Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Jangan lupa vote dan selalu tinggalkan komentar di setiap paragraf!💜🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sahabat yang baik itu saling menguatkan bukan saling menjatuhkan, lalu... apakah kamu sudah bisa menjadi sahabat yang baik?
***
Jam istirahat berkumandang sejak sepuluh menit yang lalu. Sejak kejadian yang tak terduga tadi, ia hanya sibuk meratapi kepedihan dirinya yang begitu buruk. Ia berdiri, memandang kelasnya yang kosong. Lyodra sadar, jika ia sibuk menangis agar dirinya lebih kuat, tentu ini tidak akan menyelesaikan masalah. Ia harus mencari mereka.
Apapun alasannya, ia ingin meminta maaf. Dirinya memang salah. Kalau saja dirinya tidak mudah tersinggung, pasti ia tidak akan melampiaskan semuanya kepada dua sahabatnya. Kalau saja dirinya sadar akan semua kesalahannya dan juga sifatnya, pasti ini tidak akan terjadi.
Kalau saja....
Kalau saja....
Kalau saja ia bisa berpikir lebih dewasa, pasti ia tidak akan pernah melewati hari-hari tersulitnya.
Tapi semuanya sudah terjadi. Yang hanya perlu dilakukan adalah mencari ke mana perginya mereka. Ia mau mempertahankan persahabatannya. Yang Lyodra ingat, mereka bilang semua hal yang dilakukan mereka baik. Mereka tidak lari sepenuhnya. Mereka selalu ada di belakang, tapi memang miris. Memang kelakuan dirinya sangat menjengkelkan waktu itu.
Ia bangun dari tangisannya. Berdiri untuk menemui mereka. Tapi baru satu langkah menuju pintu kelas, Keisya sudah berhenti di ambang pintu yang juga sedang menatap dirinya.
Keisya membuang bola matanya. Ia berjalan menghiraukan Lyodra. Lalu Lyodra berbalik, menghampiri Keisya yang sudah duduk di bangkunya.
"Keisya...," panggil Lyodra pelan, ia memperhatikan tangan Keisya mencari-cari sesuatu di kolong lacinya.
"Maafin Lyodra...."
Keisya terdiam sejenak, lalu kembali berdiri, berniat untuk pergi.
"Keisya...," cegah Lyodra dengan cepat, membuat Keisya menghentikan langkahnya dan kembali menatapnya.
Keisya menghela napas berat. Ia masih kesal dengan kejadian tadi. Ia berdiri mensejajarkan dirinya menghadap Lyodra.
"Ini yang bikin gue tambah benci sama lo!" Keisya berkecak pinggang. Raut wajahnya berubah menjadi tajam.
Lyodra meneguk ludahnya. Takut dengan ucapan Keisya yang akan di dengar oleh beberapa teman kelasnya.
"Lo itu beneran punya otak nggak, sih?" tanya Keisya tajam. Hal yang ditakuti oleh Lyodra terjadi. Beberapa teman kelasnya menoleh ke arah suara lantang ini.