jinyoung juga menderita (1)

815 149 101
                                        

*play dulu yah*

...

..

.

"dan kau lekaslah sembuh ucap guanlin pada jihoon. Jihoon merasakan nada sinis dan mengintimadasi dari kata-kata jihoon. Guanlin bahkan tidak menengok kearah jihoon saat mengatakannya dan langsung bergegas keluar dari ruang itu disusul oleh Jinyoung.
Jinyoung mengejar Gualin keluar tapi pintu lift guanlin sudah terlanjur tertutup.

Sedangkan Jihoon hanya biasa terdiam ia merasa terhina atas perlakuan guanlin.

"kenapa kau tega mengatakan hal itu. Bagaimana bisa kau tak mengkhawatirkanku sama sekali. Aku kau benar-benar sudah tak mencintaiku lagi? Dan kenapa harus daehwi. Apa daehwi ia balas dendam karna aku merebut jinyoung darinya" ucap jihoon dalam hati, ia menutup tubuhnya dengan selimut dan menangis dalam diam.
.
.
Jinyoung kembali ke kamar jihoon setelah tak berhasil menyusul Guanlin. Semua hal tentang daehwi bermunculan di kepalanya. Rasa bersalah memuncah di dadanya. Lama ia berdiri di depan pintu kamar jihoon. Memikirkan apakah ia harus masuk atau tidak. Masih tentang dilema cinta dan rasa tanggung jawab dan rasa kasihannya pada jihoon.

Ia mengambil nafas panjang dan akhirnya masuk keruangan jihoon. Ia melihat jihoon menutup tubuhnya dengan selimut.

"hyung kau tidur?" tanyanya hati-hati ia tak ingin menganggu penyembuh jihoon. Tapi tak ada balasan apa-apa dari jihoon, jihoon masih saja diam meskipun jihoon mendengarnya.

"hyung, ada yang ingin aku bicarakan. Soal kita dan alasan aku ada disini ucap jinyoung lagi. Tapi jihoon tetap diam.

"hyung maafkan aku, aku rasa kita harus mengakhiri hubungan kita" ucap jinyoung lantang. Jinyoung ingin mengakhiri semuanya, ia ingin mengakhiri semua kerumitan ini, ia ingin bahagia. Ia ingin bersama orang yang ia cintai. Ia ingin bersama daehwi.

Jihoon akhirnya bangkit dari tidurnya dan menatap jinyoung tajam.

* airmata author tiba-tiba netes nulis bagian ini*

Jinyoung memegang kedua pundak jihoon dan menatap mata jihoon yang memerah.
"hyung mianhee.. aku sudah berusaha, tapi aku tak bisa hyung... selama ini aku sudah berusaha semampaku untuk menjadi kekasih yang baik untukmu tapi sekarang aku tak bisa melakukannya lagi."

Jihoon mendorong jinyoung menjauh. Jihoon tau suatu saat ini akan terjadi tapi ia tak tau akan terjadi secepat ini. Ia tak bisa melepaskan jinyoung.

Jihoon berteriak histeris membuat jiyoung tekejut, ia mendekat kea rah jihoob berniat untuk menenangkan jihoon tapi jihoon kembali mendorongnya menjauh hingga terjatuh.

Jinyoung ikut menangis melihat jihoon tapi ia tetap harus kembali pada daehwi.

"Hyung, kumohon lepaskan aku.. aku ingin bersama daehwi. Aku minta maaf tak bisa memberikanmu cinta yang kubutuhkan. Kumohon hyung maafkan aku. Aku mencintainya. Ia sedang menungguku. Aku harus kembali padanya"

"Tidakkkkk"

"hyung ku mohon mengertilah, hubungan kita hanya akan membawa luka padamu, aku dan daehwi."

"Daehwi daehwi daehwi.... Kenapa semua orang mempedulikannya. Guanlin, Minhyun dan kau . Kalian selalu memihaknya bagaimana denganku" teriak jihoon.

Jinyoung berlutut pada jihoon, agar dilepaskan membuat jihoon terdiam.

" Hyung aku mohon"

"apa yang kau lakukan bagunlahhhh yaaaaakkkkkk " ucap jihoon.

"hyung Aku di pihakmu, aku disisimu selama ini , aku meninggalkan daehwi , aku meninggalkan orang yang aku cintai dan mencintaiku agar aku bisa menemanimu hyung dan sekarang giliran daehwi aku ingin bersamanya aku ingin berada di sisinya, aku tak ingin membuatnya menunggu lebih lama Daehwi sudah cukup mederita hyung, ia yang paling menderita hyung dengan semua ini. Ia bisa menahanya tapi tidak denganku hyung , aku tak bisa menahannya lagi. Aku ingin selalu memeluknya. Aku ingin bersamanya. Hanya bersamanya . Jadi Maafkan aku." Ucap jinyoung berlutut menundukkan kepalanya memohon pada jihoon. Ia tak peduli dengan semuanya ia hanya ingin semuanya selesai agar ia bisa kembali pada daehwi. Ia sudah berjanji pada daehwi untuk kembali.

