52. Sebuah Arti Peri dan Sayap

1.2K 170 244
                                        

Ayo dong banyakin vote dan komentarnya.

Oiya,  jangan lupa follow vellnya biar kalau sewaktu-waktu diprivat kalian masih bisa baca ulang cerita ini 😊🥰

Terima kasih dan

Selamat Membaca!

***

Langit semakin sore, matahari semakin terbenam ke arah barat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit semakin sore, matahari semakin terbenam ke arah barat. Lyodra memastikan kembali jari tangannya yang masih tremor. Kepalanya menyender pada lengan Nuca. Sedangkan Nuca? Laki-laki itu kini terpejam karena mengantuk. Ya, baru saja Lyodra diambil darahnya untuk pemeriksaan laboratorium dan sekarang, mereka tengah menunggu di ruang tunggu untuk mendengar hasilnya dari Dokter Lala.

"Nyonya Lyodra Margalova Kayreen," panggil suster dari ambang pintu.

Lyodra dan Nuca pun akhirnya masuk untuk menemu Dokter Lala.

"How are you, Ly?" sapa Dokter Lala sambil membuka selembar kertas hasil pemeriksaan tadi.

"Ya... seperti biasa, Dok," jawab Lyodra lesu. Kemudian, ia menoleh singkat ke arah Nuca.

"Apa yang kamu rasain akhir-akhir ini? Ada keluhan?" tanya dokter Lala kembali.

Lyodra menyipitkan matanya, berusaha mengingat apa yang dirasakan dua minggu ke belakang. "Yang pasti Lyo sering ngerasa lemes banget, nyeri, pusing, terus...."

"Detak jantung rasanya seperti tidak beraturan?" tebak Dokter Lala. Wanita setengah Australia itu menyimak keluhan yang dialami gadis itu.

"Ya, kadang telinga Lyo bisa denger detak jantung Lyo. Sesek banget rasanya dan itu sering," jelas Lyodra.

"Terakhir mimisan cuma waktu itu atau sempet mimisan lagi?"

"Terakhir waktu itu."

"Obat sama vitamin diminum sesuai jadwal, kan?"

"Lyo teratur, kok. Cuma tadi pagi aja kelupaan...," jawabnya jujur.

Dokter Lala kembali membaca hasil laboratorium tadi. "Hb-mu rendah banget, Ly. Pasti hari ini kamu lemes banget, ya? Hari ini tranfusi darah, ya?" tawar Dokter Lala setelah membaca hasilnya.

Lyodra menggeleng. "Nggak usah, deh, Dok. Emangnya separah apa hasil lab-nya?"

"Hb-mu dibawah enam. Bahaya kalau enggak segera tranfusi."

Entah mengapa, mendengar itu. Suasana hati Lyodra berubah menjadi buruk. "Cuma anemia, kan? Nggak lebih, kan? Kasih suplemen aja pasti Lyo juga mendingan, kok, Dok." sentak Lyodra. Wajahnya terlihat frustasi.

Peri dan Sayap - ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang