7. Minggu Masam

3.2K 238 27
                                        

Jangan menilai seseorang buruk kalau orang itu belum pernah menyakiti kita.

***

Hari minggu ini, terasa sangat sepi untuk Lyodra. Tiara, kakaknya sedang menyelesaikan single barunya yang akan dirilis dalam waktu dekat. Papanya yang bernama Edi juga belum pulang lantaran pekerjaannya diluar kota. Jadilah Lyodra berdua dengan Bunga. Duduk di sofa sambil menikmati kue-kue kering buatan Maia. Ya, beberapa hari yang lalu Maia sempat ke rumah mengantar kue kering untuk Lyodra. Tapi, sayangnya Lyodra tidak menemui Maia karena dirinya masih berada di rumah sakit.

Lyodra mendecak sebal. Ia mengerucutkan bibirnya. "Sepi banget...."

"Lebih sepi lagi waktu kamu sakit, Ly...," ucap Bunga. Ia lalu mengelus puncak kepala anaknya.

Lyodra tersenyum, Bunga yang ia kenal... adalah sosok yang jarang sekali melakukan hal seperti ini. Terhitung, sejak ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Sikap dan perilakunya sangat manis kepadanya. "Lyo sayang Mama," ucap Lyodra.

Bunga mengembangkan pipinya. "Mama juga sayang," balas Bunga.

Lyodra terkekeh. "Mama yang cantik, Lyo mau pergi ke rumah Keisya boleh, kan?" tanya Lyodra dengan wajah manis yang dibuat-buat.

Bunga langsung tertawa. Putrinya masih saja seperti ini. "Mau ngapain? Mama nanti sendirian, dong."

"Mau main sebentar..."

"Yaudah jangan lama-lama. Izin main ke rumah Keisya berarti janji nggak akan mampir-mampir, kan?" tanya Bunga.

Lyodra langsung mengangguk, ia berlari menaiki tangga untuk segera bersiap-siap. "Cuma mampir beli pizza, terus ke rumah Keisya!" teriak Lyodra dengan semangatnya.

"Nggak usah pake lari-lari, Ly! Massyaallah...."

***


Ziva tidak bisa diam sejak ia datang ke rumah Keisya, ia lari-lari, menari, bahkan sempat kayang di kasur milik Keisya. Beberapa jam yang lalu, ia sempat mengajak Lyodra untuk datang ke rumah Keisya. Keisya sendiri tidak keberatan untuk mengajak Lyodra main ke rumahnya. Keisya justru antusias. Tentu, Ziva sangat senang melihat Keisya yang bisa berpikir dewasa setelah pengakuannya kemarin sore.

Clek--

Suara daun pintu yang dibuka oleh orang yang ditunggu sejak tadi. Lyodra datang membawa paper bag bewarna coklat muda berukuran besar. "Hai!" sapanya dari ambang pintu.

"LYO DATANG! GUE KANGEN SAMA LO LYO!" Ziva berlari dari atas tempat tidur menuju Lyodra yang masih berada di ambang pintu.

"Ini gue bawa empat pizza," ucap Lyodra berjalan mendekati Keisya yang baru saja menggelar karpet di depan kasurnya.

"Wah, di rumah gue juga banyak makanan Ly, sini bawa sini...," ucap Keisya, ia lalu menyerahkan kotak berisi tisu basah kepada sahabatnya. "Nih, yang mager pake ini."

"Terimakasih," ucap Ziva dan Lyodra sambil membuka semua kota pizza.

Mereka bertiga menikmati pizza itu dengan penuh canda dan tawa. Lyodra menghentikan aktivitas memakannya. Ia mengelap tangannya dengan tisu kering, lalu mengambil air minelar yang sudah disediakan Keisya sebelum kedatangannya kemari."Lyo mau cerita, nih."

"Mau cerita apa Ly?" tanya Ziva sambil menelan pizza yang baru ia potong.

Lyodra menyipitkan matanya. "Kenapa, ya, Nuca cuek banget sama Lyo?" tanya Lyodra membuka bahasan tentang Nuca.

Peri dan Sayap - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang