Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa tinggalkan vote dan komentar!
***
"Ngapain tanya, biasanya aja nggak minta izin malah langsung masuk," ketus Lyodra membuka pintunya lalu duduk di kursi riasnya.
Nuca masuk, mengambil meja lipat dan menaruh makanan yang ia bawa di atas meja itu. "Lo udah sehat?"
"Lo bisa liat sendiri, kan?"
"Udah makan siang?"
"Sudah."
"Bohong itu dosa," cetus Nuca dengan cepat.
"Ngapain Nuca ke sini?"
"Ngajak makan sama mau minta maaf," jawab Nuca cepat, ia lalu menarik tisu basah dari atas nakas.
Lyodra diam, Nuca mulai membuka kantong-kantong, "Ini es krim, habisin sebelum meleleh," Nuca menyodorkan es krim rasa vanila ke arah Lyodra.
Lyodra mengambilnya, membuka dan segera menghabiskan es krim itu. Lalu, Nuca mengambil buket bunga matahari yang ada di tote bag bewarna hitam.
"Buat lo."
"Apa?"
"Punya mata, kan?"
"Ish," desis Lyodra lalu menerimanya.
"Jangan dibuang, harga bunga matahari lagi mahal," kata Nuca tanpa dosa dan tanpa mengingat pemilik sebenarnya. "Makan sini," ajak Nuca agar Lyodra duduk di depannya.
"Nggak mau."
"Makan, Ly!"
"Nggak."
"Dua bulan lagi kita Olimpiade Sains Tingkat Nasional. Lo nggak mau dukung lambung lo demi otak lo?"
"Hmm...."
"Makan, Ly." Nuca sudah membuka kotak nasi ayam pete kemudian membuka botol mineral yang masih dingin.
Lyodra menarik ponselnya, ia membelakangi Nuca, mengutak-atik ponselnya. Merasa tidak dihargai, Nuca menghela napas panjang menatap Lyodra. "Oke, gue mau ngadu ke Mama Bunga."
"Iya Nuca, IYA." Lyodra mencibir, ia menghentakkan kedua kakinya menuju ke arah Nuca.