Ini kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra.
*
Sudah siap baca cerit...
Jangan lupa vote dan ramaikan komentar di setiap paragraf 💜🧡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rindunya diriku tak berarti karena berubahnya dirimu.
***
"Melihat kondisi Lyodra dari tahun ke tahun, saya rasa ini bukan sekadar anemia kronis. Mungkin, kalau bapak memberi tahu saya sejak lama. Saya bisa bertindak lebih dari ini. Ada kemungkinan kalau Lyodra menderita penyakit Thalasemia. Entah minor atau mayor, atau apa saya tidak tahu. Yang harus dilakukan sekarang adalah persetujuan bapak untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Wanita yang menggunakan jas putih dengan tag name Lala ini menatap Edi dengan tatapan serius.
Edi, bukan orang bodoh yang tidak mengenal jenis penyakit ini. Ia tahu, penyakit ini berhubungan erat sekali dengan penyakit anemia kronis yang diderita putri bungsunya.
"Kalau untuk itu, maaf. Saya menolak. Saya yakin, anak saya tidak mengindap penyakit itu," ucapnya.
Lala mengangguk, menghormati Edi yang ingin mengeluarkan pendapatnya.
"Kalau anak saya memang kena Thalasemia, seharusnya dari dia kecil rutin transfusi darah setiap minggu bahkan transplantasi tulang. Anak saya cuma kelelahan karena anemia kronis, dok."
Lala menghela napas pelan. "Tapi ini sudah menunjukkan gejala yang lebih parah. Akan lebih baik jika kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Edi jelas menampik tawaran itu. Selain tidak mungkin, juga karena Lyodra berpesan ingin segera pulang dari rumah sakit ini. Memang, alasan yang tidak rasional untuk menolak. Tapi, memang rasanya sangat tidak mungkin jika Lyodra terkena penyakit itu. "Enggak, nggak perlu. Dia hanya lelah berlebih, makannya anemianya jadi lebih parah dari sebelumnya," ucap Edi sok tahu.
Lala berdecih pelan. "Maaf, tetapi atas dasar apa bapak bisa berbicara seperti itu? Selama ini bukan bapak yang mengantar Lyodra check-up. Tapi, Tiara atau Bu Bunga. Ini sudah tidak wajar, Pak. Lebih baik, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengantisipasi hal yang tidak-tidak."
Edi menghembuskan napasnya pelan. "Tidak usah melakukan pemeriksaan lagi. Anak saya baik-baik saja," ucap Edi lalu menundukkan kepalanya memberi tanda pamit dan pergi dari ruangan ini.
***
Angin semilir sore di taman rumah sakit membuat kesan syahdu pada diri Lyodra. Ia tak berkedip sedikit pun menatap awan putih di atas sana. Terhitung, sejak sepuluh menit yang lalu, makanan yang baru Bunga masukkan tadi masih tersimpan rapat di dalam mulutnya, belum sama sekali ia kunyah.