Rasanya terjebak dalam mimpi buruk itu seperti ini. Benar-benar merumitkan!
***
Senin begitu akrab bagi Lyodra. Kini, ia berada di ruang UKS, tepatnya di atas brankar yang sudah jadi tempat langganannya setiap hari Senin. Sebenarnya, ia malas untuk pergi ke ruang UKS, ingin sekali rasanya sendirian di kelas ketika semua teman-temannya berada di lapangan belakang untuk melaksanakan upacara bendera. Walaupun penyakitnya tidak separah itu, ia tetap harus berada di ruang UKS dan terpaksa menuruti peraturan sekolah.
Sekat tirai menjadi celah dimana Derry mengintip Lyodra yang sedang mengerjakan tugas di atas kasur.
"Permisi...." Derry tersenyum saat Lyodra menoleh ke arahnya. "Sibuk banget, ya?" tanya Derry dengan senyum yang hangat.
"Gak terlalu, kok," jawab Lyodra sesekali memandang buku-buku di depannya.
"Kapan olimpiadenya?" tanya Derry.
"Tiga bulan lagi."
"Oh...."
"Kok, Derry nggak tugas ngurusin orang yang sakit? Lyo baik-baik aja, kok."
"Ini, gue cuma mau ngasih ini." Derry menjulurkan tangannya dari balik tirai.
"Masuk aja," kata Lyodra.
Derry yang dipersilahkan masuk, segera membuka sekat tirai lalu memberikan sebuah kotak bening yang diisi dengan coklat.
"Ini, apa?" tanya Lyodra.
"Ini coklat, Mama gue baru pulang dari Batam... karena masih banyak, jadi ini buat lo," jawab Derry.
"Baik banget, sih, terimakasih banyak, ya, Ry,"
"Iya sama-sama." Kedua bibirnya terangkat. "Yaudah, gue mau ke lapangan dulu... banyak anak-anak pada pingsan di sana soalnya," pamit Derry.
Lyodra mengangguk, menatap Derry yang pergi dari ruangan ini. Ia lalu melanjutkan mengerjakan beberapa soal yang ada di depannya.
***
Nuca menghembuskan napasnya berkali-kali. Ia menyenderkan kepalanya di senderan kursi tempat duduknya. Keringatnya bercucuran, begitu juga bajunya yang sudah dipenuhi oleh air keringatnya. Upacara tadi begitu melelahkan, ia mengambil lima lembar tisu dari kolong lacinya untuk disapu ke wajahnya yang kini basah.
"NUCAA HOT NYUSSS!!!!" teriak Richard. Ia berlari dari ambang pintu menghampiri Nuca yang ada di meja pojok paling belakang.
"Apa?"
"TADI, KAN, GUE PINGSAN." Richard menghampiri Nuca dengan napas yang masih terengah-engah.
Kedua mata Nuca membulat dengan sempurna mendengar kabar tentang sahabatnya yang katanya tadi pingsan. Padahal, Richard berada tidak jauh dari barisan belakangnya. "Hah? Lo tadi pingsan?"
"IYA, TERUS GUE DI UKS NGGAK SENGAJA LIAT LYODRA DONG LAGI MESRAAN SAMA SI DERRY!" Richard heboh, tubuhnya tiba-tiba tampak baik-baik saja.
"Ada apa?" tanya Ola ikut penasaran.
"Derry ngasih coklat lagi, bro, terus mereka ngobrol-ngobrol manja gitu," kata Richard melebihkan ucapannya.
"Masa, sih, terus?" tanya Ola.
Richard mengalihkan pandangannya pada Nuca lekat-lekat."Ini berita tentang Lyodra, masa lo biasa aja Nuc? Kan, lo sohibnya...," tanya Richard.
"Ya terus gue harus apa?" tanya Nuca tanpa ekspresi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Novela JuvenilIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
