Budayakan Vote sebelum membaca dan terus komen pada bagian ini❤️
Ini yang kedua kalinya kamu seperti ini. Kali ini, aku benar-benar mengaku salah.
***
Lyodra menoleh ke arah Nuca. "Iya, Nuca?"
"Gue capek...."
"Ish, dikira mau ngomong apa!"
"Emang berharap gue ngomong apa?"
"Enggak, enggak ada."
"Nggak jelas!"
Tringgg....
Bel berganti pelajaran berbunyi. Lyodra menghela napasnya berat, ia menggerakkan semua tubuhnya yang terasa kaku. Rambutnya lepek, badannya penuh dengan keringat. Tapi, tidak separah Nuca yang baju seragamnya lebih basah.
"Udah, kan? Gue balik ke kelas," pamit Nuca.
Lyodra mengangguk. "Terima kasih banyak, ya, Nuca!" teriak Lyodra lalu berlari menuju kelasnya.
***
Lyodra membersihkan dirinya yang penuh keringat menggunakan tisu kering yang ada di lacinya. Ia kemudian menyiapkan buku pelajaran selanjutnya. Sebenarnya, badannya sudah sangat lelah dan ingin sekali rebahan di kasur UKS, tapi ia menahan itu karena semangat juangnya untuk mengikuti lomba sudah tidak lama lagi.
"Ishhh...."
Lyodra kembali meringis saat setetes darah kembali mengucur dari lubang hidungnya. Ia cepat-cepat menarik beberapa lembar tisu lagi untuk membersihkah bercak darah. Kepalanya pusing sekali karena berdiri terlalu lama di lapangan tadi. Ia berusaha menetralisir rasa sakit di area kepalanya dan kembali fokus pada pelajaran Bu Joan pagi ini.
Tringg.....
Bel istirahat pertama berbunyi, Lyodra melihat tisunya yang sudah habis dan berniat pergi ke kantin untuk membeli tisu lagi. Ia mengambil switernya dan bergegas pergi dari kelasnya.
***
Setelah ia membeli dua tisu dari stand yang terletak dibarisan paling depan, ia tidak sengaja melihat Nuca yang tengah mengobrol dengan seorang gadis yang sepertinya adalah adik kelasnya di meja paling ujung. Lyodra memutusman untuk menghampiri Nuca dan duduk di sebelahnya.
"Jadi kalau udah ketemu hasilnya jangan lupa pake satuannya, biar nggak salah lagi," kata Nuca yang ternyata sedang mengajari materi fisika pada gadis itu.
"Oh... gitu, ya, Kak...." gadis itu membuka lembaran buku paketnya lagi.
"Nuca...." panggil Lyodra lirih yang sudah duduk di samping Nuca.
"Kalau yang ini gimana, ya, Kak? Ini yang diketahui cuma massa sama kecepatannya, kenapa bisa pake rumus yang ini?" tanya gadis itu lagi.
Lyodra menyenggol lengan Nuca. "Nuca, Lyo mau ngomong sama Nuca sebentar," panggil Lyodra lagi.
"Oh... kalau yang ini, kan, yang ini diketahui massa sama dengan dua puluh ribu kilogram bergerak ke arah timur dengan kecepatan dua puluh meter per sekon... nah, karena yang diketahui udah kayak gini, ini tinggal dimasukin aja pake rumus energi kinetik,"jawab Nuca sambil menunjukkan rumusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Dla nastolatkówIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
