16. Nuca Sayang Peri

3K 286 83
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, Lyodra terbangun sedangkan Nuca masih terlelap di kursi sebelah brankar yang ditempati Lyodra.

"Duh...."

Entah karena apa, setelah terbangun perutnya mendadak mual, perih, dan keram sekali. Nuca yang mendengar itu sontak terbangun melihat Lyodra yang sedang memegangi perut.

"Kenapa?"

"Perut Lyo perih banget," ringisnya.

"Mau panggil dokter?"

"Lyo pengin pulang, Lyo laper banget, ini infusnya juga udah sisa sedikit," kata Lyodra.

"Yaudah aku panggilin suster dulu buat lepas infusnya."

Beberapa menit kemudian suster datang melepaskan jarum infus. Lalu, Nuca membantu memakaikan kaos kaki dan sepatu Lyodra, setelah dirasa siap untuk pulang, Lyodra di dorong oleh Nuca menggunakan kursi roda ke ruang tunggu dekat administrasi.

"Lo tunggu sini dulu, gue mau bayar ke ruang administrasi."

Lyodra mengangguk. Setelah itu, Nuca membantu Lyodra berjalan ke parkiran mobilnya. Lyodra duduk di samping Nuca, sedangkan Nuca fokus menyetir.

"Nuca, Lyo laper banget...."

"Jam berapa terakhir makan?"

"Jam setengah enam pagi."

"Pantes aja lo sampe kayak gini, besok-besok kalau mau ke aula, nunggu lift udah bener aja...," kata Nuca.

"Iya...."

Lyodra memandangi jalanan, ia lalu menoleh ke arah Nuca. "Nuca, Lyo pengin makan rujak cireng, deh...."

Nuca berdecih pelan. "Masih sakit, jangan makan yang asem dulu...," kata Nuca.

"Yaudah, kalau gitu Lyo pingin makan sate kambing!" cetusnya.

"Jauh dari sini Ly...."

"Yaudah, beliin Lyo arum manis," pinta Lyodra mengganti keinginannya cepat-cepat.

"Katanya laper, beli arum manis di sekitar sini itu susah...."

Lyodra memutar kedua matanya ke segala arah. Pikirannya tertuju pada sebuah makanan pedas yang dibalur dengan cabai. "Lyo pingin makan mi ramen."

"Enak yang di mall."

"Ish, tapi Lyo pingin itu Nuca bel--"

Nuca mengehela pelan, berusaha sabar. "Sayang...."

Pipi Lyodra memerah, ia tidak tahu apa yang sebenernya sedang terjadi pada dirinya dan juga sahabat kecilnya. "Dibilangin nggak usah panggil sayang!" tepisnya.

"Terus mau dipanggil apa?"

"Kaykay," jawab Lyodra.

"Cih, masih aja dari dulu pengin di panggil Kaykay, apa bagusnya, sih?"

Peri dan Sayap - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang