Plis. Usahakan komentar lebih dari dua ratus 🥺😭 kemarin masa anjlok banget. padahal aku dah rajin update, lho. Atau kalau aku ada salah bawa alur, bilang ya gais. Plis banget kerjasamanya🥺🙏🏻 nggak kasihan apa sama aku;( haha canda sahabat. Jangan dibawa serius.
Oiya salurin bantuan buat adek kelasku yuk? Dia sangat-sangat butuh bantuan, jadi adek kelas aku itu ikut event. Nah, bobotnya itu dinilai dari yang paling banyak like. Dia udah latihan berhari-hari, hasilnya juga keren banget!!! Jadi menurut aku sendiri agak nggak adil aja kalau dinilai dr bobot like. Karena kalau punya relasi dikit sementara hasilnya keren banget, kan, kasian :( jadi kalau temen-temen lyoca mau bantu, tolong dm @lyoca.story ya. Terakhir tanggal 24 soalnya hehehe, terima kasih orang-orang baik!
Terima kasih banyak dan
Selamat Membaca.
***
"Selamat pagi, Ola dan Niki."
Lyodra memandangi ikan-ikannya yang semakin hari bertambah gemuk. Ekornya yang menari-nari, membuat hiburan tersendiri untuknya. Sebelum melakukan rutinitas di pagi ini, seperti biasa Lyodra harus menabur pur ikan agar hewan yang dianggap anak itu bisa sehat, kuat, sentosa dan bahagia.
"Makan yang banyak, ya, Ola dan Niki," ujar Lyodra kemudian menutup toples pur ikannya lagi.
"Ayo hapalan."
"Golongan logam alkali apa aja coba jawab?"
Lyodra tersenyum bangga, seolah ikan-ikannya itu baru menjawab soal kimia yang menurutnya paling mudah.
"Ola sama Niki nanti ikut Mama ke rumah Papa, ya?"
Lyodra tersenyum kembali, seolah ikan-ikannya itu pengertian. "Iya, soalnya minggu depan Mama mau pergi. Nah, kalian sama Papa, ya?"
Pluk!
Lyodra menepuk jidatnya sendiri. "Kan, hari minggu Nuca udah pergi ke Solo." Bibirnya manyun, ia menatap sendu ikan-ikannya.
"Yaudah, besok sama Tante Tiara dulu, ya? Oke?"
Lyodra mengangguk. "Oke, deh, kalau begitu."
Setelah memastikan ikan-ikannya mengerti. Ia kemudian membereskan tempat tidurnya. Mulai dari mengganti seprai, menata buku-buku sesuai kelompok, membersihkan kaca jendela, menyapu dan mengepel.
Merasa napasnya kembali berderu-deru dan jantungnya berdetak lebih keras hingga telinganya bisa mendengar itu. Ia pun segera membawa obat-obatannya ke lantai bawah, berencana sekalian membuat sarapan instan.
***
Lantai bawah yang menjadi penghubung antara dapur, meja makan dan ruang tengah bisa memperlihatkan aktivitas di rumah ini yang begitu damai.
Bunga sedang sibuk menghias kue. Ya, semenjak dia berhenti bekerja, ia jadi tertarik dengan dunia perdapuran. Entah sayur, roti, kue basah atau apapun itu, ia selalu senang menghabiskan waktunya di dapur.
Sementara Tiara yang terlihat sedang sarapan dengan sehelai roti kini sudah duduk di bangku meja makan, ditemani buku-buku penghantar sukses ujian nasional. Setahunya, semenjak Lyodra memberi nasihat waktu itu, kakaknya jadi sedikit ada kemajuan dan mulai fokus pada ujiannya.
Melihat keadaan seperti ini membuat Lyodra tersenyum bahagia. Dulu, mamanya sangat sibuk sekali saat weekend. Papanya? Jangan ditanya. Sedangkan Tiara? Ya, kalau tidak manggung pasti di kamar terus. Jarang sekali ia bisa melihat keluarga lengkapnya di hari libur. Mengobrol pun jarang. Makanya melihat ini suasana hati Lyodra ikut tenang dan bahagia. Hal yang sangat simpel, saat mensyukuri apa yang dilihatnya. Seketika, ia jadi terngiang kata-kata Nuca saat di rooftop hotel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Genç KurguIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
