Jangan lupa untuk tetap tinggalkan vote dan komentar dibawah ya!
***
Tidak biasanya, anak itu membuat aura dingin saat menatapnya. Entahlah, ia memilih meninggalkan laki-laki itu dan terus mengekori Tiara.
Cleeek-
Pintu ruang bimbingan konseling yang dibuka oleh Tiara diikuti dengan Nadhira dan Lyodra.
Tiara tersenyum canggung. "Pagi, Bu Anggun," sapa Tiara.
"Silakan duduk." Bu Anggun mempersilakan mereka untuk duduk di sofa depan mejanya.
"Bawa masalah apa? Putus cinta? Pacarnya selingkuh? Berantem sama sahabat? Temen makan temen? Salah paham? Labrak-labrakan? Ditikung?" Bu Anggun memborong banyak pertanyaan. Tatapannya dingin, khas sekali dengan wajah guru BK pada umumnya.
Tiara dengan tenang menghela napasnya pelan untuk mengutarakan niatnya.
"Maaf mengganggu, saya ke sini untuk
melaporkan kejadian barusan di kantin. Ly, cerita Ly."
Lyodra yang dipanggil hanya diam saja, ia duduk dengan tangannya yang masih gemetar. Ia masih shock dengan kejadian tadi.
"Yaudah Nadhira, tolong ceritain kejadian tadi sejujur-jujurnya tanpa dilebih-lebihkan dan dikurang-kurangi...." Tiara mengalihkan pertanyaannya pada Nadhira, selaku tersangka dalam kejadian tadi. Nadhira menghela napas berat, batinnya mengumpat. Karena Tiara menyeretnya ke dalam sini, sekolahnya bisa terancam.
Nadhira menceritakan semuanya, Derry yang tersangkut pun ikut dipanggil untuk menjelaskan secara rinci awal ceritanya. Nadhira tertunduk setelah semua selesai.
"Nadhira Ayu Dwista, kamu tahu, kan, kalau point kamu mencapai seratus kamu bakal kena skors? Kamu menampar dan menjambak yang mana sudah termasuk tindakan kriminal. Apa perlu saya kembalikan kamu kepada orangtuamu sekarang juga?" Bu Anggun menutup catatan-catatan itu lalu menatap Nadhira yang masih menunduk tidak berani menatapnya.
"Maaf." Hanya kata itu yang lolos pada bibir Nadhira. Tiara, Lyodra dan Derry setelah menjelaskan semuanya diminta untuk kembali ke kelas mengikuti jam pelajaran. Sedangkan Nadhira ditindaklanjuti oleh pihak sekolahnya.
***
Tiara menarik tangan Lyodra untuk duduk di bangku koridor dekat kolam ikan. Tiara menjambak rambutnya sendiri, ia menatap Lyodra setengah tak percaya. Adiknya itu jarang sekali punya masalah. Mentok punya masalah pasti tentang nilainya yang dibawah delapan puluh atau tentang Nuca yang selalu meledeknya.
"Kenapa bisa kayak gini?" tanya Tiara ingin mendengar kembali penjelasan dari Lyodra.
pandangan Lyodra selalu jatuh ke bawah lantai. "Lyo nggak tau," jawabnya.
"Ceritain gue," pinta Tiara.
"Kan, tadi Kakak udah denger," selimur Lyodra. Ia malas menceritakan semuanya. Dipikirannya sejak kemarin... hanya tentang siapa pelaku yang menyebarkan vidio yang dipotong-potong itu.
"Ya itu Nadhira yang cerita, gue cuma mau denger penjelasan dari mulut lo sekarang," paksa Tiara.
"Intinya Lyo udah nolak Derry secara halus. Tapi di vidio yang disebar, Lyo nggak nolak Derry secara halus. Vidio itu sudah terpotong... Lyo nggak seperti itu, Kak...."
Tangis Lyodra pecah, ia menunduk pasrah dalam pelukkan Tiara. Kejadian kemarin benar-benar sangat mengejutkan. Tiara memeluk adiknya yang masih lemas, ia menenangkan Lyodra sambil menepuk-nepuk punggung adiknya. Setelah dirasa tenang, Tiara mengantar Lyodra untuk kembali ke kelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Teen FictionIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
