Hai! Masih inget kan? Kalau lupa aku saranin untuk baca bagian sebelumnya, ya. Disarankan juga untuk baca ditempat yang tenang. Ah. Sebelum mulai, aku mau tanya dong. Tolong bantu jawab ya, karena aku penasaran banget hihihi.
1. Apa sih yang membuat kalian masih ingin baca cerita ini?
2. Kenapa kalian sesuka itu sama cerita ini? Apa yang membuat kalian suka bahkan baca berulang kali.
3. Sebutkan semua bagian Peri dan Sayap yang sukses bikin kalian hanyut dan terbawa suasana.
4. Yang menurut kalian paling bagus, paling best itu bagian mana? Pas apa?
5. Tahu cerita ini dari mana?
Thank you banyak ya buat semua yang udah nungguin. Maaf kalau lama. Semoga ini adalah karya yang bisa kalian peluk suatu hari nanti.
Ah, karena kemungkinan cerita ini akan diprivat. Yuk! Follow author dulu vellnya biar kalian masih bisa baca cerita ini.
Aku mohon, yang belum vote bagian Peri dan Sayap dari awal sampai akhir vote juga ya, sekarang yuk! Ramaikan komentar juga buat bagian ini.
Kalau berhasil tembus 500 aku kasih 1 bonus chapter. Kalau tembus 1000 komen aku kasih 2 bonus chapter. Kalau tembus 1500 aku kasih lagi 3 bonchap. Begitu seterusnya setiap kelipatan 500.
Sekali lagi terima kasih banyak dan Selamat Membaca!
***
Deg.
Gadis itu membeku begitu membaca berkas pertama tentang jantungnya yang mengalami ketidaknormalan irama jantung. Pantas saja ia selalu merasa kesulitan bernapas akhir-akhir ini. Pantas juga dadanya sering terasa nyeri apalagi jika obatnya terlambat diminum.
Lyodra menghela berat, berusaha menerima kenyataan ini. Kemudian ia membuka lembar berikutnya, sebuah tabel berisi hasil lab kemarin yang menunjukkan ketidaknormalan fungsi dari organ tubuhnya yang lain. Semua jauh dibawah normal dan yang lebih mengejutkanya lagi adalah....
Hasil pemeriksaan genetik menunjukkan bahwa Lyodra tidak identik dengan Bunga—ah ia sempat menyerahkan beberapa sampel kedua orang tuanya atas saran dari dokter Andi. Tentunya juga tidak mudah untuk membawa semua sampel itu. Butuh perjuangan untuk mendapatkan sampel itu hingga bisa ia bawa ke Singapur.
Seketika degup jantungnya berpacu lebih cepat meski ia sudah mau menerima akan penyakitnya nanti.
Di sana, tertulis dari analisa dokter Andi yang menyatakan bahwa Lyodra, ada kemungkinan menyandang penyakit genetik Thalasemia Minor.
Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ia sungguh tak percaya bahwa kesimpulan dari dokter Andi adalah penyakit yang di mana kedua orangtuanya tidak menurunkan semua itu. Ia merasa sekelilingnya seketika senyap. Bahkan, oksigen yang terus masuk ke dalam tubuhnya pun tak berasa masuk lagi ke dalam paru-parunya.
Gadis itu kehilangan kata-kata. Kedua matanya berkaca-kaca setelah membaca isi dari kertas itu.
Dan pada kenyataannya, Tuhan, semesta dan waktu pun mampu memberi sebuah kejutan yang tidak pernah terbayangkan. Sekali pun kau pernah menyangkalnya.
Hal yang bahkan Lyodra sendiri ragu tentang penyakitnya selama ini terjawab sudah. Kertas itu tergeletak begitu saja ketika Lyodra menenggelamkan wajahnya di antara dua lutut. Gadis itu berharap, detik ini adalah mimpi. Namun nyatanya tidak. Semua berjalan dengan sangat membingungkan. Layaknya sebuah kepingan puzzle, yang ia sudah tahu rangkapnya seperti apa, namun lupa saat ingin ia rekatkan. Begitu lah gambaran hidup Lyodra selama ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Teen FictionIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
