Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Jangan lupa vote dan ramaikan komentar di setiap paragraf!💜🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalau punya impian itu dikejar. Jangan berhenti di tengah jalan. Tapi kalau sudah nggak srek dengan hati, ya, jangan dipaksakan. Ingat, sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Berat!
***
Bel pelajaran setelah jam istirahat sudah berbunyi. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Tapi setelah sepuluh menit berlalu, semua kelas dilanda jam kosong karena guru-guru mengadakan rapat dadakan.
Di kelas Nuca sendiri adalah kelas yang dibilang luar biasa. Mengapa? Itu karena di kelas ini lengkap dengan ragam tipe-tipe anak sekolahan.
Sebelah pojok kanan. Itu gengnya si Siti yang sibuk makeup, yang selalu bikin tiktok di depan kaca jendela. Di pojok sebelah kiri, ada anak-anak cowok yang hobinya main game. Nah, kalau barisan belakang itu anak yang suka main bola di dalam kelas, yang sukanya selalu memancing keributan sama anak cewek.
Nuca sendiri duduk di bangku paling depan. Bangku yang selalu di duduki anak-anak yang rajin. Ia sedari tadi sibuk dengan tugas matematikanya yang menumpuk, hanya seminggu tidak masuk. Rasanya, sudah seperti satu bulan saja menggarap tugas tiga bab ini.
BRAKKKK....
Suara meja yang di gebrak oleh Ola, membuat Nuca menoleh ke sumber suara sedangkan Richard langsung terpelonjak kaget.
"Curut, cicak, kadal kejepit! Lo kalau mau ngomong bilang dong! Jangan bikin jantung gue gemeteran!" umpat Richard sambil memegangi dadanya.
Keringat Ola bercucuran, seperti pulang dari lari maraton. Napasnya berderu-deru. Matanya menelisik bola mata hitam milik Nuca. "Nuca...," panggil Ola, dengan napas yang tidak teratur.
Nuca mengerutkan keningnya. "Apa?"
"Tadi gue liat anu...."
"Apa?"
Ola mengatur napasnya. "Anu...."
Nuca menatap Ola, menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Apa? Kalau ngomong itu yang jelas!"
"Lyodra ikutan ribut-ribut di kantin."
Bola mata Nuca membulat dengan sempurna. "Hah? Ribut sama siapa?"
Ola memegangi dadanya sambil mengelap semua keringat menggunakan tangannya. "Anu...."
"Siapa..?"
"Kak Tabita yang kelas 12, parah banget pokoknya! Sampe si Ziva nyiram es jeruk, itu tadi kantin rame banget pada nonton," tutur Ola.
Nuca tersentak mendengarnya. "Seriusan sampe kayak gitu? Sekarang dia di mana?"