***
Kamar rawat inap Lyodra sudah dipenuhi teman-temannya sajak pagi tadi. Ada Ziva, Keisya, Ola, dan Richard yang menjenguknya hari ini. Tentu Lyodra sangat senang karena kedatangan mereka. Ia tidak berhenti tertawa saat Richard terus saja membuat Ziva jengkel.
"Pucet banget, sih," ucap Ziva yang kini duduk di sebelah Lyodra.
"Namanya juga orang lagi sakit, kalau dia nggak pucet, ya, bukan sakit namanya!" ujar Richard.
Ziva berusaha menghiraukan ucapan Richard. "Lo masih pusing, ya? Ini gue sama Keisya bawa banyak es krim buat lo." Ziva menyodorkan kantong transparan lalu menaruhnya di atas nakas.
"Di mana-mana orang sakit itu dikasih roti atau buah-buahan. Ini malah dikasih es krim... lo emang aneh, ya, Zipong!"
"Richard, brisik!" ketus Ziva.
Lyodra tersenyum tipis. Ia tidak menyangka mempunyai teman yang sangat luar biasa seperti ini. Kini, Ziva tambah menjauh dari Richard. Ia duduk di sofa paling pojok karena tidak mau dekat-dekat Richard.
"Ly, cepet sembuh dong... gue kangen banget sama lo, besok-besok jangan kecapean lagi. Gua sama Ziva juga mau minta maaf karena nggak berani bilang ke Pak Anang kemarin... gue terlanjur takut, anak yang lain juga pada nggak berani...," ucap Keisya.
"Iya nggak apa-apa, kok, makasih banyak Keisya, Ziva, Richard, Ola udah dateng ke sini jenguk Lyo."
"Cepet sembuh... lomba tinggal tiga bulan lagi. Lo harus pinter-pinter jaga badan lo biar nggak gampang sakit," ucap Ola.
"Iya Ola, makasih banyak, ya."
"Ngomongin olimpiade, bagi resep pinter kali, Ly." Richard kembali mencairkan suasana.
"Buku dicincang, masukin panci, tambah air, tambah gula, tambah garam, kalau udah mendidih... lo makan, tuh, pake nasi!" Ziva menatap wajah Richard tak santai. Richard ternganga dibuatnya. "Serius, beneran?"
"Ya enggak, lah, pinter!"
"Kalau mau pinter itu belajar. Dibuka bukunya, bukan dijadikan bantal di meja, Chard." Lyodra meluruskan.
"Nah, itu...." Ziva mengangguk- anggukan kepalanya.
"Lo juga dengerin, bego!" sambar Richard.
"Kok, lo ngatain gue bego?"
"Kan, lo yang bikin resep nggak jelas."
"YA GUSTI PARINGAKE AKU SABAR!" Ziva dibuat mendidih karena perkataan Richard. Meladeni Richard hanya membuat dirinya lelah. Percuma jika berdebat dengannya. Itu hanya membuang waktu saja.
***
Nuca menjatuhkan dirinya di atas kasur. Ia memijat pelipisnya kasar. Ini tepat seminggu ia tidak melihat keberadaan Lyodra. Dari tadi, ia hanya menyibukkan dirinya mengerjakan tugas.
"NUCAAAA," panggil Priska dari ruang tamu.
Nuca terpaksa menutup laptopnya. Ia berjalan ke arah sumber suara. "Apa?"
"Tolong beliin pembalut di minimarket depan komplek dong...," suruh Priska, seenak jidatnya.
"Ogah!"
"Oh, lo nggak nurut sama gue?"
"Iya, deh, iya." Nuca hanya bisa menurut, ia sudah hafal ancaman Priska. Bayangkan, jika dirinya harus mencari cincin yang dihilangkannya setahun lalu! Itu lebih menyeramkan menurutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Novela JuvenilIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
