Now Playing : Talk - Why Don't We
Happy Reading.
•••
Mila tidak menyangka akan seperti ini, Andra duduk di hadapannya yang sedang makan.
Dia tidak bisa pergi ketika Andra sadar, dia harus cari celah agar bisa terbebas dari laki-laki menyebalkan itu. Mila memperhatikan Andra yang sedang makan, laki-laki itu memesan banyak sekali makanan, dia yakin tidak akan habis hanya untuk menghaburkan uang orangtua saja.
Ponsel milik Mila bergetar, dia mengambil ponselnya diatas meja dan ada email masuk yang lusa ada wawancara dari restoran ini. Mila senang akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan.
Andra melihat wajah Mila yang senang setelah melihat pesan. Andra curiga kalau Mila sudah memiliki pacar, pantas saja perempuan itu dingin kepada semua laki-laki yang mendekatinya.
Satu info yang tidak diketahui oleh murid sekolah kalau Mila memiliki pacar, mungkin diamnya perempuan itu untuk menjaga hati bukan pembawa sial.
Lagi-lagi pandangan mata Andra dan Mila bertemu. Andra tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya lagi.
Mila selalu saja terhanyut ketika melihat mata Andra ditambah dengan senyuman.
Double kill!
Untuk menghantam hati Mila, menyadarkan perempuan itu kalau dia harus menjauh, sebelum Andra terkena sial. Dia tidak bisa membayangkan kalau Andra terkena sial darinya, pasti siswi di sekolan akan melabraknya lagi bahkan lebih parah.
Tak lama Mila sadar, kalau dirinya hampir menghabiskan waktu makan siang bersama Andra.
Dengan cepat Mila menggendong tasnya dan berdiri namun dengan cepat juga Andra menahan lengan Mila.
"Mau pulang?" tanya Andra tapi tidak ada jawaban dari Mila melainkan perempuan itu menatap tangan Andra yang ada di lengannya.
"Maaf, nggak sengaja," ucap Andra lalu melepaskan tangannya dari Mila.
Setelah itu, Mila keluar dari kafe. Sedangkan Andra hanya menatap punggung Mila yang menjauh, dia menyesal sudah memegang tangan Mila, pasti perempuan itu akan marah kepadanya. Bukan maksud Andra untuk merebut Mila dari pacarnya, tetapi hanya untuk pendekatan mengerjakan tugas tidak lebih, karna tugas ini butuh banyak diskusi, kalau Mila hanya diam saja, bagaimana tugasnya akan selesai.
Andra melihat jam tangannya, sebentar lagi bel pulang sekolah akan berdering, lebih baik dia cepat mengabiskan makanannya lalu kembali ke sekolah untuk menjemput Karin.
•••
Sesampainya Andra di sekolah lagi untuk menjemput Karin, dia menunggu Karin di parkiran sekolah. Dia masih merasa tidak enak karna sudah memegang lengan Mila.
Tetapi mengobrol dengan Mila adalah awalan yang bagus untuk tugas kedepannya dan jika di lihat lebih dekat, Mila juga anak yang manis, mukanya ramah tidak begitu jutek hanya sifatnya saja yang jauh dari kata ramah seperti wajahnya.
"Hai!" sapa Karin yang sudah berada di sebelah Andra membuat laki-laki itu tersadar. Dia sudah melamunkan Mila.
"Hai!" balas Andra dengan senyum khasnya. Karin selalu suka dengan senyuman Andra yang begitu memabukkan.
Andra memberikan helm pada Karin namun tidak ada tanda-tanda perempuan itu akan mengambil.
"Rin," panggil Andra membuat Karin tersadar.
"Ah iya."
"Ini helm-nya."
"Iya."
Karin mengambil helm tersebut dan memakainya lalu naik ke atas motor. Andra pun melajukan motornya meninggalkan kawasan sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILANDRA
Teen FictionJANGAN PLAGIAT CERITA ATAU COVER, KARNA INI AKU IDE SENDIRI. ••• (PROSES REVISI) Mila Eliana Zahara, perempuan yang selalu disebut sebagai "Pembawa Sial" dan selalu disudutkan dalam berbagai hal. Termasuk Pem-bully-an yang sudah menjadi makanan Mila...
