56. Elektrokardiogram

1.2K 162 97
                                        

Halo!  JANGAN LUPA VOTE DAN BUDAYAKAN KOMENTAR DI SETIAP PARAGRAF, YA!

TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA!

***

Hari ini, Lyodra menolak ajakan Nuca untuk diantar check up ke rumah sakit. Ya, walaupun Nuca tadi terus memaksa ingin mengantar menggunakan motor yang katanya baru dibelikan sang Bunda. Lyodra tetap menggeleng dan memilih pulang bersama Tiara.

Jalanan ibu kota Jakarta tumben sekali cukup lenggang sore ini. Kanan-kiri dari kaca jendela mobil, bisa memperlihatkan gerobak pedagang-pedagang yang mulai membuka dagangannya di pinggir jalan.

Tidak ada yang membuka obrolan di dalam mobil ini. Masing-masing hanyut memandangi jalanan kota. Tiara yang sadar oleh keheningan ini pun menoleh ke arah Lyodra.

Sedikit yang ia tangkap dari penglihatannya. Sepertinya, Lyodra memang sedang banyak pikiran. Wajahnya lebih pucat dari kemarin. Bahkan, pandangannya pun terlihat kosong.

Menurut penuturan Keisya tadi, sejak pagi Lyodra jarang sekali berbicara. Ia hanya duduk di bangkunya, berbicara sebutuhnya  dan sering uring-uringan sambil menenggelamkan kepalanya di atas meja.

Tiara menyenggol lengan Lyodra bermaksud agar gadis itu mengarah ke arahnya.

"Kenapa?" tanya Tiara sedikit cemas. Ia jadi tidak tega melihat Lyodra yang juga terlihat seperti sedang menahan rasa sakit.

Lyodra yang ditanya pun menoleh ke arahnya kemudian menggeleng tanpa bersuara. Ia lalu menoleh ke arah samping lagi dengan maksud tak ingin menunjukkan rasa sakitnya. Namun... kalau boleh jujur, dibalik gelengan kepalanya tadi, Lyodra sedari pagi memang tidak baik-baik saja. Dadanya sering sekali terasa sesak. Bahkan sampai sekarang dirinya kesulitan untuk bernapas.

Kepalanya juga terus-terusan membuat pening. Begitu juga dengan sendi-sendinya yang terasa nyeri, rasa itu tidak pernah absen membuat dirinya terasa letih dan lemas setiap harinya.

***


Biasanya jika Lyodra checkup. Ia langsung ke rumah sakit setelah pulang sekolah. Namun, kali ini Lyodra memilih pulang dulu untuk membersihkan tubuhnya sebentar, baru setelah itu berangkat ke rumah sakit.

Setelah dirasa rapih, ia menarik slingbagnya. Kemudian berjalan ke arah kaca cermin berniat untuk melihat penampilannya sekali lagi.

Lyodra tersenyum. Ia merasa dirinya sudah cantik sekarang. Switer tebal berwarna krem dan baju putihnya yang selutut sangat pas sekali saat dipadukan.

Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Pantulan darah yang mengalir dari hidungnya membuat Lyodra reflek mengusap cairan itu menggunakan tangan kanannya.

Butiran air mata tak menunggu untuk menggumpal terlebih dahulu. Pikirannya yang kacau sejak pagi membuat air matanya keluar tanpa permisi.

Lyodra menangis. Ia semakin kebingungan pada penyakit yang sedang ia rasakan.

Kaca cermin di sana bahkan seperti mengejek bahwa hidupnya tidak pernah bisa terlihat baik-baik saja.

Kaca cermin itu juga seolah berkata bahwa hidupnya hanya dipenuhi rasa sakit, yang ia sendiri tidak tahu rasa sakitnya akan berakhir sampai kapan.

Lyodra menepuk dadanya yang berkali-kali terasa sesak sambil terus menyapu cairan merah kehitaman yang masih keluar dari lubang hidungnya.

Tok... Tok....

Suara kamar yang diketuk oleh Tiara.

"Ly, gue udah siap. Gue tunggu di mobil, ya," ucap Tiara lalu terdengar suara derap langkah dari depan kamarnya yang menunjukkan Tiara mulai turun dari atas tangga.

Peri dan Sayap - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang