Ciee yang kemarin dibuat sebel sama Lyo yang cerewetnya minta ampun wkwk.
Aku tebak kalian pasti punya temen yang nyebelinnya kek gini, ada kan?
Pasti pernah ngerasain kan punya temen yang sukanya ngoceh terus nggak ada hentinya sampe kita yang dengerin capek sendiri wkwkwk.
Apalagi kalau suka marah2 nggak jelas.
Buat bagian ini Komen lebih dari 200 bisa? Jangan lupa vote juga ya buat naikin peringkat cerita ini.
Follow author dulu vellnya biar kalau sewaktu-waktu diprivat kalian masih bisa baca cerita ini.
Terima kasih dan Selamat Membaca!
***
Lyodra langsung membuang tubuhnya ke atas ranjang. Ia melupakan debu dan seragamnya yang masih terpakai.
Hari ini, tubuhnya benar-benar lelah sekali. Apalagi bibirnya yang sedari tadi terus mengoceh panjang lebar seharian.
Pandangannya menatap ke atas langit. Jujur, bayang-bayang Nuca saat di mobil tadi masih belum bisa hilang dari pikirannya. Kedua sudut bibirnya merekah, penuh haru sekaligus kebahagiaan.
Ia lalu memejamkan matanya sebentar untuk memutar memorinya saat di hutan pinus.
Lagi-lagi, Lyodra mengangkat kedua sudut bibirnya. Hatinya yang tadi dibuat jengkel berakhir jadi gila sendiri mengingat kejadian itu.
Apalagi, ketika mengingat dirinya yang saling mencium kening. Ah! Mengingat kejadian itu jadi membuat dirinya malu sendiri.
Apalagi saat....
"LYODRA... JANGAN LUPA DIMINUM OBAT SAMA VITAMINNYA!!"
DEG
Suara teriakan Bunga berhasil membuat dirinya kembali membuka mata lalu terpaksa menghentikan aktivitasnya di atas ranjang.
Lyodra berdiri, segera menarik tasnya untuk mengambil obat-obatan dan berjalan ke arah nakas untuk meraih segelas air minum.
Setelah menenggak obat dengan air, ia menarik bekal makan dari dalam tasnya bermaksud untuk segera dicuci. Namun, tiba-tiba pikirannya jadi tertuju pada ucapan Edi saat sarapan pagi tadi.
'Justru kalau kebanyakan zat besi malah jadi beracun, Ly,'
Batin Lyodra mulai membuat tanya. Begitu juga dengan otaknya yang mulai berpikir keras kembali. Rasa-rasanya, ia seperti pernah mempelajari tentang sistem peredaran darah dan kelainan lainnya, yang berhasil membuat dirinya terdiam dalam beberapa menit.
"Mungkin, memang Papa yang salah. Masa tega banget Lyo harus kurangi makan-makanan yang tinggi zat besi."
Jujur, ia sedikit tersinggung saat Edi malah menyuruhnya untuk mengurangi makanan yang mengandung tinggi zat besi-yang mana sangat dibutuhkan sekali untuk penderita anemia sepertinya.
"Tapi masa Papa bisa sampai nggak tau makanan apa yang bagus buat penderita anemia seperti Lyo? Penyakit Lyo, kan, udah lama banget," bingungnya.
"Terus, kenapa coba Lyo baru sadar kalau dari dulu Lyo sering dimasakin makanan yang rendah zat besi. Bahkan, yang nggak ada sama sekali?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Peri dan Sayap - END
Teen FictionIni kisah tentang Lyodra Margalova Kayreen, gadis berkulit putih pucat yang sukanya banyak tanya. Ini juga kisah tentang Giannuca Diradja Rilasso, laki-laki yang mengecap dirinya sebagai sayap pelindung untuk perinya, Lyodra. * Sudah siap baca cerit...
