Hallo gais, lama tak berjumpa, semoga masih ingat, ya! Hihihi. Btw, selama cerita ini sedikit lama update atau udah tamat, ada yang baca ulang kah?
Gimana pas baca ulang? Rasanya tetep sama kah? Atau sudah beda? Atau gimana kah?
Jujur, aku lagi ada dimasa-masa insecure nih buat nulis. But, aku tahu itu wajar untuk aku perbaiki lebih baik lagi kedepannya.
Jadi karena udah 500+ komen di bagian sebelumnya, sesuai janji aku, aku bakal kasih bonus chapter, yeayyy!!
Bonus chapter ini akan berlanjut kok gais, kalau dibagian ini juga udah 500 komentar. Jadi, semangat yaa ramein komentar disetiap paragrafnya☺️
Terima kasih dan selamat membaca!
***
Senin pagi bukan terasa seperti hari kutukan lagi bagi gadis berkulit putih pucat, Lyodra. Gadis itu tengah menengguk beberapa pil obat setelah menyelesaikan sarapannya dengan makanan favoritnya, ayam suwir. Ia menutup botolnya kemudian berjalan ke arah meja Ziva dan Keisya lantas duduk di antara mereka berdua. "Eh, lagi pada bahas apa, sih?"
"Film horor yang mau tayang hari ini, nih." Ziva menyodorkan ponselnya, memperlihatkan poster film itu kepada Lyodra.
"Ih, Lyo jadi kepingin nonton film horor deh."
"Kayak berani aja lu, Ly. Kemarin lo ke pasar malem aja langsung gila mbengi gegara masuk rumah hantu jadi-jadian."
"Ish, Lyo berani tahu! Ah, Lyo jadi kepingin nontonn."
"Yaudah, gimana kalau kita nonton hari ini, pulang sekolah?"
"Gue sih enggak ada kegiatan lagi," sahut Keisya. "Kalau lo, Ly?"
Lyodra berpikir sejenak, ia sedang berpikir bagaimana jika alangkah baiknya kalau dia mengajak Nuca saja. "Aduh, maaf banget deh, kayaknya Lyo pergi. Kalian berdua aja, ya."
"Yah, beneran enggak bisa?" tanya Keisya.
Lyodra merengutkan bibirnya lantas menggeleng. Sementara Ziva memecah percakapan tatkala melihat tempat alat tulisnya yang ternyata hanya berisi penghapus saja.
"Sumpah ya, dari kemarin si Richard emang bawaannya ngajak ribut terus," rengut Ziva.
"Kenapa lagi sih, njip?"
"Pensil sama spidol gue ilang."
"Sabar, nanti juga dikembaliin pensil sama spidol lo."
"Mustahil. Mending kita samperin aja? Sekalian, Lyo mau ketemu sama Nuca soalnya."
"Ah, yang ada gue tambah sebel kalau ketemu sama Richard, Ly," kata Ziva.
"Lah, emang lo mau ngapain, Ly?" tanya Keisya.
"Mau ngomong aja sama Nuca, Keisya enggak usah kepo, ih."
"Dih." Keisya menautkan alisnya sambil menahan tawa melihat ekspresi Lyodra yang menurutnya sedikit menggemaskan.
"Jadi enggak ada yang mau temenin Lyo gitu?"
"Sebenernya sih gue males ya, Ly. Cuma karena lo sahabat gue yang paling—"
"Ah udah ayo, Lyo gak sabar banget mau ketemu Nuca!!" seru Lyodra segera menarik tangan Ziva, sedangkan Keisya geleng-geleng kepala sendiri melihat dua sahabatnya sudah pergi ke kelas seberang.
***
"KENAPA SIH, KALAU LO PINJEM PENSIL ATAU PULPEN ENGGAK PERNAH DIBALIKKIN?" Gadis bertubuh pendek dengan rambut merah, kuning dan hijau yang juga pendek, berkecak pinggang lantas memasang wajah amarahnya bak burung merah di kartun angry birds.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Novela JuvenilIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
