64. Sebuah Permohonan

1.4K 151 126
                                        

Hallo! Jangan lupa untuk tekan tombol vote dan kasih komentar sebanyak-banyaknya, ya! Semoga kalian bisa hanyut dalam bagian ini dan juga bisa suka.

Terima kasih dan Selamat Membaca!


***

Dua mobil terparkir di depan rumah Lyodra. Lyodra yang sudah siap dengan tas ranselnya pun tersenyum sumringah. Berpamitan pada Bunga, dan Nuca segera membantu membawakan tas ransel ke dalam mobil.

"Nuca, Tante titip Lyo, ya. Inget, lho, Nuca. Jangan sampai Lyo kecapekan. Kalau jalan-jalan kasih jeda buat istirahat, ya."

Nuca tersenyum sambil mengangguk menyalami Bunga. "Iya, Tante."

Keisya, Ola dan Ziva keluar dari mobil milik Richard kemudian berbondong menyalami Bunga. "Pamit, ya, Tante."

"Iya, sayang. Entar kalau Lyo minta macem-macem yang bikin dia capek tabok aja, ya," pesan Bunga, sambil tertawa pelan.

Mereka melambai-lambaikan tangannya lalu segera masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai berjalan ke arah Kota Kembang yang akan menjadi tempat liburan mereka berenam.


***

"Nuca, kita kalau naik mobil kira-kira berapa jam nyampenya, sih?" tanya Lyodra. Melihat pemandangan ibu kota lewat jendela kanan dan kiri. Dari sudut bibirnya, ia terlihat sangat bersemangat sekali untuk pergi berlibur bersama teman-temannya.

"Tergantung. Bisa dua jam tiga puluh menit. Bisa juga tiga jam. Bisa empat malah bisa enam jam."

Lyodra menyipitkan matanya. "Hm... lumayan lama, ya, kalau gitu."

Nuca mengangguk. Lampu merah membuat mobilnya berhenti dan ia menoleh ke arah Lyodra. Menatapnya dengan saksama wajah cantiknya meski tak pernah absen untuk selalu tampil dengan wajah pucat. "Ly," panggilnya pelan. Membuat Lyodra berhenti celingak-celinguk dan menoleh dengan raut penasaran.

"Iya Nuca?"

"Lyodra...."

"Iya? Nuca mau bilang apalagi?" tanya Lyodra dengan nada yang lembut.

"Gue boleh genggam tangan lo?"

Sudut bibir Lyodra terangkat. Senyumnya mengembang begitu mendengarnya. Ia tentu saja dengan senang hati mengangguk, memberi tanda mengiyakan. Membalas tatapan Nuca yang selalu memberi kehangatan dan ketenangan. Ia bahagia, bisa melihat Nuca yang selalu memberi perhatian kecil seperti ini.

Nuca masih sama, sayapnya yang sigap melindungi, mengusap bulir air matanya, dan memeluknya ketika kaki tak bisa menopang dengan baik.


***

Keisya, Lyodra, dan Ziva tampak heboh melihat pemandangan villa milik nenek Richard yang ditinggalkan masih bersih dan terawat. Hawa segar dan dingin menyambut mereka dengan tenang. Ditambah pohon-pohon berumur tua dan kebun teh yang menghampar langsung ke pemandangan di bawah sana. Membuat mereka jadi tak bisa berhenti untuk melebarkan senyum.

Nuca, Ola apalagi Richard hanya memasang wajah biasa karena dulu mereka sudah sering ke sini. Namun, tetap saja. Interior yang kata Richard selalu diganti setiap setahun sekali selalu saja membuat mereka sedikit terperangah.

"Ayo sini, sini foto. Cissssss," seru Ziva kemudian Lyodra dan Keisya bergaya dengan tangan membentuk gambar V dan cekrek! Sebuah jepretan manis membentuk sebuah kenangan di antara mereka bertiga.

Richard memanggil mereka. "Sini, tripodnya sudah siap, nih!!!" seru Richard mengundang semua untuk foto bersama.

Mereka semua berfoto di depan villa. Kemudian setelah selesai, mengambil barang-barang untuk dimasukkan ke dalam kamar.

Peri dan Sayap - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang