kali ya," Vani menundanya dan berbegas untuk tidur.

Pagi harinya, Vani sudah menemui Jerry di kelas. Ia tak membuang waktu, segera ia bercerita pada Jerry.

"Jer, lo sibuk gak?" tanyanya hati-hati.

"Engga, kenapa?"

"Gue butuh pencerahan dari lo,"

Jerry mengerutkan keningnya, pertanya bingung.

"Udah, lo ikut gue aja. Kita cerita di belakang sekolah, selagi masih sepi," Vani menyeret Jerry ke belakang sekolah.

"Ada apa?"

"Gini, Jer. Semalam si Tasya nelpon gue, nah gue belum sadar 100 persen. Lo tahu, gue kesel banget, sampe di akhirnya dia matiin tuh panggillan dan saat itu, gue baru sadar, Jer. Gimana dong? gue harus apa?" tanya Vani to the point.

"Emang lo bilang apa?"

Vani tentu takut Jerry tak mengerti, ia akhirnya memilih menceritakan separuh kejujuran saja.

"Gue bilang dia itu udah dapat temen baru, karena kehidupan keluarga gue gak kaya dulu, dan punya banyak teman di sana makanya ninggalin kita. Gue juga bilang, kalau dia itu kalau memang sibuk harusnya ngabarin, bukan malah hilang berbulan-bulan gini dengan prestasi dia sekarang,"

Jerry hanya mengangguk-angguk sebagai bentuk tanggapannya.

"Gimana dong, Jer?"

"Telepon dia lagi aja, siapa tahu di udah gak ngambek lagi, lo juga ngapain sampai ngomong gitu, Van?"

"Gue gak tahu, Jer. Spontan aja gitu, mungkin efek dari belum sadar sepenuhnya," jawab Vani, toh dia tidak berbohong, walau hanya menceritakan separuh kejujuran.

"Yaudah, telpon aja lagi nanti, siapa tahu dia udah mendingan,"

"Oke deh Jer, " kemudian Vani tersenyum sangat manis, sampai membuat jantung Jerry berdegub kencang. Jerry memasang wajah bingung.

Kemudian, Vani mendekat ke arah Jerry, dekat.. semakin dekat, sampai akhirnya ia berbisik.

"Makasih buat semuanya, lo emang yang terbaik Jer, sampai kapan pun," Vani sambil senyum-senyum mengatakannya. Sementara Jerry, jangan tanya. Jantungnya tidak bisa diajak kopromi. Akhirnya, Jerry berniat untuk kembali ke kelas, karena tak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. Namun, saat dia akan berbalik, ada sebuah tangan yang menahannya.

"Lo mau kemana?" tanya Vani

"Balik," jawabnya sedatar mungkin.

"Nanti aja, gue masih bosen. Lagian, bel masih lama,"

Jerry akhirnya menurut dan duduk kembali di samping Vani.

"Jer?" yang dipanggil hanya bergumam.

"Gue kangen," ujar Vani yang membuat Jerry salah tingkah.

"Kangen?" tanya Jerry dengan rasa campur aduk.

"Lo kangen sama gue?" tanya Jerry dengan PD-nya.

"Hahaha... ya engga lah, Jer. Kita kan setiap hari ketemu. Ya kali, gue kangen sama lo," ucapnya sambil menoyor kepala Jerry.

Jerry pun tertawa garing, dan berusah bersikap seolah sedang bercanda. Nyatanya? hanya ia dan Tuhan yang tahu.

"Gue kangen, kangen banget... kangen saat-saat dimana kita masih SMP. Gue kangen masa-masanya kita masih nakal-nakalnya, selalu bareng, kalau berantem gak lama-lama, ketawa terus. kalau lo Jer?"

"Sama, gue juga kangen, Van."

Kangen waktu kita selalu bersama tanpa ada rasa yang berbeda. Sambung Jerry di dalam hatinya.

Tanpa sadar, Vani mulai mengubah air mukanya, ia teringat bagaimana dulu ke-akraban mereka.

"Ahh.. gue jadi baper Jer, ah elah," Vani mendengkus malas.

"Yuk kita balik!" akhirnya Vani dan Jerry sudah bergegas balik ke kelas, karena sebentar lagi, Pak Mukmin akan mengajar.

Sepulangnya sekolah, Vani mencoba menghubungi Tasya, namun sayang, nomornya tidak aktif juga.

Akhirnya Vani memilih untuk beristrirahat dulu. Ia memejamkan kedua matanya, berharap rasa lelah dan merasa bersalah bisa hilang.

"Lo segitu marahnya ya, Sya ke gue? sampai gak angkat telpon gue segala," Vani bermonolog dan sudah bersengar suara napasnyang teratur, menandakan ia sudah tertidur.

Sampai Akhirnya Sore hari, vani terbangun dari tidurnya. Ia mulai membersihkan diri dan kembali lagi ke kamarnya.

Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Tasya, akhirnya Vani mulai berpikir mencari jalan keluar.

Tasya dari tadi gak bisa dihubungi, mungkin gue harus pake nomor baru, baru bisa. Iya, gue harus pake nomor baru, mungkin nomor gue udah diblokir atau dijadiin spam.

Akhirnya, Vani menghubungi Tasya dengan Nomor baru.

Tak berbeda dengan Vani, Tasya juga masih menghubungi nomor temannya itu.

Tasya sibuk menelepon ke nomor Vani dengan nomor barunya, sementara Vani sibuk menelepon nomor lama Tasya dengan nomor barunya, dan nomornya masih tidak aktif.

Vani menghela napas kasar, padahal ia sudah berharap membawa kabar baik untuk Jerry. Nyatanya, ide Jerry tak berjalan lancar.

Karena putus asa bercampur kecewa juga Kesal, Vani mematahkan nomor lamanya. Lengkap sudah kesalahpahaman mereka berdua.

"Lo keterlakuan, Sya!" bentaknya pada handphone yang sudah tak berisi kartu itu.

"Padahal gue mau minta maaf, tapi... tapi, apa yang lo lakuin?!," racaunya semakin parah.

"Lo ngerusak persahabatan kita, Sya. Gue benci lo!"

Akhirnya, Vani menenggelamkan kepalanya di bantal.

Jauh di sebrang sana, Tasya juga sama kecewanya. Ia bahkan sampai sesenggukan. Lalu, ia memilih untuk beristirahat untuk menenangkan pikirannya.

TBC
Minggu, 18 Februari 2018

Bukan Salah Jodoh [Completed✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang