35. Sekadar Kata

2.5K 275 220
                                        

Jangan lupa vote dan ramaikan komentar di setiap paragraf! 💜🧡

Hidup itu pilihan, tentang pikiran akan risiko yang besar juga tentang apa yang ingin kamu capai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hidup itu pilihan, tentang pikiran akan risiko yang besar juga tentang apa yang ingin kamu capai. Hidupmu adalah hasil dari pilihan-pilihan itu.

***

Baru beberapa langkah ia berdiri, tubuhnya ambruk jatuh ke lantai. Semua pandangan yang ia lihat seolah berputar mengguncang bumi yang ia pijak. Ia tidak sadarkan diri dan hidungnya masih mengeluarkan air bewarna hitam kemerahan yang sangat pekat.

Nuca membopong tubuh Lyodra sementara Ziva dan Keisya membuat pagar betis agar Nuca bisa leluasa keluar tanpa tersendat-sendat. Ia segera membawanya ke ruang UKS. Syukur saja jarak dari kantin dan UKS tidak terlalu jauh. Jadi, ia kuat untuk membopongnya sampai ke atas brankar.

Beberapa penjaga yang sedang bertugas di ruangan ini mulai melucuti dasi, sepatu, sabuk, dan kaos kaki yang dikenakan Lyodra. Setelah Bu Agseisa memastikan darah berhenti, ia memasang alat Rebreathing Mask pada hidung Lyodra. 

Wajah Lyodra putih pucat. Tekanan darahnya turun drastis dari biasanya. Kebanyakan orang-orang yang mimisan itu mungkin hanya setetes. Tapi Lyodra tidak, mungkin jika sempat ditampung menggunakan gelas, ia sudah mengeluarkan banyak darah hingga setengah gelas bahkan mungkin satu gelas penuh.

Setelah Nuca menghubungi ambulans, ia memanggil Tiara untuk menuju ke ruang UKS. Nuca maju-mundur, kakinya gemeteran. Nuca sama sekali tidak tahu apa penyebab Lyodra seperti ini lagi selain karena kelelahan. Yang ia tahu hanya itu, gadis itu sama sekali tidak bisa yang namanya kelelahan. 

Jangankan berdiri selama satu jam, terkena sinar panas matahari terlalu lama saja badannya sudah goyah karena, ya, memang tubuhnya sangat ringkih. Tidak mungkin, jika Lyodra tidak melakukan aktivitas yang berat hingga membuat dirinya drop seperti ini. 

BRAKKKK.

Suara pintu yang di dorong keras berhasil membuat semua orang yang berada di ruang UKS menoleh ke arah sumber suara. Tiara datang dengan deru napasnya yang ngos-ngosan lalu menelisik semua penjuru sekat-sekat tirai kamar. Ia menuju brankar  tempat di mana Lyodra terbaring lemah dipasang alat yang digunakan untuk membantu dalam pemberian terapi oksigen.

Tiara sedikit menggoncangkan tubuh Lyodra. "Ly lo kenapa?" tanya Tiara mengigit bibir bawahnya. "Ini gimana Bu? Kok, bisa kayak gini? Adik saya sudah lama nggak kayak gini. Apa nggak sebaiknya dibawa ke rumah sakit?" 

Bu Agseisa menenangkan Tiara. "Nuca sudah panggil mobil ambulans, kok, memang sebaiknya dibawa ke rumah sakit agar diberi penangan lebih lanjut karena kalau dibiarkan di UKS dengan alat terbatas takutnya terjadi hal yang tidak-tidak mengingat riwayat anemianya yang sudah parah. Kamu tenangi diri kamu, jangan panik," kata Bu Agseisa.

Peri dan Sayap - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang