Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Jangan lupa vote dan ramaikan komentar di setiap paragraf! 💜🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan mau manisnya aja. Tapi berusaha untuk terima pahitnya juga. Percayalah, itu baik selama kamu pikir itu baik. Siapa tahu, di dalam pahit ada nikmat yang dapat mengubah alur hidup jauh lebih baik ke depannya.
***
Lyodra mencerna pertanyaan Nuca barusan. Ia bingung harus berekspresi seperti apa. Kedua mata Lyodra tidak berkedip, jantungnya tak bisa ia kendalikan. Ia merasa kesulitan untuk bernapas saat ini.
Pelan-pelan, ia membuang pandangan Nuca. Kalimat yang Nuca lontarkan barusan sangat tiba-tiba. Lyodra berdiri, berjalan menjauh memegang pembatas atap sambil memandang semua kunang-kunang yang menghiasi malam.
"Hei...."
Nuca berjalan menghampirinya. Suara langkah kaki yang bergesekan dengan kayu semakin membuat dirinya lemas. Kegugupan Lyodra semakin tak terkendali saat Nuca berdiri tepat di belakangnya.
"Bukannya cium kening dilakukan karena ungkapan rasa sayang?"
Suara Nuca terdengar jelas di atas kepalanya. "Kalau keberatan, gue nggak akan ngelakuin...."
Jantung Lyodra berdegup semakin kencang, benar-benar susah untuk mengendalikan dirinya saat ini. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Lyodra benar-benar tidak pernah menduga kejadian seperti ini terjadi pada dirinya bersama Nuca.
"Nggak mau, ya?"
Sudah bisa ditebak! Bibir Lyodra semakin menipis. Pipinya merah padam. Ia berharap, ribuan kunang-kunang di sini akan membawanya pergi saja, terbang menembus kabut-kabut tebal ke atas sana. Serius! Lyodra semakin bingung harus bagaimana dan berbuat apa.
Pelan-pelan ia membalikkan badannya. Menatap Nuca yang lebih tinggi dari tubuhnya. Bersamaan dengan itu, kepala Nuca ikut menatap gadis itu ke bawah. Lyodra mendongakkan kepalanya, melihat mata Nuca yang selalu diselimuti ketenangan di dalam sana.
Nuca melangkahkan kakinya lagi membuat jarak di antara mereka benar-benar terkikis. Lyodra memejamkan matanya dengan cepat, mengira-ngira jarak kepalanya ke arah dahi Nuca sambil berjinjit untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Nuca dapat merasakan hembusan napas Lyodra yang semakin mendekat, menerpa kulit wajahnya. Dan itu, membuat jantung Nuca tak kalah berdetak lebih cepat seperti yang kini Lyodra rasakan.
Sesuatu yang dingin mendarat di kening Nuca. Bukan Nuca yang melakukannya. Tetapi gadis di depannya yang memberikan kecupan lembut secara tiba-tiba dengan cepat.
Pelan-pelan Lyodra membuka matanya lalu menapakkan tumit kakinya dengan sempurna. Ia mendongak ke atas, melihat mata Nuca yang masih terpejam. Lyodra dengan cepat membalikkan badannya, berharap Nuca pergi saja meninggalkan dirinya.