Jihoon terdiam melihat kesunggujan jinyoung. Ia tau perasaan jinyoung sejak tau. Tapi ia tak tau jinyoung akan rela berlutut untuk bisa kembali pada daehwi.

"Pergi----- kubilang pergiiiii dari sini" ucap jihoon dengan suara datar.

"hyung...."

"PERGIII" teriak jihoon.

Jinyoung bangkit dan meninggal kamar jihoon.

"Daehwi.. aku harus kembali dan minta maaf" ucap jinyoung.

Jinyoung menghentikan langkahnya saat melihat apotik yang berada di lantai bawah rumah sakit. Ia ingin membeli obat untuk daehwi. Karna ia ingat sudut bibir terluka akibat tamparannya.

Jinyoung tersenyum menatap obat yang dipegangnya. Bayangan bahwa ia kan segera kembali pada daehwi membuatnya tersenyum lebar tapi senyum itu tak berlangsung lama.

Handphonenya berbunyi

"manager Jihoon"

"nde hyung? Ada apa?"

"jihoonnnn ... jihoooon.... Ia mengancam melompat dari atap" ucap manager jihoon panic.

Jinyoung menjatuhkan kantong obat yang dipegangnya dan berlari seperti orang gila menuju atap.

Ia sampai di lantai atas rumah sakit dan kaget melihat jihoon yang bediri di atas pagar. Darah dari penggelangan tangannya kembali mengalir dan menetes.

"hyung... hyunggg turun apa yang kau lakukan..." ucap jinyoung.

"kenapa kau kembali? Kau kembali, kau tak peduli padaku, untuk apa kau kembali. Pergiiiii"

"hyungg kumohon turunlah"

"Tidakkk aku tidak akan pergi, tidak ada yang peduli padaku. Jadi untuk apa aku ada disini. Guanlin pergi dariku dank au juga pergi dariku pada siapa aku harus bersandar sekarang?" ucap jihoon semakin mundur.

"hyung... hyung.. stoppppp kau bisa mati" ucap jinyoung berjalan mendekat.

"jangan mendekat, biarkan aku mati, bukankah itu maumu. Kau ingin lepas dariku kau ingin pergi dariku kau ingin meningglakanku. Jadi biarkan aku mati agar kau bisa bahagian bersamanya tanpa aku didunia ini kau dan dia bisa bahagia" ucap jihoon semakin mundur.

Dan.,,

"andweeee" teriak jinyoung saat jihoon jatuh. Tapi untung saja ia sempat memegang tangan jihoon.

"andweee hyunggg" ucap jinyoung menarik jihoon.

"lepaskan aku.. lepaskan aku" ucap jihoon menggeliat.

"andwee kumohon hyung jangan lakukan ini"

"lepaskan aku ...." Ucao jihoon mencoba melepaskan cengkaram jinyoung.

Jinyoung menutup matanya dan menarik nafas panjang.

"aku takkn pergi, aku akan ada disisimu"

"kau bohong"

"aku bersumpah, aku takkan meninggalkanmu sampai kau pulih"

"kauuuuu"

"aku bersumpah hyung, jadi kumohon raih tanganku" pintu jinyoung.

Jihoon meraih tangan jinyoung dan membiarkan jinyoung menariknya naik.

Jinyoung menarik jihoon dan memeluknya.

"maafkan aku maafkan aku .. aku takkan pergi ucap jinyoung dengan nafas yang tersegal segal mengusap punggung jihoon yang tiba-tiba tak sadarkan diri.

"jihoon~aa" ucap manajernya dan membantu dokter untuk mengangakat jihoon kembali ke ruangannya. Meninggalkan Jinyoung yang tertduduk lemas sendirian.

Kali ini jinyoung yang berteriak, melepaskan rasa frustasi didadanya. Ia meronta menangis sejadi-jadinya. Ia ingin pergi . Ia ingin memeluk orang yang ia cintai.
.
.
.
.
.

Sementara itu di ruangan jihoon. Dokter kembali memasangkan infus untuk jihoon. Dan menyuntikkan bius untuk jihoon Ia harus segera menghentika pendarahan ditangan jihoon. Hanya jihoon dan dokter yang ada di ruangan itu.

"yakk.. Bangunlah sudah tidak ada orang" guman dokter itu sambil mulai membersihkan darah yang ada di pergelangan tangan jihoon.

"bukankah aktingku bagus ?" ucap jihoon yang tiba-tiba membuka matanya dan tersenyum.

.
.
.
.
.
.

Tbc
Yahhhhhh

MemoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang